Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
61. Janji Saat Kecil


__ADS_3

"Kamu mau pulang?" Sapa seseorang dari arah belakang.


Kinan menoleh pada orang yang menyapanya, dan mendapati orang yang dikenalnya.


"Mas Bayu," Panggil Kinan dengan ekspresi terkejut melihat kehadiranya. "Eh, kok mas Bayu bisa ada disini?" Tanyanya yang masih kaget.


"Aku sengaja jemput kamu, sudah mau pulang kan?"


"Iya sih, tapi bagaimana mas Bayu bisa tau kalau aku akan pulang terlambat hari ini?"


"Kan kamu sendiri yang bilang, waktu aku telfon tadi."


"Ah, benar juga. Tapi kan, mas Bayu gak tau jam berapanya? Gimana kalau tadi aku sudah pulang, kan nanti jadi sia-sia datangnya."


"Benar juga ya, tadi aku hanya nebak saja sih. Mungkin aku lagi beruntung hari ini." Kelakar Bayu. "Yaudah ayo pulang sekarang." Ucapnya lagi.


"Oh, tapi aku harus ambil motorku dulu." Kata Kinan pada motornya yang ia tinggal dirumah Bayu.


"Sudah malam, besok saja." Ujar Bayu yang melihat sudah pukul 10 malam.


"Tapi kan.., yah berarti besok aku harus naik ojek lagi dong."


"Bukanya besok weekend?"


"Ah iya juga, aku lupa." Kinan tertawa kecil menyadari kesalahanya.


"Dasar, kebanyakan kerja sih jadi lupa kalau besok weekend."


Keduanya pun berjalan menuju mobil dan hendak pulang bersama. Dari kejauhan terlihat Bian yang kembali tak sengaja melihat kedekatan keduanya. Ia keluar dari kamarnya, saat teringat akan Kinan yang tak membawa motor, dan hendak menawarkan diri untuk mengantar pulang, sekalian ingin berbincang padanya, karena ada hal yang ingin dia pastikan.


"Aku terlambat." Gumamnya melihat kepergian Kinan bersama Bayu. "Dia laki-laki yang ku lihat kemarin di rumah sakit, kan?" Ucapnya lagi mencoba mengingat sosok Bayu. "Kenapa aku jadi kesal, ya?" Umpatnya kemudian.


Sorot matanya terlihat kesal ketika melihat kedekatan Kinan dengan Bayu, apalagi jika melihat tawa Kinan bersama Bayu yang begitu lepas. Dari ekspresinya seperti terkesima pada Kinan yang bisa membuat ekspresi seperti itu. Melihatnya entah mengapa membuat sudut hatinya menjadi bergejolak.


"Kenapa.." Pegang Bian pada dadanya yang terasa terus berdetak tak beraturan.


...

__ADS_1


Meski baru satu hari kepergian orang tuanya, bahkan terjadi sekaligus pada kedua orang tuanya, Kinan merasa takjub melihat ketegaran dari Bayu. Ia tak mencoba menunjukkan kesedihanya, meski ia tau Bayu pasti akan sedih soal itu, namun dia malah menahan kesedihanya, dan malah menenangkan dirinya dan Ayu yang menangis karena bersedih melepas orang tuanya kemarin.


"Mas Bayu gapapa, kan?" Tanya Kinan dalam perjalanan mereka.


"Aku? memangnya aku kenapa?"


"Mas Bayu kalau mau nangis, nangis aja, Kinan gak keberatan soal itu. Atau kalau mau mencurahkan kesedihan juga boleh." Kata Kinan.


Bayu hanya tersenyum tipis, ia terdiam tak menjawab perkataan Kinan yang tengah menghwatirkan kondisinya.


"Mas," Panggil Kinan pada Bayu yang justru terdiam.


"Aku gapapa kok, meski sebenarnya ini sedikit sulit. Tapi, beneran aku gapapa, jadi kamu tenang saja, ok." Jawab Bayu mencoba tetap tenang, yang tak ingin membuat Kinan lebih kawatir padanya.


Kinan mencoba memahami kondisi Bayu, dan ia tak lagi memaksa Bayu untuk berbicara lebih lagi soal kepergian orang tuanya. Hingga mereka sampai di kosan miliknya, tak ada pembahasan soal itu bahkan seringkali terdiam seolah tengah merenungkan sesuatu.


