
Pukul 8 kurang 35 menit, sebelum keberangkatan, mereka akhirnya tiba di bandara. Begitu sampai, Bian dan Dimas langsung membantu mengeluarkan barang-barang milik Adel dari dalam bagasi mobil.
"Duh, aku gak mau pulang.'' Keluh Adel seperti enggan untuk kembali begitu tiba di bandara.
"Jadi kamu mau disini terus?'' Timpal Bian.
"Iya, maunya sih begitu. Boleh kan, ya?'' Kata Adel yang masih enggan untuk pulang.
"Boleh aja, sih. Tapi apa dibolehin sama tante Risa dan om Rudy?''
''Yah, jangan bawa mama sama papa dong. Itu sih, udah pasti gak dibolehin, tapi pekerjaanku juga gak disini, sih.'' Jawabnya yang merasa tak mungkin itu terjadi.
"Yaudah tinggal kerja sama aku aja, simpel, kan? Gimana, apa kamu tertarik buat join?'' Ujar Bian tersenyum menatap Adel, dengan sedikit menggodanya.
Adel ingin memukul lengan Bian yang sedang menggodanya, namun terhenti ketika tersadar akan tingkah Bian hari ini yang sedari tadi terus menggoda juga meledeknya, apalagi ekspresinya yang terlihat lebih cerah dibanding tadi waktu jalan-jalan.
"Bi, kamu lagi ada sesuatu yang membahagiakan, ya hari ini?'' Ucapnya kemudian menatap Bian penuh rasa penasaran.
"Enggak tuh, memangnya kenapa?'' Tanya balik Bian merasa bingung.
''Masa sih?,'' Adel menatap Bian dengan ekspresi tak percaya. ''Hari ini kamu beda banget lho, dibanding waktu kita jalan-jalan tadi.'' Selidik Adel menatap wajah Bian dengan tajam.
"Kamu bisa aja deh. Tadi dan sekarang, gak ada yang berubah sama ekspresiku.'' Balas Bian dengan tenang meski mendapat lirikan tajam dari Adel.
"Apanya yang sama, tadi kamu banyak menghela nafas panjang, dan sekarang jadi lebi banyak tersenyum. Ah, apa jangan-jangan kamu merasa senang karena mau aku mau tinggal?'' Kata Adel yang tiba-tiba jadi teringat.
"Eh, ya enggak lha, gak mungkin aku begitu ke kamu.'' Sanggah Bian dengan cepat. ''Beneran kok, aku tuh gak lagi ada apa-apa, atau dapat sesuatu seperti yang kamu pikirkan sekarang.'' Jelas Bian.
__ADS_1
"Yakin kamu?''
"Iya, Adel.''
"Yaudah kalau begitu.'' Adel pun tak lagi memperdulikanya, '' Eh, tapi kamu nanti beneran akan datang kan, ke ulang tahunku nanti?" Ujar Adel menekankan lagi kata ulang tahunya, setelah tiba dibandara.
"Aku pasti datang, kok, jadi kamu jangan khawatir, ok." Jawab Bian meyakinkan Adel sekali lagi sebelum ia berangkat pergi.
"Ok, aku percaya sama kamu. Kalau begitu sekaarang aku berangkat pergi dulu, ya?" Kata Adel yang hendak meninggalkan Bian.
''Iya, hati-hati, ya?'' Balas Bian melepas kepergian Adel.
Bian masih berdiam pada tempatnya saat tubuh Adel mulai menjauh dari hadapanya. Ia ingin memastikan hingga Adel tak lagi terlihat olehnya, lalu setelahnya baru ia pulang. Namun, saat hendak melangkah pulang tiba-tiba teringat akan perkataan Adel padanya tadi.
"Memangnya ekspresi apa yang aku buat, hingga Adel berkata seperti itu?'' Gumam Bian mencoba memastikan sendiri ekspresi dirinya yang dimaksud oleh Adel dengan menyentuh kedua pipinya menggunakan kedua tanganya.
Bian perlahan meninggalkan bandara bersama Dimas yang sedari tadi hanya diam melihat percakapannya bersama dengan Adel.
