
"Hari ini tamunya cukup banyak, ya?"
"Iya, cukup lumayan banyak yang datang. Hampir saja kita tidak bisa istirahat."
Dua penjaga bagian resepsionis yang terlihat berbincang disela istirahat mereka, dibuat terkejut dengan kehadiran security yang harusnya berjaga di depan, namun datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah barang ditanganya.
"Ada apa pak?" Tanya salah satu staff bagian resepsionis pada seorang security yang membawa sebuah bingkisan ditanganya.
"Aku membawa kiriman buat pak Bian." Jawab security itu.
"Buat pak Bian? Dari siapa?" Tanya staff itu sembari menerima bingkisanya.
"Tidak tahu, aku hanya melihat tulisan To Bian, gitu. Tolong berikan pada pada pak Bian nanti, aku mau balik ke tempatku lagi soalnya." Ucapnya, lalu pergi setelah memberikan barangnya.
"Ok, terimakasih." Jawab staff itu dan membiarkan security itu pergi dari hadapanya.
"Emang gak ada nama pengirimnya?" Tanya teman staff itu yang ingin memastikan lagi bingkisan untuk Bian.
Staff itu mencoba mencari keberadaan nama pengirimnya, "Oh ada, disini tertulis From : Adelia." Ucapnya setelah menemukan nama pengirimnya.
"Wah, cewek. Apa pacarnya ya?" Kepo teman staff itu.
"Mana kutahu, aku kan gak ngerti yang begituan. Yah mungkin pacar atau bisa jadi tunangan?"
"Wah benar juga, gak mungkin beliau tidak punya tunangan atau kekasih, kan? Secara dia ganteng dan mapan. Tapi, saat ini beliau sedang keluar, kan? Kita simpan dulu sajalah barangnya, nanti kita berikan kalau beliau sudah kembali dari luar. Awas, jangan sampai lecet, siapa tahu itu barang mahal." Kata teman staff itu, mencoba untuk berhati-hati pada bingkisan milik Bian.
"Bener banget, kalau mahal bisa bahaya kita."
Keduanya menyimpan dengan rapi barang milik Bian itu. Dengan hati-hati mereka menaruh barangnya pada tempat yang tidak terlalu tinggi, lalu kembali bekerja seperti semula.
...
Selang beberapa menit, Bian datang bersama dengan Dimas setelah keluar sebentar tadi. Keduanya kembali setelah membeli kalung yang diminta oleh Bian dan mampir sejenak pada kafe untuk membeli sebuah kopi.
"Maaf pak, apa anda puas dengan tempat dan kalungnya tadi." Tanya Dimas berjalan beriringan masuk ke dalam hotel bersama Bian, setelah kembalinya mereka dari toko.
__ADS_1
"Em, lumayan." Jawab Bian singkat, dan terus berjalan lurus.
Dimas tampak lega mendengarnya, melihat Bian yang terlihat suka dengan tempat yang dia rekomendasikan tadi, terlebih pada kalungnya. Namun, dia cukup penasaran akan satu hal, pada sikap Bian tadi yang cukup serius dan hati-hati dalam memilih kalungnya, seolah itu adalah hal yang sangat berharga baginya.
Sepertinya memang untuk nona Adel. - Pikirnya.
Di tengah-tengah hotel yang mulai sedikit tenang di sore hari, keduanya kembali masuk ke dalam ruangan Bian. Dimas yang selalu mengikuti keberadaan Bian, karena tugasnya yang sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi itu tak luput dari pandangan.
Ia terus mengikuti Bian dengan sigap dan tanpa mengeluh sedikitpun, seperti sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mengingat sudah cukup lama bagi dirinya mengikuti Bian, mungkin hampir 3 tahunan, jadi membuatnya terbiasa dengan kehidupan yang super sibuk dari Bian.
"Maaf pak, tadi ada kiriman untuk anda." Kata seorang staff pada Bian yang baru kembali dan hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Kiriman buatku? Dari siapa?" Tanyanya balik.
"Itu.. Nama pengirimnya Adelia." Jawab staff itu.
Dimas yang mendengarnya dari samping bagai dejavu, mengingat dia yang baru saja menyebut nama itu. Tak hanya untuk dia, begitupun dengan Bian yang sedikit terkejut nama Adel disebut.
"Baiklah, aku terima barangnya. Terimakasih sudah mengantarkannya padaku." Jawab Bian, lalu menerima barangnya.
