
Pagi hari pukul 6 pagi, terlihat Bian sudah berada dalam arena gym untuk olahraga pagi. Dengan penampilan kasualnya yang hanya memakai kaos lengan pendek yang begitu jelas memperlihatkan otot-totot tubuhnya, Bian memulai aktifitas olahraga paginya dalam arena gym hotel.
Tampaknya penampilan dirinya begitu menarik perhatian pengunjung lainya, hingga mereka tak bisa melepaskan pandangan mereka pada Bian yang sedang olahraga, baik itu dari perempuan maupun laki-laki itu sendiri yang tampak mengagumi bentuk tubuh dan wajahnya yang bak seorang model itu. Meski tak terlalu terang-terangan, namun lirikan mereka yang tengah memperhatikan Bian yang sedang olahraga begitu mencuci mata mereka, khususnya bagi kaum wanita.
"Wah dia siapa ya? Badanya bagus banget, mana wajahnya ganteng pula." Bisik salah seorang perempuan pada teman disampingnya.
"Benar, badanya bagus banget, aku kok baru lihat dia ya, padahal aku sudah dua hari disini lho." Timpal temanya.
"Mungkin dia baru menginap dihotel ini?"
"Bisa jadi. Eh, apa kita perpanjang saja masa menginap kita di hotel ini?" Ucapnya dengan setengah bercanda.
Tampakmya tak hanya perempuan yang tengaj berbisik melihat kehadiran Bian di arena gym, para pria yang kebetulan ngegym bersamanya teihat merasa insecure sendiri ketika melihatnya.
"Gila, dia artis ya?" Celetuk seorang pria yang tampak kagum melihat wajah dan bentuk tubuhnya yang atletis.
"Model kali, atau gak ya artis pendatang baru, soalnya wajahnya belum terlalu familiar. Tapi kalau bukan dua-duanya, mungkin doi idol kali?" Saut lainya sembari berkelakar.
"Idol apa'an, emang ini dimana? Ngawur aja kalau ngomong."
"Bisa aja kan, siapa tau doi calon idol, soalnya wajahnya mulus banget kaya prusutan." Canda lainya, hingga mendapat gelak tawa lainya.
"Sudah-sudah, kita gymnya lebih semangat lagi aja, biar bentuk tubuh kita jadi seperti dia."
"Meski begitu, wajah kita gak akan bisa kaya dia sih?"
Krik.. Krik.. Krik.. Hening seketikan saat salah satu teman obrolanya menyerangnya dengan fakta.
__ADS_1
"Yaelah jangan terlalu jujur dong, kalau gak bisa ya setidaknya tubuh kita nih jadi seperti dia."
Semua bubar dan jadi semakin semangat melakukan gym. Entah mengapa mereka merasa tertantang.
Bisikan-bisikan kecil itu nyatanya masih bisa di dengar oleh Bian, meski kedua telinganya sudah ditutup oleh earphone sekalipun. Saat berjalan di treadmill, dia bisa merasakan kalau semua orang tengah memandang ke arahnya, bahkan saling berbisik tentangnya, meski begitu ia tetap cuek dan melanjutkan olahraganya.
Namun karena mereka menjadi tambah berisik, ia pun memilih menghentikan olahraganya yang baru ia lakukan tak lebih dari 15 menit. Lalu ia keluar begitu saja dari arena gym. Terlihat jelas semua mata tengah mencuri pandang ke arahnya yang tengah berjalan keluar dari arena gym. Bian menyadari itu, namun dia tetap memilih untuk stay cool akan itu.
"Yah sayang banget dia udah selesai, padahal baru sebentar olahraganya." Keluh seorang perempuan yang melihat kepergian Bian.
...
Dalam perjalanan menuju kembali ke kamarnya, Bian tak henti-hentinya membuang nafas, seolah merasa bisa bernafas lega setelah keluar dari arena gym tadi.
"Apa mereka selalu berisik begitu, ya?" Keluh Bian yang merasa tak nyaman dengan situasinya tadi. Padahal ini kesempatan pertamanya untuk ngegym setelah datang ke jogja, karena ia yang biasanya memilih lari pagi.
