Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
69. Perasaan yang Sesungguhnya


__ADS_3

Tanpa sengaja melihat sosok yang ia kenal saat sedang jalan-jalan bersama Adel, membuatnya kini tak lagi bisa mengalihkan pikirannya setelah kembali dari jalan-jalannya tadi. Ketika sorot matanya tak sengaja menangkap sosok yang terasa familiar itu, ada hal yang begitu menganggunya, yaitu pada orang yang tengah bersamannya tadi.


"Aku tadi gak salah lihat, kan?" Gumam Bian mencoba mengingat-ingat akan itu. Namun, saat ia mencoba fokus pada apa yang dilihatnya tadi, tiba-tiba saja pandanganya teralihkan oleh panggilan Adel, yang membuat ia kehilangan akan jejaknya.


Mengingat kejadian itu, tiba-tiba membuat Bian tersadar dengan apa yang dia lakukan sekarang, "Kalau itu memang dia, lalu apa yang akan aku lakukan?" Bian terdiam ketika mengingatnya kembali, karena merasa tak ada hak untuk merasa kepikiran juga, apalagi merasa kesal.


"Ah, aku ini lagi ngapain sih.." Bian mengacak rambutnnya, seolah merasa kesal sendiri dengan tingkahnya yang tak biasa, dan akhirnya memilih masuk ke dalam kamar mandi.


...


Orang yang Bian lihat tanpa sengaja saat itu adalah Kinan yang tengah bersama Bayu. Saat itu, dia sedang istirahat sejenak dengan meneguk minuman untuk menghilangkan rasa hausnya, ditengah rasa lelahnya menemani Adel jalan-jalan. Namun, tiba-tiba saja matanya menangkap sosok yang terasa familiar, yang tengah berjalan dari arah berlawanan denganya, dan tengah berjalan bersama seseorang disampingnya.


Karena ada sedikit keakraban diantara mereka berdua selama berjalan, yang akhirnya membuat Bian menaruh rasa penasaran akan itu, hingga tanpa sadar memperlihatkan ekspresi kesalnya. Alisnya mengkerut saat melihat interaksi keduanya yang dirasa sangat dekat.


Masih dengan botol minuman yang ia pegang, Bian teralihkan pandanganya pada sosoknya yang tengah mengobrol dengan santai bersama seorang laki-laki disampingnya, yang kebetulan juga sedikit ia tahu, karena sering berada disekitar Kinan sebelumnya.


Meski terlihat samar, karena melihatnya dari arah yang berbeda, namun karena Bian begitu penasaran dengan apa yang ia lihat, membuatnya tanpa sadar tak bisa mengalihkan pandanganya pada sosok di depanya, sebelum pandanganya teralihkan oleh panggilan Adel, yang membuatnya kehilangan jejak dan kepastian akan apa yang ia lihat saat itu.


...


"Apa mungkin ini adalah perasaanku yang sesungguhnya?" Gumam Bian terlihat sedikit terkejut dengan apa yang baru ia fikirkan.


Berulang kali merasa kacau hanya karena melihat sosoknya ketika sedang bersama atau sekedar mengobrol dengan laki-laki, membuat Bian merasa aneh sendiri, hingga tanpa ia sadari, telah menunjukkan rasa ketertarikan pada seorang Kinan, mengingat ia yang setiap kali tak bisa mengontrol ekspresi dan juga perasaanya jika dihadapkan pada Kinan yang tengah bersama dengan seorang laki-laki atau kehidupan pribadinya sekalipun.

__ADS_1


Ekspresinya lebih tercerahkan ketika ia keluar dari kamar mandi, dan perlahan melangkah ketempat ia menyimpan kalung yang sempat ia beli beberapa waktu lalu, dan kalung berbandul gembok milik Kinan yang ia berikan dulu waktu kecil, juga kalung kunci miliknya.


"Apa akhirnya kalung ini benar-benar sudah menemukan pemiliknya?" Ucapnya sembari memegang kalung liontin yang sempat ia beli beberapa hari yang lalu.


Masih memakai jubah handuknya, dengan kondisi yang masih setengah basah, Bian kembali mengalihkan pandangan pada kalung berbandul gembok yang sempat dia berikan kepada Kinan sewaktu kecil dulu. Ia menjejerkan pada kalung kunci miliknya, hingga membuat keduanya berdampingan, lalu mencoba memasukkan bandul kunci kedalam gemboknya, dan klik.. gembok itupun alhirnya terbuka.


