
Kinan menutup mulut rekanya itu dengan tanganya, agar tak kedengaran orang lain yang nantinya akan menimbulkan prasangka ataupun rumor.
"Ok deh, aku gak akan sebut namanya lagi." Aura pun menuruti keinginan Kinan, begitu Kinan menutup mulutnya. "Tapi, kalau dibilang sih emang benar juga, ya!" Ucapnya lagi.
"Apanya?"
"Itu lho, antara mbak Kinan dan beliau."
"Ya, kan dari tadi aku sudah bilang begitu. Kamunya aja yang masih kepo gak jelas."
"Iya maaf deh, habisnya sikap beliau ganjal banget sih. Jadinya aku penasaran banget sama itu."
"Kepomu itu lho kurangin dikit kenapa?"
"Gak bisa mbak, ini tuh sudah bawaan dari lahir." Kelakar Aura, hingga membuat Kinan ikut tertawa.
"Terserah kamu aja deh." Pasrah Kinan mendengar jawaban tak masuk akal dari Aura.
"Eh, tau nggak mbk, kalau sebenarnya dua hari lalu, teman dekatnya pak Bi.. Beliau datang kesini, lho?"
"Maksudnya?" Bingung Kinan pada hal yang di maksud oleh Aura.
"Saat mbak Kinan gak masuk kemarin, ada teman dekat dari pak Bian yang datang ke hotel ini, dan dia juga menginap disini, lho. Beritanya juga sudah menyebar kemana-mana, apa mbak Kinan tidak mendengarnya?"
"Enggak sih, tapi aku sempat mendengar bisik-bisik dari beberapa orang yang sedang mengobrol, cuma tadi aku gak terlalu memperhatikan maksudnya. Jadi, aku masih belum tau soal berita itu."
"Katanya sih mereka teman dari kecil, tapi kalau aku bilang sih, kayanya hubungan mereka bukan hanya sekedar teman masa kecil. Kan, kita tau kalau tidak ada pertemanan dalam hubungan perempuan dan laki-laki."
Kinan terdiam, raut wajahnya terlihat tak berekspresi setelah mendengar hal itu, dan entah mengapa hatinya juga merasakan rasa tak nyaman begitu mendengarnya.
"Kenapa aku jadi merasa tak nyaman, ya?" Batinnya sembari memegang dadanya.
__ADS_1
"Tuh, kan kamu jadi kepo lagi." Ucapnya kemudian pada Aura memecah rasa tak nyamanya sendiri dengan mencoba bersikap tenang.
"Sadar, Kinan. Kamu kan bukan siapa-siapanya beliau." Batinya menenangkan dirinya sendiri.
"Ini tuh bukan kepo mbka, tapi hanya berspekulasi aja." Elak Aura.
"Kamu itu, ya!" Hanya gelengan kepala yang bisa Kinan lakukan menyikapi sikap Aura. "Sudah, ayo kerja lagi. Kita sudah lama nih istirahatnya." Kata Kinan yang mulai bangkit dari duduknya.
"Siap, bu bos." Aura pun ikut berdiri, meski ada sedikit candaan disana buat Kinan. Dan tentu saja hanya senyuman kecil yang bisa Kinan lakukan untuk menanggapi candaannya itu.
...
Agaknya hubungan yang masih ambigu itu begitu membingungkan, terutama bagi Kinan itu sendiri. Meski dirinya tak pantas untuk merasa bingung, karena dirinya yang juga tak memberikan jawaban apapun dari pernyataan Bian.
Namun, karena ungkapan itu mau tak mau membuatnya terus kepikiran dan merasa berdebar sendiri, meski sebelumnya bahkan tak merasakan perasaan apapun.
"Aneh, sepertinya aku memang agak aneh, deh." Gumamnya yang tak bisa berhenti memikirkan ucapan Aura tadi, terutama soal teman masa keci Bian.
Dalam kejauhan tempatnya yang saat ini tengah berdiri, terlihat sepasang mata yang menatapnya dari jauh bersama sekretarisnya.
"Tidak ada, ayo jalan lagi." Jawabnya yang kembali melanjutkan perjalananya yang hendak keluar.
Bersama Dimas yang sudah seperti saudara baginya, Bian kembali melanjutkan perjalanan dinasnya, namun kali ini dia akan pergi keluar negeri, tepatnya jepang yang akan menjadi tempat tujuanya.
