Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
114. Merindukannya


__ADS_3

"Pak Bian lama juga ya ternyata perginya? Hampir lebih dari seminggu lho beliau pergi, dan sampai sekarang beliau masih belum juga kembali?" Ucap salah seorang rekan Kinan, disela-sela makan siang mereka.


"Ya wajar lha, beliau kan memang super sibuk, lagi pula bukanya beliau ditugaskan disini cuma sementara?" Timpal lainnya.


Karena ucapan itu, entah mengapa membuat Kinan terdiam. Ia menghentikan makannya dan menjadi terpikirkan akan kalimat lyang dilontarkan oleh rekannya itu.


"Benar juga ya, mana mungkin beliau mau ditempatkan disini selamanya, mana posisi beliau sebagai cucu pemilik hotel ini juga, so pasti beliau akan memiliki jabatan yang lebih tinggi dan tempat itu pastinya bukan disini." Ujar lainya yang ikut setuju.


Pembahasan soal Bian dari rekan-rekannya, membuat Kinan berada dalam situasi yang sulit, terlebih pemahasannya yang tiba-tiba membuatnya kepikiran. Tentang Bian yang suatu saat nanti akan pindah dari hotel cabang ke kantor pusat.


"Aku sudah memprediksi hal itu akan terjadi, tapi hanya dengan mendengarnya langsung seperti ini, entah kenapa membuat hatiku sakit?"


Meski ia tau hari itu akan tiba suatu hari nanti, namun Kinan yang sudah mempersiapkan diri dan hatinya, tetap belum merasa lega.


Padahal aku tau bakal seperti ini, kenapa...


Ia memegang dadanya yang tiba-tiba merasakan sakit.


"Mbak Kinan kenapa? Apa mbak Kinan sakit?" Tanya salah satu rekannya yang bernama Aura.


"Ah, enggak kok, kenapa kamu bisa mikir seperti itu?" Kinan yang tersadar dari lamunanya, menjawab pertanyaan Aura.


"Ya habisnya mbak Kinan dari tadi hanya diam saja, jadi kukira mbak Kinan lagi sakit." Balas Aura.

__ADS_1


"Mungkin mbak Kinan lagi kecapean, karena dia kan ngehandle sendirian selama pak Bian nggak ada." Timpal lainnya.


"Enggak lha, kan dibantu juga sama si mbak Shiva."


Tiba-tiba suasana menjadi hening ketika salah seorang rekannya menyebut nama Shiva. Saat itu, semua rekan-rekanya yang sedang makan siang bersama Kinan tampak saling curi pandang karena merasa bersalah menyebut nama Shiva, mengingat sempat ada konflik yang terjadi antara Kinan dan Shiva sebelumnya.


"Duh, hari ini kantin sedikit sepi ya?" Ucap salah satu rekannya yang mencoba mencairkan suasana.


"Iya benar, hari ini terlihat lebih sepi dari biasanya." Timpal lainya dengan senyum canggung.


Kinan, hanya diam meski rekan-rekanya mencoba membuat suasana lebih hidup. Ekspresinya seolah tak memperdulikan hal itu dan lebih memikirkan hal lainnya. Hingga makan siang berlalu begitu saja, ia masih melamunkan soal isi pembicaraanya bersama rekan-rekannya saat dikantin. Ia menghela nafas panjang dan mencoba menenangkan hatinya.


"Lebih baik aku fokus kerja dulu." Ucapnya yang akhirnya mencoba melupakan sejenak hal yang menggangu pikirannya itu.


....


Namun, Dilema yang dirasakan oleh Kinan, juga dirasalan oleh Bian yang saat ini masih berada di apartemennya yang ada di jakarta. Karena masih belum pasti kapan akan pindah ke kantor pusat, membuat Bian belum memberitahukan berita ini kepada Kinan, meski sejatinya Bian sendiri tak ingin pindah ke kantor pusat, namun karena tugasnya yang sebenarnya hanya sementara di kantor cabang, membuatnya jadi dilema dan terus kepikiran.