Dalam kamarnya, Bian mencoba menaruh barang yang ia beli, sekaligus barang kiriman dari Adel tadi. Ia tak membukanya langsung, justru memilih melihat jam di tanganya yang telah menunjukan pukul 4 sore, ditatapnya ke arah jendela kamarnya yang mulai terlihat jingga. Entah apa yang dia pikirkan hingga membuat ekspresi termenung seperti itu.
"Bisa kamu sampaikan pada manajer Kinan untuk datang kemari." Ucapnya pada Dimas.
"Baik, akan segera saya sampaikan." Balas Dimas, lalu pergi dari hadapan Bian.
Dimas keluar dengan berbagai pertanyaan dari dirinya pada Bian, "Kenapa beliau malah murung ya? Padahal habis mendapat bingkisan hadiah dari nona Adel?" Gumam Dimas merasa bingung melihat ekspresi dari Bian. "Padahal tadi beliau cukup senang setelah memilih kalungnya?" Ucapnya lagi.
Tak lagi berkalut akan bosnya itu, Dimas dengan segera mencari keberadaan Kinan untuk menyampaikan pesan dari Bian.
...
Selepas Dimas pergi, Bian mencoba meraih barang-barang miliknya, dan mencoba membukanya satu persatu. Ada bingkisan kalung yang ia beli tadi, lalu kalung berbandul gembok pemberian Kinan, dan yang terakhir jam tangan dari Adel.
Bian menatap lekat pada ketiganya, ekspresinya tampak bingung dan sedikit menghela nafas disitu. "Apa yang harus kulakukan pada ketiganya?" Ucapnya bingung.
__ADS_1
Dalam kebingunganya, ia tersadarkan akan bunyi telfon dari ponselnya. Terlihat nama Adel yang terpampang pada layar ponselnya.
"Halo." Ucapnya menjawab panggilan dari Adel.
"Hai, Bi. Aku tidak lagi ganggu kamu, kan?" Jawab Adel membalas sapaan dari Bian.
"Gak kok, anyway terimakasih ya jam tanganya." Balas Bian.
"Oh sudah sampai ternyata, syukurlah." Lega Adel. "Gimana, kamu suka tidak sama hadiah yang aku kasih? Itu aku yang pilih sendiri lho?" Tanya Adel.
"Iya aku suka, terimakasih. Tapi, kenapa tiba-tiba memberi hadiah?" Tanya Bian sedikit Bingung.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin saja. Apa itu juga tidak boleh?"
"Eh, enggak kok. Maaf, hanya kan aku tidak lagi ulang tahun, karena itu tadi sedikit kaget setelah menerima hadiahnya."
"Kan tidak harus ulang tahun, aku hanya memberikan sebagai balasan atas perasaanmu kemarin." Jawab Adel tersenyum bahagia.
Perkataan itu tentu saja membuat Bian tersentak, hingga membuatnya terdiam dan sedikit kesulitan untuk menjawab itu.
Adel tersadar pada Bian yang jadi diam. "Bi, kok diam? Kamu tidak suka sama hadiahnya, ya?" Tanya Adel lagi.
"Ah, bukan, itu.. Aku suka." Jawabnya dengan entah mengapa sedikit kebingungan. Namun, tiba-tiba saja perhatianya teralihkan dengan ketukan pintu dari luar. "Eh Del, sepertinya sampai disini dulu ya, soalnya aku masih ada kerjaan." Ucapnya lagi yang merasa lega, seakan bisa keluar dari keterkejutan dan kebingunganya. "Untuk hadiahnya, aku sangat berterimakasih, nanti akan aku pakai jamnya." Ucap Bian lagi.
"Ok, akan aku tunggu. Yasudah, aku tutup telfonya, ya." Telfon dari Adel pun terputus.
Bian masih terpaku pada tempatnya, sampai tak sadar dengan kehadiran Kinan yang sudah masuk ke dalam.
"Maaf pak, anda memanggil saya?" Ucap Kinan setelah masuk bersama dengan Dimas.
Tak ada jawaban dari Bian yang terlihat masih terhanyut dengan perkataan dari Adel tadi. Tentu saja Kinan dan Dimas saling pandang, bingung melihat Bian yang tak merespon panggilan mereka.
"Pak," Panggil Dimas lagi, dan kali ini Bian tersadar.
"Oh kalian sudah datang, maaf tadi tidak dengar." Ucapnya kemudian yang menyadari keberadaan Dimas dan Kinan. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja ekspresinya jadi diam ketika menatap Kinan di depanya.
__ADS_1
Sial