
"Nan, kamu juga merasa aneh kan sama perilaku Bian hari ini?" Adel yang pulang bersama Adnan setelah dari apartemen Bian, tampaknya masih dibuat penasaran dengan sikap aneh yang ditunjukkan oleh Bian.
"Aneh gimana?" Adnan yang sedang mengantar Adel, bertanya balik dengan yang dimaksud oleh Adel.
"Kamu kan tadi sudah melihat ekpresinya yang suka senyum-senyum sendiri?"
"Iya sih, memang sedikit agak aneh." Balas Adnan sembari terus fokus menyetir mobil.
"Bukan agak lagi, tapi Bian benar-benar aneh. Kamu merasa nggak sih, kalau Bian lagi menyembunyikan sesuatu dari kita?"
Adnan melirik canggung pada Adel yang duduk disampingnya, karena perkataanya itu tiba-tiba membuatnya teringat pada Bian yang lebih dulu memberitahukan soal kepindahannya ke kantor pusat, terlebih soal..
Ciiit..., seketika Adnan tiba-tiba mendadak mengerem mobilnya ketika teringat sesuatu.
"Aduh, kamu kenapa? Kenapa mengerem mendadak begini, sih? Apa ada orang yang menyebrang di depan?" Adel yang cukup terkejut pada Adnan yang tiba-tiba menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat berbagai pertanyaan pada Adnan.
"Ah, sorry Del, iya tadi seperti ada sesuatu di depan, makanya tadi aku langsung reflek mengerem mobilnya" Jawab Adnan yang sejatinya sedang berbohong, mengingat tidak ada siapapun yang lewat di depan mobilnya .
"Duh, bahaya tau kalau berhenti mendadak begini? Memangnya siapa sih yang lewat di depan mobil kamu? Orang? atau justru hewan?"
"Iya aku minta maaf, dan aku juga nggak tau soal itu, soalnya tadi cepet banget lewar deoan mobilku." Ujar Adnan lagi.
"Sekarang sudah nggak ada, kan?" Tanya Adel memastikan.
"Iya, sepertinya sudah tidak ada." Balas Adnan setelah mencoba memastikan hal di depan mobilnya.
"kalau gitu kita lanjutkan saja perjalanannya lagi."
"Ok, tapi kamu gapapa, kan? Sorry banget tadi aku mengerem mendadak." Ucap Adnan merasa sedikit bersalah.
"Untungnya sih gapapa, kalau ada apa-apa, kamu sudah ku suruh ganti rugi, tau."
"Haha, iya deh, sorry. Nanti aku bakal hati-hati lagi."
__ADS_1
Adnan pun kembali mengemudikan mobilnya dan melanjutkan lagi perjalanannya bersama Adel.
"Sekarang aku mengerti kenapa sikap Bian seperti tadi. Mungkinkah dia sekarang...?
Di samping itu, Adnan yang mulai mengerti maksud dari ekspresi yang diperlihatkan oleh Bian tadi, mulai faham dengan yang terjadi padanya.
"Aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan perempuan yang dia suka itu? Kinan atau siapalah itu.."
Saat menebak apa yang terjadi pada Bian hari ini, terlebih sikapnya yang tidak biasa, membuat Adnan merasakan perasaan bingung ketika menatap Adel. Ada perasaan sulit untuk ia ungkapkan perihal Bian pada Adel. Terlebih Adel adalah orang yang dulu pernah Bian suka.
"Kalau dia tau soal hal ini, apakah dia akan baik-baik saja?" - Batinnya, mengarah pada Adel yang duduk tepat di sampingnya.
Kalimat yang pernah Bian katakan padanya saat bertemu, soal Adel yang tak menyukai Bian, kembali membuatnya teringat akan percakapannya bersama Bian beberapa saat lalu.
Apa iya Adel tidak menyukai Bian?
Tampaknya Adnan masih tak begitu mempercayai ucapan Bian soal itu. Karena selama ini ia tahu betul bagaimana perasaan Adel selama Bian tidak disampingnya.
"Del.." Panggil Adnan.
"Bukan apa-apa sih, cuma.. ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu." Kata Adnan lagi.
"Menanyakan hal padaku? Apa itu?" Balas Adel, yang kini menoleh ke arah Adnan.
