Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
109. Perasaan Yang Terbalaskan


__ADS_3

Tangan Bian meraih tangan milik Kinan yang hendak pergi meninggalkannya. Bersamaan dengan nafas yang masih tampak tak beraturan karena sedikit terburu-buru, ia menatap wajah Kinan yang berdiri tepat di depanya.


"Aku ingin bicara denganmu, apa boleh?" Ucapnya menatap Kinan.


Kinan yang sedang berdiri di depan Bian, cukup terkejut mendengar ucapan itu. Ia yang masih terkejut pada kedatangan Bian, merasakan kecanggungan pada sosoknya yang berada dekat dengannya, ditambah perasaannya yang tiba-tiba merasa berdebar di depan Bian


"Apa yang beliau ingin bicarakan padaku, ya?" - Batinya yang merasa bingung bercampur berdebar.


Ekspresi wajahnya yang masih terkejut, terlihat begitu sulit untuk ia kendalikan. Pada Bian yang tiba-tiba datang dan sekarang tengah berdiri di depannya. Membuat tubuhnya seketika membeku dan rasa ketidakpercayaan dirinya pada kehadiran Bian yang begitu tiba-tiba.


"Apa yang ingin anda katakan pada saya?" Di tengah rasa gugup, canggung dan perasaan berdebarnya, Kinan memberanikan diri menatap mata Bian.


"Kamu sudah mau pulang, ya?" Ucap Bian yang beralih menanyakan pada Kinan yang sejatinya hendak pergi, mengingat hari yang juga semakin malam.


"Iya." Jawab Kinan.


"Apa aku menahanmu? Kalau kamu merasa keberatan, kita lanjutkan besok saja." Melihat hari yang semakin malam, Bian tak memaksakan dirinya untuk berbicara pada Kinan.


"Saya tidak papa kok, pak." Sempat terdiam sejenak, Kinan tak mempermasalahkan keinginan Bian yang hendak berbicara padanya.


"Kalau kamu bilang begitu, aku merasa lega mendengarnya." Ucap Bian memperlihatkan senyumnya.


Melihat Bian yang tersenyum padanya, tanpa sadar ia segera mengalihkan pandanganya. Perasaanya cukup gugup, ditambah dengan debaran dadanya yang semakin tidak bisa ia kontrol.


"Apa kamu terkejut dengan aku yang tiba-tiba datang? Padahal tadi aku masih bilang belum pasti kapan akan kembali kesini lagi?" Bian yang sudah masuk kedalam kamar hotelnya, berdiri menatap Kinan yang terdiam.


"I-iya." Jawab Kinan di tengah rasa canggungnya mendapat tatapan lekat dari Bian.


"Kamu tidak lupa soal pembicaraan terakhir kita tadi, kan?"


Mata Kinan tiba-tiba bergetar, seolah merespon perasaannya yang sedang menahan rasa gugupnya.


"Soal itu.., saya minta maaf. Sebenarnya saya tidak.."


"Tidak apa?" Potong Bian yang ingin mendengar jawaban Kinan secara langsung pada intinya.


Kinan menatap canggung pada Bian yang menatapnya dengan pandangan lurus ke arah dua bola matanya. Tatapan yang terlihat meminta jawabannya.


"Saya.., minta maaf." Lagi-lagi Kinan hanya bisa mengatakan permintaan maaf pada Bian. Sebuah jawaban yang sangat tidak ingin Bian dengar dan seketika membuat dirinya mengernyitkan dahi dan menahan perasaan marah.


"Kinan tolong lihat mataku, tatap aku dengan baik-baik. Tidak bisakah kamu melihat ketulusanku?" Dengan raut wajah yang menahan kesedihan dan dengan kedua tanganya yang sedang memegang bahu milik Kinan, Bian seolah sudah kehabisa kesabaran, pada Kinan yang terus mendorongnya menjauh dan memberi batasan padanya.

__ADS_1


"Apa kamu tau kenapa aku datang hari ini? Itu karena aku merindukanmu. Aku merindukanmu Kinan."


Bagaimana ini?


Kinan begitu terkejut melihat ekspresi yang sedang Bian buat sekarang. Ia bisa melihat dengan jelas ketulusan itu dari kedua matanya yang kini menatapnya penuh lekat dan intens.


"Saya mengetahuinya, pak. Saya tau kalau anda tulus pada saya, tapi.."


"Apa kamu menyukaiku?"


"...."


Sejenak ekspresinya membeku dihadapan Bian yang menanyakan perasaan sukanya.


"Aku bilang, apa kamu menyukaiku?" Bian mengulangi lagi kalimatnya pada Kinan yang masih terdiam.


"...."


Kinan yang masih terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Bian, kembali diam.


"Tidak bisakah kamu mengatakannya? Aku hanya ingin mendengar jawaban itu darimu?" Bian menatap frustrasi pada Kinan di depanya yang masih diam membisu. Ekspresinya terlihat sedih, dengan dadanya yang seakan bisa merasakan perasaan tercabik.


