Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
18. Kedatangan Bian


__ADS_3

Ruangan kamar yang tampak luas, dengan fasilitas yang menampakkan kemewahan, terpampang nyata begitu Bian masuk ke dalam kamar yang disiapkan khusus untuknya.


"Kami sudah menyiapkan semua yang anda butuhkan di dalam kamar ini. Maaf jika masih banyak kekurangnya, jika ada yang ingin anda tanyakan atau komplain pada kami, akan segera kami perbaiki." Kata Kinan begitu tiba di dalam kamar dan menjelaskan semua detail kamar yang akan digunakan oleh Bian.


Bian diam menatap setiap sudut kamar yang disiapkan untuknya.


"Tolong siapkan makan siang untukku." Pintanya, tanpa berkomentar soal kamarnya.


"Baik, akan segera kami siapkan, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Kinan pada keduanya.


"Tunggu.." Tahan Bian pada Kinan yang hendak keluar, lalu ia berbalik menatap ke arahnya.


"Setelah makan, aku mau melihat proposal dan audit soal hotel, kamu sudah menyiapkanya kan?"


Kinan sedikit menelan salivanya, ekspresinya sedikit menegang melihat aura wajah Bian yang berubah serius.


"Iya, saya sudah menyiapkanya, akan segera saya bawa berkasnya ke ruangan anda. Kalau begitu saya permisi." Pamitnya lagi, lalu benar-benar melangkah keluar dari kamar.


Begitu keluar, dia menghela nafas seolah merilekskan dirinya dari situasi tegang tadi. Ia berjalan cepat menyiapkan apa yang diminta oleh Bian.


Sedangkan Bian yang tengah di dalam kamar bersama sekretarisnya, yaitu Dimas tengah berdiskusi sesuatu yang tampak serius. Dimas mencatat semua apa yang di intruksikan oleh Bian padanya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Kata Dimas kemudian, menunduk hormat pada Bian sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar.


Setelah Dimas pergi, Bian melepaskan jas dan dasi yang menempel pada tubuhnya saat ini, lalu menaruhnya dengan rapi di atas ranjang. Dengan menggulung lengan bajunya dan membuka sedikit kerah kemejanya, ia menatap sekeliling ruangan miliknya.


Setiap sudut tak lepas dari pandanganya, sebagai orang yang dipercaya untuk mengawasi hotel ini, Bian benar-benar tak melewatkan pandanganya sedikit pun.


Dia kemudian mengangguk kecil seolah puas dengan fasilitas kamar hotel yang di berikan padanya.


Tok.. tok.. , suara ketukan dua kali dari arah luar, mengalihkan pandanganya pada pintu kamarnya dan perlahan berjalan ke arahnya untuk membuka pintu kamarnya.


Terlihat Kinan bersama seorang staff masuk bersama ke dalam kamar, mereka tengah membawa sebuah makanan yang di minta oleh Bian tadi. Dengan hati-hati mereka meletakkan makanan di atas meja.


"Kami sudah menyiapkan makanan yang anda minta, ini makanan terbaik yang kami punya, semoga anda berkenan dan suka dengan makananya." Kata Kinan.


"Lalu, ini juga berkas yang anda minta tadi." Ucapnya lagi sembari menyerahkan berkas yang sedari tadi dipegangnya.


"Taruh berkasnya di atas sana." Tunjuknya ke arah ranjang.


Kinan perlahan menaruh berkasnya di atas ranjang, sesuai permintaan Bian. Ia menghampiri Bian lagi begitu selesai menaruh berkasnya.

__ADS_1


"Maaf, apa masih ada yang anda butuhkan lagi?" Tanya Kinan.


"Tidak ada, kalian boleh keluar. Nanti aku panggil, kalau ada yang aku butuhkan." Balas Bian.


"Baik, kami berdua permisi dulu, silahkan menikmati makananya." Pamit Kinan dan staff tersebut dengan sopan.


Kinan dan salah seorang staff tersebut akhirnya keluar bersama dan meninggalkan Bian seorang diri di dalam kamar.


...


Di dalam tempat istirahat para staff hotel, terlihat semua staff hotel tengah istirahat makan siang dengan bergantian, hampir dari mereka menunggu respon dari pemimpin mereka, tentang pelayanan yang mereka berikan hari ini apakah memuaskan untuk beliau atau tidak, mengingat betapa bekerja kerasnya mereka selama beberapa hari ini untuk menyambutnya.