"Emm.. itu.., kamu jangan marah tapi." Adnan yang sembari menyetir menatap ragu Adel disampingnya.
"Ya apa dulu dong, aku kan belum tau apa yang mau kamu tanyakan sama aku, mana bisa aku memutuskan akan marah atau tidak sama kamu. Tapi, apa sih yang sebenarnya ingin kamu tanyakan sama aku, sampai kamu ragu-ragu gini?"
"Ini soal Bian." Ucap Adnan kemudian.
"Soal Bian? Memangnya ada apa dengan Bian?" Adel menatap bingung pada Adnan.
"Apa kamu suka sama Bian?" Adnan menoleh ke arah wajah Adel saat mengatakannya.
__ADS_1
Hal itu, tentu saja membuat Adel tertegun. Ia terpaku mendengar pertanyaan dari Adnan yang tiba-tiba.
"Ke-kenapa kamu tiba-tiba menanyakan soal itu padaku?" Adel menjawabnya dengan canggung dan terkesan menghindari tatapan mata Adnan.
"Gapapa, hanya ingin tau saja. Apa benar kamu suka atau tidak pada Bian?" Balas Bian yang terus melajukan mobilnya dengan perlahan.
"Kalau aku suka, memangnya apa yang akan kamu lakukan? Kalau tidak pun, apa yang kamu lakukan padaku?" Adel berbalik bertanya maksud tujuan Adnan menanyakan hal itu padanya.
"Kalau kamu suka pada Bian setidaknya aku jadi tau perasaanmu sebenarnya pada Bian seperti apa, dengan begitu aku tidak akan bertanya-tanya lagi soal itu. Kalau tidak.. aku mungkin sedikit merasa lega soal itu."
Perkataan Adnan membuat Adel merasa aneh dan mendadak canggung ketika mendengarnya.
"Kenapa kamu mendadak tanya soal hal ini padaku? Apa perlu aku memberi jawaban soal pertanyaanmu ini?"
"Iya, karena aku ingin mendengarnya langsung dari kamu hari ini." Adnan mengangguk kecil.
"Apasih, kenapa jadi serius begini. Padahal kamu tau sendiri jawaban aku selama ini seperti apa. Aku tuh suka sama Bian, begitupun dengan kamu juga." Jawab Adel akhirnya.
Mendengar jawaban Adel, tentu saja tak membuat Adnan merasa lega. Ekspresinya masih dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Aku bertanya soal perasaan kamu sebagai seorang perempuan terhadap Bian yang seorang laki-laki. Bukan sebagai teman kamu, melainkan lawan jenis kamu?" Ujar Adnan lagi, mencoba mencari tahu kembali perasaan Adel terhadap Bian.
"Sepertinya bukan hanya Bian yang aneh ya, kamu juga aneh hari ini. Kalian berdua sebenarnya ada apa sih?" Adel menatap Adnan yang bersikap aneh seperti apa yang terjadi dengan Bian tadi dan merasa bingung pada kondisi dua sahabatnya itu, terlebih ia dibuat bingung pada pertanyaan Adnan yang begitu aneh baginya.
"Sudahlah, turunkan saja aku di depan, kita sudah sampai depan rumahku."
Merasa telah sampai di depan rumahnya, Adel meminta Adnan untuk menghentikan mobilnya dan memilih mengabaikan pertanyaan Adnan.
"Sebenarnya aku nggak masalah jika kalian berdua saling suka dan akhirnya memilih berkencan, aku sebagai teman kalian berdua akan mendukung hal itu, meski jujur perasaanku pasti akan sakit awalnya. Meski begitu, aku tetap ingin menjadi teman kalian berdua dan bermain bersama seperti biasanya, meski pasti ada jarak disitu."
Adnan mengutarakan kalimatnya sebelum Adel turun dari mobil, dan Adel yang mendengarnya langsung dibuat terdiam oleh ucapan yang dilontarkan oleh Adnan.
"Aku turun, kamu hati-hati dijalan. Terimaksih juga karena sudah mengantarku pulang." Ucap Adel, yang kemudian memilih keluar dari mobil dan memilih tak menanggapi ucapan Adnan.
__ADS_1
Ternyata benar, Adel tidak menyukai Bian.
Adnan seperti sudah menemukan jawaban dari keraguanya sendiri.