....


Tanpa basa-basi mennayakan kabar, kondisi dan keadaan. Bian yang seolah sedang terburu-buru, langsung mengatakan intinya ketika melihat Kinan di depannya.


"Maaf, aku minta maaf jika hal ini membuatmu tidak nyaman. Mungkin ini efek aku yang masih kecapekan dan.. " Bian melepaskan tanganya yang sedari tadi memegang bahu milik Kinan dengan perasan bersalah. "Dan sepertinya aku memang terlalu terburu-buru hari ini, karena itu.. aku.."


"Saya suka. Sa-saya juga menyukai anda." Kinan yang sedari tadi mencoba mmenahan perasaannya, kini memberanikan diri untuk mengatakan sejujurnya perasaanya pada Bian, meski harus disertai dengan


Bian, menatap kembali ke arah Kinan, dan kembali berjalan mendekat ke arah Kinan.


"Apa kamu bilang?" Ucapnya mencoba mengkonfirmasi kembali pada apa yang sudah ia dengar sebelumnya.


"Saya menyukai anda." Dengan menunduk dan suara yang pelan, Kinan mengatakan kembali pernyataan sukanya pada Bian.


Bian yang tiba-tiba mendengar jawaban dari Kinan, justru membuat tubuhnya membeku. Seolah masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar baru saja. Namun, tiba-tiba saja ekspresinya berubah dengan cepat, dengan sunggingan senyuman yang terlukis dari susdut bibirnya.


"Aku tidak salah dengar, kan?" Ekspresi Bian yang memperlihatkan rasa senang mencoba menanyakan kembali pada Kinan yang terlihat masih menundukkan wajah di depannya.


Kinan tampaknya tak berani mengangkat wajahnya, ia masih cukup malu dan canggung pada Bian setelah pernyataan sukanya.

__ADS_1


Aku malu, gimana ini? - Batinya yang menahan rasa malunya di depan Bian.


"Lihat aku, Kinan, jangan menunduk." Bian memegang wajah Kinan yang terlihat masih menunduk dan sikapnya itu, akhirnya membuat Kinan mengangkat wajahnya.


"Kalau kamu terus menunuduk, aku jadi tidak bisa melihat wajahmu." Ucap Bian tersenyum menatap Kinan.


Meski masih cukup canggung bertatap muka dengan Bian yang berada dekat dengannya, Kinan mencoba mengontrol ekspresi dan dadanya yang terus berdebar kencang.


"Jadi, kamu menyukaiku, kan?" Masih menyentuh wajah Kinan dengan lembutnya, Bian mencoba menanyakan kembali perasaan Kinan.


"I-iya." Dengan agak malu, Kinan kini menjawabnya dengan menatap mata Bian secara langsung.


"Aku senang, akhirnya perasanku terbalaskan juga." Ungkap Bian merasa senang.


"Anda tidak marah pada saya, kan?"


"Marah? Untuk apa?"


"Karena saya yang baru membalas perasaan anda sekarang."


"Tidak, karena aku mengerti kamu perlu waktu untuk memikirkanya, karena itu kamu tidak perlu meminta maaf, justru aku yang harus bilang sepeti itu, karena seperti terlalu terburu-buru untuk mendengarkan jawabannya." Ujar Bian.


"Terimakasih." Kinan terlihat lega mendengarnya.


"Hanya itu?"


"Eh!" Kinan menatap bingung pada Bian.


"Apa tidak ada hadiah buatku?" Tiba-tiba saja wajahnya sudah mendekat ke arah Kinan, hingga Kinan yang terkejut merasa berdebar.


"Aku boleh melakukanya, kan?" Tanya Bian yang hendak mencium Kinan.


Anggukan kecil dari Kinan yang sedikit malu-malu, membuat Bian tersenyum dan mulai menempelkan bibir miliknya pada bibir milik Kinan.


Ini adalah ciuman kedua kalinya bagi mereka, namun kali ini dengan suasana yang berbeda, dan status yang berbeda pula. Perasaan keduanya yang saling terbalaskan membuat ciuman itu terlihat spesial. Sempat tidak ada harapan dan terlihat mengambang, namun perasaan yang kini saling terhubung satu sama lain memperlihatkan cahaya bagi hubungan mereka.


"Aku mencintaimu." Ucap Bian pada Kinan. Ia beralih mengecup kening Kinan dengan lembut dan penuh kasih sayang, pelukan hangatnya memperlihatkan rasa cintanya pada Kinan. Kinan yang merupakan teman gadis kecilnya dulu, juga seorang perempuan yang mampu menggiyahkan hati dan perasaanya.


Kinan memabalas pelukan itu dengan perasaan berdebar. Ada rasa menggelitik di hatinya yang tak menyangka akan berakhir seperti ini dengan Bian, yang notabenya adalah atasanya sendiri.


"Keputusanku yang seperti ini sudah benar, kan?" Batinnya pada pernyataan sukanya terhadap Bian yang baru saja ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2