"Bu, orang seperti apa CEO itu?" Tanya salah seorang karyawan pada Kinan.


"Dia ganteng." Kagum yang lainya, yang kebetulan dia adalah staff yang mengantar makanan bersama Kinan tadi, jadi dia bisa melihat langsung wajah Bian dari dekat.


"Iya, dia ganteng, gila sih proporsi tubuhnya keren banget."


Semua tampak menggila dengan kehadiran dan sosok Bian.


"Bu Kinan beruntung banget karena bisa bertatapan langsung dengan beliau, pasti enak tuh." Celetuk lainya setengah menggoda.


Kinan hanya tersenyum simpul mendengarnya.


"Iya sih, semangat ya bu, ibu keren banget sih bisa mengatasi ini semua." Puji lainya.


Lagi-lagi Kinan hanya bisa tersenyum mendengar pujian rekan-rekanya.


Ada sosok yang tampak tak suka dengan hal tersebut, Shiva mendecak tak suka pada pujian rekan-rekanya pada Kinan.


Aku yang berusaha, kenapa jadi dia yang mendapat pujian. - Batinya kesal.


...


"Kamu kenapa? kok gak tenang gitu sih?" Tanya Shiva melihat Kinan yang sedari tadi tak bisa diam karena merasa tegang.


"Aku tegang banget nih, laporanku kira-kira bisa diterima sama beliau tidak ya?" Kata Kinan.


"Eiyy, seorang Kinan gak percaya diri?" Goda Shiva mencoba menenangkanya.


"Aku juga manusia kali Va, bohong banget kalau gak gugup."

__ADS_1


Belum selesai mereka mengobrol, sudah ada panggilan untuk Kinan dari Bian yang menyuruhnya segera datang ke kamarnya.


"Duh, baru juga di omongin." Gumam Kinan, mencoba menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


Ia bergegas ke arah kamar Bian. Namun, langkahnya sedikit melambat begitu mau sampai di depan pintu kamar Bian, ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalamnya.


"Maaf pak, anda memanggil saya?" Ucapnya sembari mengetuk pintu kamar.


Setelah itupun pintu kamar terbuka setelah Dimas membukakan untuknya. Begitu ia masuk, terlihat Bian tengah duduk di salah satu kursi dengan memegang sebuah kertas laporan itu di tangannya. Mata Kinan tak bisa bohong, ia sedikit gugup namun mencoba untuk tetap tenang.


"Kinan, itu nama kamu kan?" Kata Bian kemudian yang masih menatap kertas laporan tersebut.


"I-iya benar, itu nama saya." Jawab Kinan gugup.


"Apa kamu yang membuat laporan ini?" Tanya Bian, yang kini menatap wajah Kinan.


"Benar, saya yang membuat laporanya." Jawabnya lagi.


Setelah itu hening beberapa detik, hingga membuat Kinan bingung.


Apa ada masalah ya? kenapa dia jadi diam? - Batin Kinan merasa bingung dengan situasinya saat ini.


"Maaf pak, apa ada kesalahan dalam laporanya?" Tanya Kinan mencoba memberanikan diri.


"Ada." Balas Bian singkat, dan membuat Kinan jadi tambah gugup.


"Kalau begitu, biar saya perbaiki." Ucap Kinan.


"Tidak usah, sudah baik laporanya."


"Maaf?" Bingung Kinan dengan jawaban Bian yang terlihat berbeda.


"Aku bilang, laporan yang kamu buat sudah bagus. Hanya... ada sedikit celah dibagian pemasaran, perbaiki disana karena itu sudah tidak efektif jika diterapkan saat ini." Jelas Bian.


"Dan nanti, tolong laporanya kirimkan lewat emailku juga. Bagian itu perbaiki sebelum di kirim kembali, aku mau di kirim semua ya.." Kata Bian sembari memberikan laporanya pada Kinan.


"Baik, akan segera saya perbaiki dan kirimkan laporanya pada anda." Jawab Kinan dan menerima kembali laporanya.


"Apa kamu yang mendekor ulang hotel ini?" Tanya Bian.


"I-iya"

__ADS_1


Bian mengangguk mengerti.


"Ada yang membuatku penasaran.." Bian agak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


__ADS_2