
Goresan kecil dalam buku harian yang telah menemaninya sedari kecil, nampak spesial dan penuh makna di dalamnya. Lembaran kertas putihnya terlihat memudar dan penuh dengan goresan tangannya.
Mulai dari curahannya yang lucu, tentang mimpi kecilnya yang penuh harapan besar, hingga rasa lelahnya, juga hal tersulit di hidupnya, semua tertulis jelas disana. Bahkan seluk-beluk kehidupannya di panti asuhan dulu ia tulis jelas di dalam buku harianya, yang sudah seperti keluarga sekaligus teman curhat baginya.
Itulah mengapa Kinan nampak gelisah, karena buku harianya tak kunjung ketemu.
"Duh, kenapa bisa salah tas sih kemarin. Lagian kenapa jadi kebawa juga sih, perasaan aku selalu taruh di meja." Rutuknya pada dirinya sendiri dengan ekspresi menyesal dan frustrasi.
Meski begitu, ia tetap harus fokus pada pekerjaanya meski hatinya di liputi rasa gelisah sepanjang waktu. Harapanya agar buku harianya tak ditemukan oleh siapapun, karena akan malu jika ada yang membacanya.
"Maaf, anda yang bernama Kinan?" Tanya seorang laki-laki menghampiri Kinan, yang tak lain Dimas.
"Benar, ada apa ya?" Tanya Kinan sedikit bingung.
"Maaf, saya hanya ingin memberikan bingkisan yang diberikan oleh pak Bian untuk anda." Kata Dimas sembari menyerahkan sebuah bingkisan pada Kinan.
Dengan ekspresi penuh tanya, Kinan menerima bingkisan tersebut.
"Terimakasih." Balas Kinan sambil menerima bingkisannya dari Dimas.
Dimas pun pergi begitu bingkisanya di terima oleh Kinan.
Apa ya ini? - Batinya.
Shiva yang berdiri di samping Kinan, nampak penasaran dengan bingkisan yang diberikan oleh Dimas pada Kinan. Namun, raut wajahnya terlihat tak bersahabat.
"Apa tuh?" Tanyanya kemudian pada Kinan dengan penasaran.
"Ah.. ini.., aku juga tidak tau sih. Soalnya belum aku buka." Balas Kinan yang masih agak bingung setelah menerima bingkisan tersebut.
"Buka aja, siapa tau itu hadiah."
"Hadiah?" Bingung Kinan.
"Iya, kan kamu baru naik jabatan. Bisa aja kan hadiah bentuk terimakasih." Ucap Shiva lagi mencoba merayu agar Kinan segera membukanya.
"Gitu ya, ok deh." Jawab Kinan yang perlahan mencoba mengeluarkan bingkisan tersebut dari paper bag. Sebuah benda berbentuk kotak yang di bungkus dengan rapi di dalamnya.
"Oh.. ketemu." Seru Kinan dengan ceria menatap bingkisan itu.
__ADS_1
Wajahnya bahagia melihat buku harianya kembali. Namun, ia terdiam karena mengingat ini dari Bian, yang artinya Bian lah yang menemukan buku harianya.
"Ketemu? apanya yang ketemu?" Tanya Shiva penasaran dan mencoba melihat isi bingkisan Kinan dari Bian tadi.
"Oh ini, buku harianku. Akhirnya aku bisa menemukanya." Jawab Kinan memeluk buku harianya.
"Buku harian kamu hilang?" Tanya Shiva lagi.
"Iya, kemarin tidak sengaja kebawa sama aku. Baru ingatnya waktu sudah sampai di kosan, makanya tadi aku dateng agak pagian, tapi masih belum ketemu juga dan baru ketemu sekarang." Jelas Kinan semangat.
"Oh.." Kata Shiva tak tertarik.
"Tapi.. kok pak Bian bisa tau ya, kalau kamu lagi kehilangan buku harian?" Tanyanya kemudian.
"Sebenarnya sih, tadi pagi aku tidak sengaja papasan sama beliau, cuma aku sendiri juga agak bingung. Soalnya, tadi aku cuma bilang kalau aku kehilangan buku saja deh. Aku tidak pernah bilang buku apa yang hilang dan seperti apa bentuknya." Ungkap Kinan mencoba menelaah.
"Oh ya? Em... mungkin saja kan pak Bian tidak sengaja ketemu buku yang terlihat asing buat dia, jadi dia pikir itu punya kamu. Yang penting sudah ketemu kan?"
"Benar juga ya, yaudahlah yang penting sudah ketemu bukunya." Ucap Kinan lega dan tak mempermasalahkan lagi.
Haish, kenapa aku jadi menghibur dia coba - kesal Shiva.
......................
