
Perasannya kembali tenang ketika selesai membasuh tubuhnya dengan air dingin yang mampu membersihkan seluruh tubuhnya yang lengket karena keringat.
"Wah segarnya habis mandi. Moodku juga tiba-tiba jadi baik" Ucapnya setelah keluar dari kamar mandi dengan perasaan sedikit nyaman.
Dengan tubuh yang masih setengah basah, Bian keluar kamar mandi dalam kondisi yang fress dengan mood yang lumayan baik. Rambut yang masih basah dan juga berantakan karena usapan handuknya, lalu dengan dada bidangnya yang terlihat pada sela jubah handuknya menambah kesan seksi tersendiri dari dirinya.
Berjalan menuju ke arah lemari pakaianya untuk mencari pakaian yang sedikit kasual untuk dia pakai hari ini, Bian mencoba untuk merileksan diri sejenak setelah olahraga tadi. Meski sebenarnya tetap sibuk seperti biasanya, namun sepertinya ia mencoba untuk melenturkan sedikit tubuh kakunya yang sepertinya sudah terlalu keras karena kesibukanya yang padat, yang kadang mengharuskannya duduk berjam-jam.
"Meski Dimas bisa ambil cutinya, aku tetap bekerja seperti biasanya." Ucapnya yang kembali membawa laptopnya. Meski sudah bilang akan sedikit santai hari ini, namun Bian tetap tak bisa mengalihkan pandanganya pada pekerjaannya, seolah hidupnya hanya ada untuk pekerjaanya.
Tok.. tok.. Bunyi ketukan dua kali terdengar dari luar kamarnya saat ia baru saja hendak duduk. Terdengar juga sayup-sayup yang memanggil namanya.
"Siapa ya? Padahal hari ini aku tidak mau di ganggu. Ah, apa mereka yang mau mengantar makanan untukku ya?" Bian mengurungkan niatnya untuk duduk, ia menaruh laptopnya di atas meja, lalu mencoba menghampiri orang yang mengetuk kamarnya.
Pintu pun terbuka, dan benar adanya seorang staff datang dan tengah memberikan pelayanan room service padanya, yang saat ini tengah membawa makanan pesanannya.
"Oh, apa kamu yang aku telfon tadi?" Tanya Bian pada staff yang membawa makanan yang dipesanannya tadi sebelum dia mandi.
"Benar pak, saya yang kebetulan mengangkat telfon dari anda tadi, dan sekarang saya membawakan makanan yang anda pesan. Saya minta maaf jika sedikit terlambat mengirimkan makanannya." Jawab staff tersebut.
"Tidak apa, yasudah masuk saja, dan taruh saja makananya di atas meja." Bian pun mempersilahkan staff tersebut melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi pak dari saya?" Tanya staff itu ketika sudah selesai menaruh makanannya di atas meja.
"Tidak ada, kamu boleh keluar. Ah, hari ini jika tidak ada yang penting banget tolong bilang pada yang lainya untuk menghubungiku jika ada sesuatu. Soalnya, hari ini aku lagi tak ingin menerima tamu. Dan aku juga akan memberitahu kalian jika membutuhkan sesuatu nanti." Jelas Bian.
"Baik, akan segera saya sampaikan pada yang lainya." Staff itu pun mundur dari hadapan Bian.
Bian pun beralih mengalihkan pandanganya pada makanan yang sudah ia pesan sebelumnya. Terlihat hampir pukul 7 pagi, dan ia baru memulai memakan sarapanya.
__ADS_1
...
Di saat Bian tengah menyantap makananya, ditempat lainya, seorang resepsionis tampak kebingungan dengan seorang tamu yang meminta permintaan aneh pada mereka.
"Maaf, maksud anda apa ya?"
"Aku ingin bertemu dengan pemimpin hotel kalian." Ucap tamu itu.
"Pemimpin hotel kami? Maaf, apa anda sudah membuat janji sama beliau sebelumnya?"
"Belum sih, karena itu aku datang kesini, karena aku mau bikin kejutan sama dia. Gimana, apa bisa?" Tanya tamu itu.
