Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
137. Bian dan Keinginanya


__ADS_3

"Wah.. gila, aku benar-benar masih nggak percaya soal ini." Gumam Adnan yang masih saja tak percaya dengan niat Bian yang hendak menikah.


"Wajar sih kalau kamu masih tidak percaya, karena pasti menurutmu keputusanku ini terkesan terburu-buru, kan? Tapi, kamu tenang saja soal itu, karena aku sudah memikirkan hal ini dengan matang sebelum berniat ingin melakukanya." Ujar Bian.


"Baguslah kalau memang sudah kamu fikirkan dengan matang, karena kamu tau sendiri kan kalau menikah dan pacaran itu dua hal yang berbeda?"


"Aku tau dengan benar soal itu, karena itu aku memikirkanya dulu sebelum melamarnya."


"Hah!, jadi kamu sudah melamar pacarmu?" Adnan kembali terkejut dengan pernyataan Bian.


"Sudah sih, cuma masih sebatas pernyataan saja, belum secara resmi kulakukan."


Saat itu ia sedikit terpancing dengan suasana yang terjadi antara dirinya dan Kinan, hingga tanpa sadar langsung mengucapkan kalimat itu di depan Kinan, tapi untungnya Kinan tak menolak ajakanya untuk menikah, meski awalanya ia terlihat terkejut dengan lamaran darinya yang tiba-tiba.


Untung saat itu aku nggak ditolak, karena sebenarnya aku masih menunggu momen buat mengatakan hal ini padanya.


Tak ingin membebani Kinan, menjadi alasan Bian tak ingin terlihat terburu-buru untuk melamarnya, karena takut membuat Kinan tak nyaman ataupun merasa terpaksa menerimanya. Namun setelah Kinan yang justru tak keberatan dan setuju dengan lamaranya, membuatnya jadi kepikiran soal waktu yang tepat untuk melamar Kinan secara resmi.


"Tunggu, tadi kamu bilang kalau pacarmu ada disini, kan? Lalu dia tinggal dimana selama ada disini?, nggak mungkin dia tidur di apartemen bersamamu, kan?"


"Ya enggak lah, dia memang tinggal diapartemenku, dan aku yang tinggal dirumah orang tuaku. Hal yang kamu khawatirkan itu tidak akan pernah terjadi."

__ADS_1


Mengerti dengan maksud Adnan menanyakan hal itu padanya, Bian pun dengan cepat langsung memberi penjelasan pada Adnan.


"Oh gitu, tapi gimana dengan Adel sekarang? Sepertinya nggak akan mudah untuk memberitahukan hal ini padanya."


"Iya sih, tapi meski sulit aku akan tetap memberitahukan soal ini padanya."


Bukan tanpa alasan akan sedikit sulit untuk Bian mengatakan langsung pada Adel. Mengingat hubungan antara dirinya dengan Adel belumlah selesai sepenuhnya. Mengingat setelah pernyataannya dulu hingga kini belum adanya kejelasan yang pasti antara dirinya dan Adel, hingga masih meninggalkan kesan ambigu dan menggantung tak jelas. Karena itu, ia pun ingin mengatakan langsung pada Adel tentang hubunganya dengan Kinan, agar semuanya terlihat jelas dan tak ada lagi keabu-abuan dalam hubunganya dengan Adel kedepanya.


Walaupun ia tau pasti Adel tak menyimpan perasaan padanya, juga dengan dirinya yang teenyata lebih menaruh perhatian dengan Adel layaknya sebagai seorang teman dan keluarga, namun tetap saja baginya untuk memperjelas semuanya, terlebih untuk mempertegas hubunganya kedepan bersama Kinan yang harus semakin jelas dan tak ada lagi hal yang menghalangi nanti.


"Oh, iya soal keluargamu gimana?, apa mereka benar-benar sudah menerima Kinan?" Tanya Adnan.


