
Bian terdiam ketika menatap Kinan di depanya. Ia jadi tidak bisa mengatur ekspresinya yang kebingungan.
"Sial, kenapa aku jadi begini." Batinya.
Karena sikap profesionalnya, dengan segera dia memasang wajah serius pada Dimas dan Kinan yang tengah berdiri di depanya.
"Duduk saja, ada hal yang ingin aku bahas pada kalian berdua." Ucapnya kemudian pada Dimas dan Kinan.
Keduanya pun duduk sesuai dengan intruksi Bian. Menatap Bian yang kini duduk di depan mereka, dan menunggunya untuk berbicara pada mereka.
"Mulai hari ini, aku ingin kalian berdua menjadi partner untuk sementara waktu." Ucap Bian menatap pada Dimas dan Kinan yang ada di depanya. "Ada banyak hal yang harus segera di urus dan juga harus cepat diselesaikan pada hotel ini, karena itu aku ingin kalian berdua bisa bekerja sama membantuku untuk kedepanya. Bagaimana?" Tanya Bian pada keduanya.
Dimas dan Kinan yang kebetulan duduk berdampingan, jadi saling pandang satu sama lain, seolah saling memberikan isyarat.
"Saya tidak keberatan akan itu, saya akan melakukan apa yang anda perintahkan, dan akan merasa terhormat jika saya bisa membantu anda nanti." Jawab Kinan.
"Saya juga tidak ada masalah dengan itu, justru hal itu akan sangat membantu kedepanya buat saya." Balas Dimas yang juga tak keberatan, mengingat dirinyalah yang selama ini menjadi asisten sekaligus sekretaris bagi Bian, karena itu kadang dia merasa sedikit kewalahan. Dengan bantuan dari Kinan nanti, sedikitnya akan meringankan bebanya.
Baik Dimas maupun Kinan, tak ada dari mereka yang bisa menolak perintah Bian, mengingat mereka yang hanya bawahan darinya. Yang bisa mereka lakukan hanya bisa menerima dan melaksanakan perintah itu.
"Baiklah kalau begitu, kebetulan aku sudah membagi tugas buat kalian berdua." Bian mencoba mencari sesuatu dalam tumpukan kertas-kertasnya, seperti sudah disiapkan sebelumnya meski baru memanggil dan mengatakan pada keduanya sekarang.
"Kalian bisa saling berbagi dan bertanya." Kata Bian memberikan sebuah berkas pada keduanya. "Dan besok, aku ingin kalian berdua ikut meeting bersamaku. Kita bahas lebih detail nanti, untuk sekarang pelajari dulu saja hal-hal yang sudah aku siapkan disana." Ungkap Bian lagi.
"Baik pak," Jawab Dimas dan Kinan berbarengan sembari menerima tugas darinya. Keduanya pun hendak meninggalkan ruangan Bian setelah mendengar semua intruksi darinya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi, pak." Kata Kinan, yang berpamitan pada Bian.
"Em, mohon kerjasamanya kedepan. Dan saya harap kamu dan Dimas bisa saling membantu nanti." Balas Bian.
"Baik, saya akan berusaha yang terbaik." Jawab Kinan.
Ekspresi Bian terlihat tak biasa ketika melihat Kinan yang ingin berpamitan padanya. Sorot matanya tampak tak biasa ketika menatap kepergian Kinan. Ia terus saja menatap arah Kinan pergi, meski orangnya sudah menjauh dari pandanganya pun, ia tetap terpaku di tempatnya.
Dan saat hanya meninggalkan dirinya seorang diri di dalam kamar, ia kembali larut dalam pikiranya. Menatap kembali kalung yang dibelinya tadi. "Sebenarnya kenapa aku membeli ini, ya?" Ucapnya sembari memegang kalungnya dengan ekspresi bingung penuh tanya.
Ketika beralih pada jam tangan pemberian Adel, membuat Bian kembali teringat akan perkataan Adel tadi. "Sebenarnya kenapa dia bisa bicara begitu, ya? Seperti bukan dirinya saja." Ucapnya sedikit bingung.
