Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
8. Kenangan Bersama


__ADS_3

Kenangan yang terjalin cukup lama memang akan sulit jika dilupakan, apalagi jika itu sesuatu yang berharga dan bermakna.


"Bi, ayo main kesini." Serunya dengan ceria sembari melambaikan tangan pada kedua temanya.


"Jangan lari-lari nanti jatuh." Teriaknya melihat gadis itu berlari dengan ceria.


"Auwh, sakit.." Ucap gadis itu merintih kesakitan karena terjatuh.


Ia memegang lutut yang mulai berdarah itu, matanya mulai berair karena menahan rasa sakit itu.


Kedua anak laki-laki yang ikut bersamanya berlari dengan cepat menghampiri gadis itu dengan ekspresi khawatir.


"Kan aku sudah bilang jangan lari nanti jatuh, jatuh beneran kan sekarang." Ucap anak laki-laki itu sedikit marah begitu melihat luka gadis itu.


"Sakit Bi," Ucapnya dengan memegang lututnya yang berdarah sambil menatap wajah Bian. "Ke-kenapa kamu jadi marah sama aku?" Keluh gadis itu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Bian terlihat merasa bersalah karena sudah marah, ia juga sedikit kelabakan begitu melihat anak itu menangis.


"Bian gak marah kok, Bian cuma khawatir Del sama kamu." Kata Adnan mencoba menenangkan Adel yang terus menangis.

__ADS_1


"Benar, aku gak marah kok. Tadi itu cuma kaget dan khawatir melihat luka dilutut kamu." Balas Bian dengan nada lembut.


"Bener gak marah?" Adel mulai berhenti menangis.


"Iya benar, sekarang kita pulang ya? ayo naik ke punggungku." Kata Bian.


Dengan dibantu oleh Adnan, Adel mulai menaiki punggung Bian, mereka bertiga pun akhirnya pulang.


...


Di dalam kantornya, Bian menatap foto masa kecil kedua sahabatnya yang tersimpan dengan rapi di atas mejanya. Ia tersenyum simpul melihat foto tersebut, sejenak merasa bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya dulu.


"Sebenarnya besok aku harus pulang ke rumah, tapi yah.. sudahlah bisa aku undur sehari, atau malamya juga bisa." Gumanya menatap foto itu sembari mengingat kembali soal permintaan Adel.


Ketika ia mengembalikan foto masa kecilnya ke tempat semula, ia tak sengaja menyenggol kotak disampingnya hingga kotak itu jatuh dan mengeluarkan isinya.


Ia maraih isi kotak tersebut dan mencoba mengembalikan ke tempatnya, namun tanganya terhenti begitu melihat suatu benda yang keluar dari kotak tersebut, yang tak lain adalah sebuah kalung.


Bian mengambil kalung tersebut. Ia cukup lama menatap kalung itu seolah teringat akan sesuatu. Kalung karet berwarna hitam dengan bandul berbentuk kunci dan di atasnya bertuliskan huruf K.

__ADS_1


"K?" Bian mencoba mengingat kembali seputar kalung tersebut.


"Ini kenapa bisa ada disini ya? perasaan aku tidak membawanya kesini deh?" Ucap Bian merasa heran melihat kalung tersebut ada di atas meja kantornya.


"Tapi, kenapa aku berasa familiar ya sama kalung ini?" Ucapnya lagi, namun tetap tak mengingatnya dan kembali memasukan kalung tersebut ke kotaknya semula.


......................


"Wah.. kalungnya bagus banget.?" Ucap salah seorang rekanya melihat perempuan tersebut tengah memandangi kalungnya dengan serius.


"Ah.. terimakasih," Balas perempuan itu yang tersipu karena sudah memandangi kalungnya terus.


"Itu kalung yang mbak bawa dari panti asuhan dulu ya?"


"Iya, aku juga tidak tau kenapa masih menyimpanya, mungkin ada kaitanya sama ingatanku waktu kecil dulu?" Jawabnya.


"Oh gitu, tapi kayanya sih iya kan, soalnya benda ini sudah mbak bawa dari panti asuhan dulu."


"Sepertinya sih iya, tapi aku masih bingung dengan kalung ini, kenapa dulu aku sangat menjaganya ya?" Ucapnya bingung.

__ADS_1


"Mungkin saja itu hadiah dari orang yang mbak sayang? atau dari orang yang spesial?"


Perempuan itu terdiam mendengar ucapan dari temanya. Ia mencoba mengingat kembali kenangan itu.


__ADS_2