"Mereka sih terima-terima saja, kalaupun mereka menolak hubunganku dengan Kinan, aku tetap akan melanjutkan hubungan ini meski mereka tidak setuju sekalipun." Ungkap Bian menceritakan keseriusanya.


Ia yang tak pernah melihat ekpsresi serius yang diperlihatkan oleh Bian, juga dengan keputusanya yang begitu berani mengambil langkah seperti ini, nampaknya masih tidak percaya dan terkesan tak menyangka. Ia seperti melihat sosok lain dari diri sahabatnya itu.


"Aku salute sama tekad dan keberanianmu." Ucap Adnan memberi pujian pada sikap gantle yang ditunjukan oleh sahabatnya. Sikapnya itu ternyata membuatnya begitu salut padanya. Bian yang mendengar pujian dari Adnan, hanya bisa tersenyum simpul karenanya.


Keduanya pun kini mencoba mengalihkan fokusnya pada acara ulang tahun Adel yang kini jadi semakin meriah.


.....

__ADS_1


Gemerlapnya pesta ulang tahun Adel, dengan dekorasi yang memperlihatkan kemegahan, juga para tamu undangan yang sudah memenuhi gedung acara, makin menambah kemeriahan acara. Adnan dan Bian yang sedari tadi hanya ngobrol berdua pun, kini ikut menikmati acara, meski ada rasa canggung di dalamnya.


"Duh, sorry ya aku agak lama, habisnya tamunya banyak banget." Kata Adel yang akhirnya berhasil menghampiri kembali kedua sahabatnya setelah sempat terjebak dengan para tamu lainya.


"It's okay, ini kan memang pesta milik kamu, wajar kalau kamu memang jadi sedikit sibuk seperti ini." Ucap Adnan yang mengerti posisi Adel.


Mendengar itu, Adel pun jadi tersenyum lega. Namun saat melihat Bian yang tak bicara membuat wajahnya seketika menatap ke arahnya.


"Bi, kamu kok diam aja, sih?." Adel berbalik ke arah Bian yang justru terlihat melamun. "Jangan bilang, kamu bosan lagi sama pestaku?" Ucapnya sedikit menuduh


"Ah, enggak kok, aku lagi terhanyut sama musiknya makanya jadi diam." Elaknya cepat bersamaan dengan senyum canggungnya yang terlanjur ketahuan kalau sedang melamun.


"Bohong, ekspresi kamu terlihat jelas tuh kalau lagi bosan." Cemberut Adel melihat Bian yang terkesan tak menikmati pesta ulang tahunya.


"Sorry deh, mungkin ini masih ada efek begadang tadi malam. Tapi, aku menikmati kok pestanya. Serius, deh!" Ujar Bian mencoba menenangkan Adel dengan mengangkat dua jarinya, meski ia tak mengatakan alasan sebenarnya mengapa ia jadi tidak semangat.


"Karena ini hari ulang tahunku, aku bakal maafin kamu." Adel pun tak lagi memperbesarnya dan Bian pun akhirnya bisa bernafas lega mendengar itu, sedangkan Adnan hanya tersenyum melihat sahabatnya yang lagi kesusahan mengahadapi Adel yang sedang merajuk.


.....


Melihat ia yang sudah lebih dari satu jam berada dalam pesta, tak menampik bagi Bian yang mulai merasa bosan, karena sebenarnya ia juga tak terlalu menyukai pesta. Terlebih ada seseorang yang sedang ia pikirkan sekarang, dan sosok itu tak lain adalah Kinan. Karena sudah pergi terlalu lama, terlebih belum adanya komunikasi lagi setelah kepergianya membuatnya jadi terus kepikiran soal Kinan yang saat ini tinggal sendiri di dalam apartemenya.

__ADS_1


"Dia sudah tidur belum, ya?" Batinya sembari menatap arah jam ditanganya yang ternyata sudah mau masuk jam 10 malam.


__ADS_2