"Padahal aku tidak pernah meminta kalungnya, kenapa dia malah mengembalikanya padaku?" Ujarnya menatap kalung gembok milik Kinan dengan ekspresi sulit ditebak.


Setelah terlibat dalam perasaan kacaunya setelah kedatangan Adel, dan kembali memperlihatkan mood buruknya begitu melihat Kinan bersama seorang laki-laki, membuat Bian kini menyadari akan perasaanya sendiri.


"Ah, sekarang aku tau bagaimana harus memastikanya nanti." Ucapnya setelah sempat merasa dilema dengan hal yang sangat ingin ia pastikan pada Kinan.


Bian sedikit tersenyum ketika memikirkannya, dan kembali memasukan kembali kalung-kalung miliknya kedalam kotaknya semula.


Mendengar hal yang dikatakan oleh Adel padanya beberapa saat lalu setelah kedatanganya ke hotel miliknya, akhirnya membuat Bian tersadar bahwa hubunganya dengan Adel akan tetap sama seperti dulu, tanpa adanya perubahan yang berarti, yaitu tetap menjadi seorang sahabat, teman dan juga keluarga.


"Apa Adnan juga memikirkan hal yang sama sepertiku ya?" Ucapnya terpikirkan akan sosok Adnan yang juga menyukai Adel sejak dulu.


...


Tampaknya Bian merasa cukup senang saat menyadari perasaanya sendiri setelah sempat dilema dan bertengkar dengan pikirannya sendiri. Bahkan sampai sekarang, ia tak berhenti untuk tersenyum.


Hari mulai petang, sesuai dengan janjinya tadi, ia akan mengantarkan Adel menuju ke bandara setelah ia selesai bersiap-siap. Dengan memakai baju kasual, ia pergi bersama dengan Adel, juga ditemani oleh Dimas yang kebetulan tengah membantunnya menyetir mobil untuk berangkat ke bandara.

__ADS_1


"Bi, kamu jangan sampai melupakan aku ya selama disini? Harus sering komunikasi seperti di kanada dulu pokoknya." Ucap Adel memberi peringatan pada Bian.


"Iya, pasti. Kamu jangan khawatir soal itu, kan jarakku sekarang tidak jauh seperti dulu?" Balas Bian mencoba menenangkan Adel.


"Justru karena terlalu dekat, jadi harus semakin komunikasi. Karena biasanya tanpa sadar, kita jadi menyepelekan jarak dekatnya." Tukas Adel.


Bian terlihat setuju dengan ucapan Adel, ia mengangguk kecil dengan apa yang dikatakannya, seolah mengerti dengan apa yang tengah dikhawatirkanya. "Baiklah, akan aku ingat semua perkataan kamu tadi." Jawabnya kemudian.


"Awas lho ya, nanti aku ngambek kalau kamu gak nepatin janji." Ancam Adel.


"Siap, laksanakan." Balas Bian dengan sedikit menggoda pada ancaman Adel.


"Dasar.." Pukul Adel dengan ringan pada lengan Bian, ketika melihatnya sedang menggoda dirinya selama dalam perjalanan ke bandara.


Apa yang dilakukan oleh Bian untuk sekedar mencairkan suasan di dalam mobil dengan candaan kecil yang biasa ia lakukan pada Adel dulu, nyatanya begitu menarik perhatian Dimas yang tengah menyetir, begitupun dengan Adel sahabatnya sendiri.


Dimas merasa baru dengan melihat apa yang dilakukan oleh Bian di dalam mobil. Jika itu Bian yang biasa ia lihat setiap harinya, akan tetap diam di dalam mobil dengan ekspresi dinginya, namun hari ini penuh dengan candaan dan keceriaan diwajahnya.


"Pak Bian terlihat jauh lebih senang hari ini." Batin Dimas ketika memperhatikan keakraban Bian dan Adel dari kaca depan.


Tak hanya Dimas yang merasa tertarik akan sikap Bian hari ini, nyatanya seorang Adel yang sudah lebih lama mengenal akan sifat Bian pun, juga dibuat penuh pertanyaan hari ini. Melihat Ekspresi Bian yang lebih cerah, dengan perasaan senangnya dibanding saat menemaninya jalan-jalan tadi, membuatnya penasaran akan hal apa yang sudah bikin suasana hatinya berubah.


"Meski ini Bian yang aku kenal, entah mengapa aku merasa ada sedikit yang berbeda darinya saat ini?"

__ADS_1


__ADS_2