"Ternyata aku tak bisa menyembunyikanya?" Batin Bian yang tanpa sadar terus saja tersenyum sejak dari bandara hingga ia pulang sekarang.
Dalam perjalanan pulang, Bian seolah menjadi kepikiran soal hari esok yang akan bertemu kembali dengan Kinan. Ia menjadi diam sejak pulang dari bandara, tanpa adanya suara seperti saat mengantar Adel tadi, hingga menciptakan suasana yang sunyi di dalam mobil, karena sudah terlanjut terhanyut akan lamunanya.
Diamnya tak luput dari pandangan Dimas yang kini tengah fokus menyetir mobil. Dimas seolah bisa merasakan kembali sosok Bian yang biasa ia lihat setiap harinya. Diam dan tak banyak bicara ketika di dalam mobil. Melihat hal itu, Dimas hanya bisa tersenyum simpul sambil terus fokus pada menyetirnya.
...
Pukul 9.15 malam mereka tiba kembali ke dalam hotel setelah perjalanan mengantar Adel ke bandara.
__ADS_1
"Dim, terimakasih ya sudah membantuku hari ini?" Ucap Bian pada Dimas yang ikut menemaninya mengantar Adel ke bandara.
"Iya, pak. Saya sendiri tidak merasa keberatan sama sekali, karena kebetulan hari ini saya juga sedang kosong." Jawab Dimas yang kemudian menyerahkan kembali kunci mobilnya pada Bian ketika sudah sama-sama berada dalam hotel.
"Baguslah kalau begitu, yasudah aku mau masuk ke kamarku dulu, ya?." Bian pun pergi dari hadapan Dimas setelah mengambil kunci mobilnya, di ikuti oleh Dimas selanjutnya yang juga ikut pergi. Keduanya pun pergi ke arah tujuan mereka masing-masing, meninggalkan sejenak kepenatan mereka yang seharian ini dipenuhi aktivitas yang padat dan juga melelahkan, terutama bagi Bian.
Karena seharian tak melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan, tampaknya sedikit membuat Bian merasa ada yang berbeda dari dirinya. Namun, disamping itu, ia juga cukup merasa beryukur bisa keluar hari ini bersama Adel, meski sebelumnya sempat merasa sedikit agak canggung dan juga akan sangat melelahkan baginya.
"Kalau aku gak keluar, mungkin aku tak akan melihatnya, dan lagi, aku tak akan pernah sadar akan perasaan ini." Ucapnya ketika sudah berada dalam kamarnya.
Dengan melepas sepatu, jaket bersama jam ditanganya, Bian mencoba memikirkan kembali keputusan yang akan ia ambil nanti. Yang tak akan kembali menyakiti hati dan perasaanya, juga memastikan kembali bahwa ini akan menjadi yang benar baginya.
"Haruskah aku jujur? Tapi, apa aku bisa jujur padanya jika kita bertemu nanti?" Ujarnya dengan penuh pertimbangan.
Namun, sepertinya Bian tak lagi memperdulikan kegundahan hatinya dan akan lebih memilih jujur akan perasaanya sendiri, seperti yang sudah ia tekadkan sejak tadi, bahkan sebelum ia berangkat ke bandara untuk mengantar Adel tadi.
"Aku perlu keyakinan, karena itu harus aku pastikan lebih dulu, baru aku akan mengambil keputusan nanti." Ujarnya memastikan dirinya sendiri.
Seperti sudah yakin, Bian kini tak lagi berlarut pada hal itu, dan kembali pada pekerjaanya. Memeriksa laporan yang diberikan oleh Dimas yang ia tinggalkan dalam kamarnya tadi.
......................
Teman Gadis Kecilku. Yang dulu kurasa hanya sekedar ingatan masa lalu tanpa arti, dan hanya kenalan yang pernah bertemu beberapa kali, namun apa jadinya jika itu menjadi penuh arti, bahkan beberapa kali menganggu ingatan juga perasaanku sendiri.
Saat ku kira itu hanya karena rasa penasaran biasa, namun entah mengapa menjadi berubah dan terus saja mengganggu kehidupanku. Beberapa kali mengacaukan pikiran dan juga hatiku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari jawabanya. Dan inilah jawabanya yang ku temukan.
"Aku.. "
__ADS_1