"Apa kamu sudah menyampaikanya padamanajer Kinan sebelum kita berangkat tadi?" Tanya Bian saat sudah berada dalam mobil.
"Sudah, pak. Saya sudah menyampaikannya pada manajer Kinan kalau kita akan pergi dinas ke jepang selama satu minggu." Jawab Dimas.
"Ok." Balas Bian singkat.
Namun, ekspresinya terlihat tak bersemangat, bahkan raut wajahnya seolah mengisyaratkan tak ingin pergi.
__ADS_1
"Harusnya aku mengatakan padanya secara langsung." Sesalnya kemudian yang akhirnya hanya bisa menghela nafas penyesalan.
......................
Tak ada yang berubah meski hotel ditinggal oleh pemiliknya dinas ke luar negeri, karena hotel masih bisa di handle dengan baik oleh Kinan, selaku manajer hotel. Meski tak ada masalah dengan kondisi hotel, perubahan akan tetap kentara terutama bagi Kinan dan Bian yang kini terpisah oleh jarak.
Karena ungkapan itu, sedikitnya mempengaruhi hubungan keduanya. Meski ada kecanggungan, namun disatu sisi juga ada debaran hati yang sukar untuk dijelaskan, hingga beberapa kali membuat mereka tak bisa mengatasinya.
Meski berbeda jarak, anehnya pikiran mereka satu, seperti sudah saling terkoneksi satu sama lain. Saat sudah tiba di jepang, Bian langsung fokus pada pekerjaanya, begitupun dengan Kinan yang juga tetap fokus pada pekerjaanya di jogja. Namun, ketika sendirian, entah mengapa pikiran akan salah satunya muncul begitu saja dalam bayangan mereka.
"Sial, sepertinya aku sudah gila sekarang." Gumam Bian yang tak berhenti memikirkan Kinan, padahal baru beberapa jam mendarat di jepang.
Ia menghela nafas panjangnya, lalu mencoba meraih ponselnya untuk menghubungi sesorang begitu ia sampai di jepang. Tertulis nama Kinan dalam layar ponsel yang sedang ia pegang, namun tanganya sedikit ragu untuk memencet tombol memanggil.
"Memangnya aku akan mengatakan apa nanti, kalau telfonya dijawab sama dia?" Ucapnya yang tak memiliki keberanian untuk melakukan panggilan pada Kinan.
"Ah, sudahlah." Pasrahnya kemudian, lalu melemparkan begitu saja ponselnya di atas kasur.
...
Tak berbeda dengan Bian, Kinan yang mendapat kabar dari Dimas soal keberangkatan mereka ke jepang sempat merasa ada yang aneh pada dirinya. Seperti merasa ditinggal oleh seseorang yang sudah ia kenal lama.
"Aku ini kenapa sih, ayo fokus sama pekerjaan." Ucapnya mencoba menyadarkan dirinya sendiri untuk tetap fokus. Namun, saat mencoba untuk fokus kembali, pikiran akan Bian tetap saja ada, terutama soal insiden yang ia alami bersama Bian saat hendak kembali dari kunjunganya menemui Aura di rumah sakit.
"Aku seperti habis bermimpi, ya!" Gumamnya yang kini teringat akan ungkapan Bian padanya, yang sekarang seolah terlihat biasa saja seperti tak pernah ada insiden itu.
Kinan tersenyum simpul, seolah menyadarkan kembali akan kenyataan akan dirinya pada Bian, terutama soal status mereka saat ini.
"Tertarik."
Memiliki makna yang begitu banyak, dan sedikit ambigu jika digunakan untuk mengungangkapkan perasaan pada seseorang. Karena itulah masih membuat Kinan merasa bingung, dan tak bisa berharap banyak dengan apa yang dia dengar, karena bisa saja kalimat yang dilontarkan oleh Biant mengandung makna yang lainya.
__ADS_1
"Apa ini karena beliau adalah kakak kenalanku dulu, ya? Karena itu aku menjadi terus kepikiran?" Gumamnya yang seolah tak bisa memalingkan pikiranya pada sosok Bian yang sedari awal tak pernah ada kata tertarik darinya.
"Perasaan ini sedikit berbeda saat aku bertemu maupun bersama dengan mas Bayu, kakak seniorku dulu." Ucapnya lagi menimbang saat bersama Bayu dan juga saat bersama Bian, yang terasa perbedaannya.