Banyak fasilitas bagus yang di tawarkan oleh hotel miliknya, mulai dari restauran, kafe, perpustakaan, gym, karaoke, hingga mini bar ada disana.
"Perpusatakaan di rawat dengan baik rupanya." Puas Bian melihat perpusatakaan hotel.
Ia memutuskan untuk berkeliling hotel, untuk melihat kembali fasilitas hotelnya dan mencoba untuk mencari kekuranganya, agar kedepan nilai hotel lebih baik lagi.
Ia menjatuhkan akhir kelilingnya pada perpustakaan. Meski sempat ditemani oleh Dimas, namun begitu sampai di perpustakaan ia meminta untuk ditinggal sendirian.
Saat masuk lebih dalam, netra matanya menangkap sebuah buku kecil yang tengah terbuka di atas sebuah meja baca.
Meja yang kebetulan tersedia di dalam perpustakaan dan menghadap langsung ke arah perkebunan. Tempat paling nyaman untuk membaca sebuah buku.
Bian perlahan berjalan ke arah meja tersebut, lalu mencoba mengambilnya. Mengingat bentuk buku yang tampak mungil membuat Bian penasaran, hingga akhirnya coba ia baca.
Matanya berkerut, karena tak bisa membaca isi buku tersebut. Meski sudah mebolak-balikan buku, tak ada tanda pengenal disana.
__ADS_1
"Buku harian?" Ucapnya yang akhirnya tersadar akan buku kecil itu. Mengingat terpampang jelas tulisan tangan di dalamnya.
"Milik siapa ini? kenapa ceroboh sekali?" Ucapnya lagi, mencoba menutup buku dan meletakkan kembali di atas meja.
Namun, lagi-lagi dia terkesiap melihat isi buku harian itu, hingga sejenak membuatnya terdiam.
"Ah..." Serunya kemudian, lalu menutup kembali buku harian dan kemudian melangkah keluar dari perpusatakaan tanpa banyak kata.
...
Mengingat hal itu, Bian jadi melamun dikamarnya. Setelah tak sengaja bertemu dengan buku harian milik Kinan dan yang akhirnya isinya tak sengaja terbaca olehnya.
"Aku ingin menyangkalnya, tapi ternyata benar ya?" Ucapnya menatap jendela kamarnya dengan ekspresi serius.
Kalimat yang tak sengaja kebaca olehnya ketika ia hendak menutup buku itu, membuatnya semakin jelas bahwa Kinan adalah gadis kecilnya dulu.
Ia tersenyum simpul, seolah tak percaya dengan sebuah kebetulan ini. Dari sebuah nama yang sama, Bian benar-benar tak menyangka jika Kinan adalah orangnya, mengingat namanya yang umum.
"Kinanti Agustine, jadi itu nama lengkapnya." Ucapnya lagi.
Bian beralih dari tempatnya berdiri, lalu mencoba menelfon seseorang. Nada suaranya begitu serius begitupun dengan ekspresi wajahnya.
Ia meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja dan mencoba kembali pada pekerjaanya, namun sebuah ketukan dari luar pintu membuatnya menghentikan aktivitasnya.
Dengan segera ia menuju pintu kamarnya dan mendapati Kinan disana. Ketika ia membuka pintu, ekspresi Bian tampak aneh. Ia melihat begitu lekat wajah Kinan yang berada dihadapanya.
"Maaf pak, jika saya mengganggu anda?" Kata Kinan hati-hati dengan membawa sebuah minuman di tanganya.
"Tidak, kenapa?" Tanya balik Bian.
"Itu.., saya mau bilang terimakasih sama anda, karena sudah menemukan buku harian saya." Kata Kinan lagi. "Oh iya, saya juga membawakan minuman untuk anda. Ini teh hijau yang saya buat untuk anda." Sambungnya sembari menyodorkan minuman yang ia bawa.
Bian menatap sekilas teh yang dibawa oleh Kinan dan beralih menatap kearah Kinan hingga membuat Kinan gugup karena takut salah.
"Maaf, jika anda terganggu dengan kehadiran saya. Itu.. tadi saya hanya ingin mengucapkan terimakasih, karena buku itu sangat penting buat saya." Kata Kinan merasa bersalah.
"Tidak, masuklah." Balas Bian kemudian.
"Baik, saya permisi." Senyum Kinan begitu mendengarnya.
__ADS_1
Kinan pun masuk dan langsung menaruh teh yang ia bawa di atas meja.
"Itu.. tehnya sudah saya taruh di atas meja anda. Semoga anda menyukai teh hijau buatan saya. Kalau begitu saya permisi. Ah.. soal buku harian yang anda temukan tadi, saya benar-benar mengucapkan terimakasih." Kata Kinan merasa berterimakasih lalu mencoba keluar, namun tangan Bian menghentikan langkahnya.