Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
24. Pengangkatan Kinan


__ADS_3

"Ya ampun, jantungku rasanya mau copot deh. Tiba-tiba nyuruh kumpul semua, aku kira bakal di pecat atau perombakan besar-besaran." Seru salah seorang staff merasa lega, setelah pertemuanya dengan Bian.


"Iya, aku juga gitu. Syukurlah beliau cuma bilang terimakasih dan memperkenalkan dirinya." Sambung lainya.


"Eh, akhirnya ya mbak Kinan diangkat secara resmi buat jadi manajer, sebelumnya kan cuma secara formal aja karena darurat." Seru lainya dengan gembira.


"Benar, sempet kaget juga sih dia langsung di tempatin di posisi itu, tapi kalau melihat pendidikan dan kemampuanya, pantas aja gk sih pak Roy menunjuknya langsung untuk menggantikan dia, karena dia yang harus berobat ke luar negeri?"


"Benar sih, mengingat dulu dia cuma bagian resepsionis, tapi pak Roy selalu saja membawa dia kemana-mana dan mempercayainya. Terkadang itu agak bikin kesal juga." Ucap lainya agak tak suka.


"Mereka berdua kan sudah saling kenal, bahkan sebelum Kinan kerja disini, bukanya itu wajar?" Sambung lainya.


"Justru karena itu, karena dia sering di panggil dan ikut kemanapun pak Roy pergi, sempat ada rumor juga kan kalau dia simpanannya pak Roy.., upss.." Timpal lainya sambil tertawa kecil.


Shiva, salah satu rekanya tampak senang mendengar celotehan rekan-rekanya tentang Kinan. Entah kenapa dia tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya yang sedari tadi di tekuk karena melihat Kinan di angkat secara resmi untuk jadi manajer hotel.


Ia jadi terbayang gimana awal mulanya bisa sampai disini dan hingga detik ini masih berada disini. Memikirkanya kembali, entah mengapa membuatnya kesal.


Aku kira, aku sudah melakukan yang terbaik buat hotel ini, ternyata aku masih kalah sama anak baru. Padahal aku rela dipindah tugas kesini. - Gumamnya dalam hati dengan agak kesal.


"Eh, mbak Shiva kan sudah disini lama ya, bahkan sejak hotel ini berdiri, aneh gak sih kalau mbak Shiva malah gak di tunjuk jadi manajer? padahal dia lulusan luar negeri lho." Celetuk lainya.


Shiva menyeringai, ekspresinya mendadak kesal begitu mendengarnya, namun di satu sisi ia tersenyum karena mendengar pengakuan itu.

__ADS_1


"Eiiy.., kalian jangan gitu dong. Kinan kan sudah berjuang buat hotel ini selama pak Roy berobat, jadi wajar saja kan Kinan dapat posisi ini. Kinan kan orang yang pak Roy kenal juga. Mungkin pak Roynya aja yang gak kenal sama aku." Ucap Shiva setengah menyindir.


Semua tampak tertawa mendengar sindiran itu, meski ada juga yang tak suka dengan ucapan Shiva.


"Aku tidak tau kenapa pak Roy menunjuknya, tapi bukanya ini juga berkat bantuan dari mbak Shiva ya? mbak kan yang lebih berpengalaman dalam bidang ini."


"Mau seberapa tidak puasnya kita, kalau keputusan dari pemipinnya begitu, yah kita mau berbuat apa? bukan kita juga yang punya hotel." Celetuk lainya tak perduli dengan siapapun yang jadi manajer.


Semua diam, tak lagi memperdebatkatnya.


...


Meski banyak yang mendukungnya, nyatanya banyak juga yang masih mempertanyakan kredibilitasnya. Obrolan dari rekan-rekan kerjanya tadi, entah mengapa membuat Kinan serba salah dan semakin merasa insecure dengan dirinya sendiri.


Obrolan di ruang istirahat itu terngiang jelas di hati Kinan, ia yang sejatinya akan masuk untuk mengambil sesuatu, mengurungkan niatnya begitu mendengar percakapan rekan-rekanya. Kinan melepaskan kegundahan hatinya hanya dengan menghela nafas panjang.


"Mbak pasti dengar obrolan mereka kan?" Ucap seseorang menghampiri Kinan yang tengah duduk.


"Aura, kamu disini." Kata Kinan agak kaget dengan kedatangan Aura, yang merupakan salah satu rekan kerjanya.


"Iya, aku tadi lihat lho mbak Kinan pergi dari sana. jadi aku coba ikutin deh kesini. Mbak gapapa kan?" Ucap Aura menghawatirkan keadaan Kinan.


"Aku gapapa kok, lagian itu kan wajar kalau mereka masih meragukanku dan tidak percaya sama aku." Balas Kinan mencoba merendah.

__ADS_1


"Apanya yang wajar, itu sih namanya cemburu. Mereka itu cemburu sama keberhasilan mbak Kinan, itu kenapa tadi mereka jadi ngomong sembarangan." Kesal Aura.


Kinan tersenyum mendengarnya, entah mengapa ia merasa terhibur.


"Terimakasih ya, aku jadi lebih baik sekarang."


"Iya mbak, sama-sama. aku sih cuma mau bilang kalau mbak Kinan jangan merasa bersalah atau sedih, karena mbak pantas mendapatkanya, jadi hiraukan saja mereka." Kata Aura memberi semangat.


"Ok." Balas Kinan sembari tersenyum.


...


Perasaan kalut dan serba salahnya telah padam dengan penghiburan kecil dari Aura. Karena kesibukan yang terjadi, ia sampai lupa soal bukunya yang hilang. Setelah ia menyiapkan sarapan untuk Bian, ia jadi lupa lagi saat rekan-rekanya telah berdatangan ke hotel.


"Duh, aku lupa sama buku harianku." Ucapnya sembari menepuk dahinya pelan.


Kinan bergegas ke arah ruang penyimpanan tasnya dengan setengah berlari. Meski sudah mencoba dicari beberapa kali, ia tak kunjung bisa menemukanya.


"Aku taruh dimana ya sebelumnya? aku ingat kemarin buku itu ada ditasku, tapi aku tidak ingat juga pernah mengeluarkanya dari tas." Ucapnya penuh rasa cemas.


Buku harian itu, penuh dengan coretan-coretan kecilnya yang sangat spesial. Kemarin, karena ia salah membawa tas, buku harianya tak sengaja kebawa olehnya, dan baru tersadar saat pulang ke kosan.


"Duh, kalau hilang gimana ya?" Ucapnya khawatir. "Itu kan buku yang aku simpan dari dulu, bahkan banyak coretan soal panti asuhanku dulu." Sambungnya lagi dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


__ADS_2