Kepindahanya yang akan kembali ke kantor pusat juga belum ia ceritakan pada Adel, yang merupakan sahabatnya sendiri, meski Adnan yang juga sahabatnya sudah ia beritahu paling awal, Bian seperti sedang menimbang dan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Adel soal ini.


"Aku harus mencari solusi soal ini, karena sudah tidak ada waktu lagi." Ucap Bian yang tengah memikirkan solusi dalam mengatasi masalahnya yang hendak kembali ke kantor pusat, terlebih ketika hendak mengatakannya pada Kinan kedepannya.


"Apa dia akan marah? atau justru dia akan merasa kecewa padaku?" Tiba-tiba saja ia terfikirkan dengan reaksi Kinan saat ia mengatakan kepindahannya.

__ADS_1


Bian menghela nafas panjang memikirkan persoalan hubungannya dengan Kinan.


"Apa kita akan baik-baik saja saat berhubungan jarak jauh nanti? Tidak, kenapa aku takut gini sih.." Bian menepis rasa ketakutanya segera saat memikirkan hal yang belum terjadi.


Di dalam apartemennya, bersama dengan berkas-berkas kerjaannya yang menumpuk di atas mejanya. Bian yang kini tengah sendiri setelah ditinggal oleh Adel dan Adnan, kembali melamunkan hubunganya bersama Kinan yang kini telah bersemi.


"Aku merindukannya..." Dengan memasang ekspresi rindunya pada Kinan, Bian hanya bisa terus menahannya dengan helaan nafas panjangnya yang seolah menjadi pelampiasanya yang kini sednag menahan rasa rindu.


"Apa begini ya rasanya kalau orang yang sedang jatuh cinta itu? Terus merindukanya dan terus memikirkan wajahnya seperti ini?" Gumamnya mengomentari dirinya sendiri yang terus merasa aneh.


....


Ada hal yang harus Bian hadapi juga sebelum mengatakannya pada Kinan perihal kepindahannya ke kantor pusat, karena akan ada hari dimana dia akan bilang pada kedua sahabatnya tentang status hubunganya bersama Kinan.


"Aku kehilangan timing untuk mengatakan soal ini pada mereka berdua soal hubunganku ini. Kira-kira reaksi mereka akan gimana ya kalau tau soal ini?" Ucap Bian memikirkan hubunganya dengan Kinan yang suatu hari nanti hendak ia beritahu pada kedua sahabatnya.


"Dia lagi apa ya sekarang?" Dalam renungannya, ia terpikirkan soal Kinan yang kini sedang jauh darinya.


Bian terpaku, merenung memikirkan Kinan. Pikirannya selalu terfokus pada sosok Kinan, hingga membuat dirinya menyingkirkan sejenak pekerjaan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Wah, sepertinya aku benar-benar gila." Ucapnya sembari mentertawakan dirinya sendiri yang terus bersikap aneh.


Rasa yang tengah meluap dalam hatinya yang saat ini tak bisa terkontrol, membuat keduanya, baik Bian dan Kinan terus saling memikirkan keberadaan masing-masing. Dari jarak dan tempat yang berbeda, keduanya saling merindukan keberadaan masing-masing.

__ADS_1


Hubungan yang sedikit berbeda, dengan kondisi yang berbeda, dan status yang berbeda pula dari hubungan seperti pada umumnya, membuat tantangan tersendiri bagi Bian dan Kinan yang sama-sama baru memulai sebuah hubungan percintaan, atau lebih tepatnya baru pertama kalinya keduanya memulai berpacaran.


Bisa meraskan jatuh cinta dan berpacaran untuk pertama kalinya, membuat perasaan keduanya merasa bingung, aneh, namun juga senang di saat bersamaan. Kini, keduanya sedang memahami arti dari perasaan itu.


__ADS_2