Tentu saja permintaan itu membuat dua staff bagian resepsionis kebingungan, karena bagaimana mereka bisa menemukan tamu itu pada pemimpin mereka, jika identitas tamu yang baru ia lihat itu tidak mereka tahu.
"Eh, kamu kenal sama dia?" Bisik teman disampingnya mencolek temanya yang kebetulan sedang melayani tamu tersebut.
"Enggak lha, ini pertemuan pertama kita." Jawabnya.
"Indah juga ternyata hotelnya." Gumamnya menatap sekelilingnya. "Eh, gimana? Bisa tidak aku bertemu dengan pemimpin kalian?" Tanyanya kemudian setelah melihat sekelilingnya, pada staff di depanya yang belum juga memberikan jawaban untuknya.
"Maaf, tapi pemimpin kami sedang tak masuk hari ini, tugas beliau tak ada di hari weekend ini." Jawab staff itu yang mengira tamu itu sedang mencari Kinan yang juga pemimpin hotel mereka.
"Hah! Yang benar? Eh, tapi dia kan tinggal dihotel ini? Gak mungkin kan dia juga keluar hari ini? Soalnya kata anda, tidak ada tugas hari ini, jadi harusnya ada di kamarnya dong sekarang, bisa tolong kasih tau dia tinggal di kamar apa, soalnya aku mau bertemu denganya."
"Tinggal disini?" Dua staff yang sedang berjaga saling pandang dengan menunjukkan ekspresi bingung mereka, lalu tiba-tiba jadi teringat akan sosok Bian yang tinggal dihotel yang kebetulan juga pemimpin hotel mereka.
"Apa yang anda maksud dengan pemimpin hotel itu adalah pak Bian?" Tanya staff itu mencoba memastikan tebakannya.
"Benar, itu yang sedang kucari, memangnya ada pemimpin selain dia?"
__ADS_1
Staff yang bertanya tampak terdiam, ia memandang wajah tamu itu dengan penuh selidik, ekspresinya seolah mengisyaratkan banyak pertanyaan.
"Maaf, tapi sepertinya itu sulit jika tak membuat janji pada beliau sebelumnya, dan saya juga tidak bisa memberitahukan kamar beliau pada anda." Akhirnya staff itu tak memberikan izin pada tamu yang hendak meminta bertemu dengan Bian.
"Em.. gak bisa ya, gimana dong sekarang? Sia-sia dong aku datang hari ini?" Ucapnya dengan muka agak cemberut.
"Eh, gimana kalau kalian bilang sama dia, bilang kalau ada tamu yang sedang mencari dia gitu. Aku benar-benar tidak bisa telfon dia, soalnya aku mau bikin kejutan sama dia, jadi please, telfon dia untukku ya..." Mohon tamu itu dengan sangat.
Staff itu kembali terdiam mendengar permintaan dari tamu itu, "Kalau boleh tau, anda siapanya pak Bian, ya?" Tanya staff itu dengan agak penasaran.
"Ah, aku teman dekatnya." Senyum tamu itu pada kedua staff yang melayaninya.
...
"Kamu bilang siapa?" Bian mengulang pertanyaanya pada apa yang dia dengar dari salah satu staff resepsionis yang tengah menelfonya.
"Itu pak, ada seorang tamu yang sedang mencari anda. Beliau bilang teman dekat anda." Jawab staff itu.
"Bukan, maksudku namanya dia." Tekan Bian pada hal yang dimaksud.
"Beliau bilang namanya Adelia Putri Wahyana."
Tuut.. Telfon pun terputus, dan bian langsung keluar dari kamarnya menuju lobi hotel tempat Adel berada.
"Gimana? dia bilang mau kesini gak? atau aku yang ke kamarnya?" Tanya Adel saat panggilan telfon berakhir.
"Itu.. pak Bian belum sempat menjawabnya, karena beliau langsung menutup telfonya begitu saja."
"Eh.." Kaget Adel. "Ah, it's ok, Bian pasti lagi berlari menghampiriku. Terimakasih ya, aku akan tunggu disini." Ekspresinya berubah menjadi tenang meski sebelumnya sempat kaget, karena ia yakin kalau Bian pasti akan mendatangi dia.
__ADS_1
"Soalnya gak mungkin Bian menolakku.." Gumamnya sembari tersenyum.