"Besok aku akan mampir kerumah untuk ambil motor, untuk hari ini terimaksih sudah mengantarkan Kinan pulang. Mas Bayu hati-hati ya dijalan." Kata Kinan selepas turun dari mobil.


"Em, masuklah." Balas Bayu yang tetap berada dalam mobil, lalu kembali menyalakan mobilnya begitu Kinan turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kosan.


...


Sepertinya ada banyak hal yang dia pikirkan, hingga tak bisa fokus pada pekerjaan yang menumpuk di depanya.


"Baru kali ini aku dibuat penasaran akan seseorang." Ucapnya sedikit menghela nafas.


"Saking penasaranya hingga membuatku terus kepikiran, bahkan susah untuk memalingkan pikiranku." Ucapnya lagi yang lagi-lagi dibuat kacau oleh hubungan bersama Kinan.


"Teman gadis kecilku, sebenarnya saat bertemu kembali, apa yang akan aku lakukan padanya?"


Kembali menghela nafas panjang, Bian menjatuhkan tubuhnya pada sofa di depanya.


"Sial." Umpatnya kesal.


......................


"Kenapa hadiahnya tidak diberikan sekarang?" Tanya gadis kecil itu dengan polos.

__ADS_1


"Gak bisa dong, harus dikasih saat bertemu kembali nanti." Jelas Bian kecil.


"Ah gak mau ah, masa kalungnya mau di ambil lagi, padahal kan sudah dikasih ke aku." Ucap gadis kecil itu yang tak rela jika menyerahkan kalung yang sudah terlanjur diberikan padanya.


"Aku gak akan mengambilnya, hanya mengganti yang baru, kan siapa tahu kita bertemu saat kita sudah besar, dan kalungnya jadi tidak muat lagi buat Kinan." Jelas Bian kecil.


"Oh.. gitu, ok deh, tapi kakak janji ya akan memberikanku hadiah yang lebih bagus dari ini dan hadiah yang banyak juga." Kata gadis kecil itu dengan senyum cerianya.


"Ok, tapi Kinan juga harus menepati janji sama kakak,"


"Janji?" Kinan menatap bingung Bian kecil.


"Iya janji yang Kinan katakan tadi sama kakak, kalau nanti Kinan sudah punya uang sendiri, Kinan akan memberikan hadiah buat kakak. Yah kok lupa sih," Cemberut Bian.


Kinan kecil hanya bisa tertawa kecil saat melupakan perkataanya tadi.


"Awas lho ya, nanti janjinya akan aku tagih pokoknya." Tekan Bian kecil dengan ekspresi tegas.


Meski ekspresinya tampak tak yakin, namun gadis kecil itu terlihat menyanggupi janjinya pada Bian dengan mengaitkan jari kelingkingnya, meski sebenarnya ia sendiri tak tahu akankah bisa bertemu kembali dengan Bian.


Janji yang dibuat saat kecil itu terlihat mustahil diwujudkan, karena tak pernah terbayangkan akan bisa bertemu kembali seperti ini. Namun, seperti sebuah takdir, mereka bisa dipertemukan lagi saat ini setelah lebih dari 21 tahun tak pernah bertemu. Meski tentu saja hubunganya menjadi sedikit canggung, mengingat itu yang sudah lama, terlebih status mereka saat ini.


"Sepertinya hanya aku yang mengingat janji itu." Gumam Bian yang kembali mengingat momennya bersama Kinan saat di panti asuhan.


"Haruskah aku tagih janjinya?"


...


Sayangnya besok adalah weekend, Bian terpaksa menunda pertemuanya dengan Kinan. Namun seperti sudah memiliki rencana, ia tak lagi merasa khawatir akan itu,dan memilih kembali pada aktivitas sibuknya.


"Aku juga ingin istirahat, tapi hal itu sepertinya benar-benar jauh dariku." Gumamnya, yang harus kembali berkutat pada kesehariannya yang super sibuk.


Ting, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Coba tebak, apa yang akan kulakukan besok?" Bian membuka pesan tersebut, dan terlihat dari Adel yang lagi-lagi coba mengajaknya bermain tebak-tebakan.


"Aku gak tau, memangnya kamu mau apa?" Balas Bian.

__ADS_1


"Rahasia."


__ADS_2