"Tunggu..." Panggil seseorang pada Bian yang tengah berjalan ke arah kamarnya.
"Kamu memanggilku?" Tanyanya pada seorang perempuan yang tengah berlari ke arahnya.
"Benar," Ucap perempuan itu mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena mengejar Bian.
"Ada apa? Apa kamu mengenalku?" Tanya Bian dengan ekspresi bingung pada perempuan itu.
"Aku gak mengenalmu, makanya aku tadi menghentikanmu, soalnya ada yang mau aku tanyakan padamu" Balas perempuan itu dengan tersenyum. "Namaku Aurel, nama kamu siapa ya?" Ucapnya lalu mengulurkan tangan pada Bian yang berdiri di depanya.
"Maaf, anda menghentikan saya untuk apa ya? Saya ingin langsung ke intinya saja?" Bian tampaknya tak tertarik hingga mengabaikan uluran tangan perempuan itu.
__ADS_1
"Wow.. cowok to the point ternyata. Ok, aku akan bilang maksudku menghentikanmu tadi, aku ingin berkenalan denganmu dan lebih tepanya aku ingin berturkar nomor ponsel denganmu." Balas perempuan itu dengan penuh percaya diri.
"Rasanya kita tidak sedekat itu deh, hingga bisa saling bertukar kontak begini, maaf saya tidak bisa." Tolak Bian dengan tegas, lalu pergi meninggalkan perempuan itu.
"Hey, tunggu. Aku kan belum selesai bicara." Cegat perempuan itu dengan memegang lengan Bian. "Justru karena kita tidak saling kenal, makanya kita harus kenalan agar bisa dekat." Ucaapnya mencoba meyakinkan Bian.
"Maaf, saya benar-benar tidak ingin berkenalan dengan anda, apalagi bertukar kontak, karena itu apa anda bisa menyingkir dari hadapan saya sekarang? Oh, dan satu lagi, saya juga tidak tertarik dengan anda." Balas Bian yang kemudian melepaskan tangan perempuan itu dengan paksa, lalu kembali pergi menjauh dari hadapan perempuan yang tak dikenalnya itu.
"Dasar sombong, mentang-mentang dia ganteng, bisa kasar gitu apa sama cewek? Kan bisa ngomong baik-baik," Kesal perempuan itu menatap punggung Bian yang berjalan menjauh darinya, "Aku tadi kan cuma lagi usaha, kalau gak bisa ya.. sudah. Dasar sombong, aku gak mau kenalan sama dia lagi." Kesal perempuan itu dengan muka bersungut, lalu ikutan pergi.
...
Tak ada yang berjalan dengan baik pada pagi harinya saat ini, Bian kembali ke kamarnya dengan muka tak bersahabat, karena terlalu kesal dengan situasinya tadi.
"Perempuan itu siapa lagi, berani juga dia." Gumamnya yang merasa tambah bad mood setelah bertemu dengan perempuan tadi.
"Dimas mana ya? Ah iya, dia kan izin padaku kemarin untuk berlibur bersama temamnya." Bian menghela nafas panjang mengetahui dirinya sekarang yang hanya seorang diri. Entah mengapa ia jadi merasa kesepian.
"Apa aku juga coba liburan disini ya? Aku akan belum coba explore kota ini. Apalagi sudah hampir lebih dari tiga minggu aku tinggal disini?" Ucap Bian setelah melihat Dimas yang berlibur dengan teman lamanya.
"Ah, tapi aku kan juga gak tau mau kemana?" Tutupnya yang kembali menghela nafas.
"Mandi sajalah." Dengan perasa tak bersemangat, ia pun memilih ke kamar mandi untuk membersihakn keringatnya yang bikin badanya lengket meski tak terlalu lama berolahraga tadi.
...
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Aku mau check in dihotel ini, dan sekalian ingin bertemu dengan seseorang, apa bisa?"
"Seseorang?"