Sepertinya Bian sedikit kaget dengan hal yang dikatakan oleh Adel, mengingat selama ini Adel yang jarang mengatakan hal seberani itu padanya, karena dia yang selalu menghindari pembahasan seputar itu, ditambah dengan respon Adel pada dirinya dalam pertemuan terakhir mereka beberapa hari yang lalu.
"Apa ini.., kenapa aku merasa Adel sedikit berubah, ya?" Gumam Bian menyadari hal kecil dari Adel yang sedikit berubah. "Biasanya dia benci mengatakan hal itu, dan selalu mengelak, kenapa sekarang..? Membuatku bingung saja." Lanjutnya.
"Sepertinya ada yang salah dengan otakku?" Gumamnya merasa frustrasi sendiri.
...
Dalam lift yang sedikit sempit, Dimas dan Kinan masuk di dalamnya setelah keluar dari kamar Bian. Meski terlihat canggung karena hanya berdua, Dimas dan Kinan sama-sama naik bersama untuk keluar, mengingat arah mereka yang sama.
"Pak, apa anda keberatan jika bekerja bersama saya?" Tanya Kinan mencoba memecah kecanggungan.
"Saya?" Kaget Dimas mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari Kinan. "Ehem, justru saya malah senang, karena beban saya sedikit berkurang dengan bantuan dari anda." Jawabnya dengan jujur melirik sekilas ke arah Kinan disampingnya.
__ADS_1
"Wah semoga ya, saya benar-benar berharap bisa membantu tugas anda nanti, soalnya saya agak sedikit tidak pede pada kemampuan saya." Kata Kinan sedikit insecure.
"Saya rasa anda akan menjadi bantuan yang besar buat saya nanti, mengingat kinerja anda selama ini. Jadi, anda tidak usah khawatir soal itu, karena saya percaya dengan kualitas anda, seperti halnya dengan pak Bian yang mempercayai anda saat ini." Puji Dimas dan menenangkan Kinan untuk tak khawatir akan itu.
"Ah, terimkasih. Saya sedikit malu mendengarnya." Ucap Kinan sedikit malu dengan pujian dari Dimas, "Saya mohon kerjasamanya ya kedepan, dan tolong bimbing saya juga nanti." Ucap Kinan menyodorkan tanganya pada Dimas.
Dimas menoleh ke arah Kinan, yang kini sedang menyodorkan tangan padanya. "Iya, saya juga. Mohon kerjasamanya untuk kedepan." Balas Dimas dengan sediki tersenyum disudut bibirnya, lalu menyambut tangan Kinan.
Karena belum terlalu dekat, membuat Kinan memberanikan diri untuk mengajak Dimas bicara, dan beruntungnya kepribadian dari Dimas sangat baik hingga membuatnya nyaman untuk berbicara denganya.
Dalam ruangan lift yang sempit itu, keduanya mengalir dengan lancar saat berbicara, meski awalnya sempat canggung dan kikuk karena tak saling kenal juga dekat sebelumnya, namun keduanya bisa dengan cepat beradaptasi dan mengatasi itu.
"Kalau begitu saya pergi duluan." Kata Dimas mencoba pamit pada Kinan, ketika lift mereka yang akhirnya berhenti.
"Iya, selamat bekerja." Balas Kinan yang juga pergi ke ruanganya.
Meski naik lift bersama, namun tujuan mereka berbeda, dan akhirnya mereka turun dan jalan ke arah tujuan mereka masing-masing.
......................
Dalam tempat yang berbeda, tepatnya dalam kantornya, Adel tak hentinya tersenyum setelah Bian menerima hadiah yang ia kirimkan tadi.
"Akhirnya Bian sudah menerima hadiah dariku, semoga dia suka dengan hadiahnya." Ucapnya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Ok, haruskah aku memesan tiket penerbangan untuk mengejutkanya?" Ucapnya lagi memikirkan kemungkinannya datang ke jogja.
Apa yang membuatnya berubah begini, hingga sedikit berhasrat pada Bian. Dari menghubunginya, menanyakan kabarnya diluar kebiasaanya, hingga yang terbaru memberikan hadiah jam tangan padanya. Seolah memberi isyarat pada perasaanya. Benarkah seperti itu?
__ADS_1
"Jadwalku masih bentrok, sepertinya harus kucocokan lagi nanti." Tutupnya.