
"Panti asuhanya hangus semua, dan mereka semua pada mengungsi ke tempat lain?" Tutur Rudy yang menyampaikan pesan pada istrinya, Risa.
"Lalu bagaimana dengan anak ini? Oh, apa mungkin dia bukan anak dari panti asuhan itu?" Jawab Risa yang menghawatirkan kondisi anak yang hampir di tabraknya itu.
Ketika kedua pasangan suami istri itu tengah berdebat membicarakan masalah anak yang ditemukan oleh mereka, terlihat anak yang sedari kemarin terbaring tak sadarkan diri, kini perlahan membuka matanya, dan mulai bisa di ajak bicara. Meski kondisinya masih lemah, namun darinya kedua pasangan suami istri itu bisa bernafas lega.
"Kamu tidak ingat siapa kamu?'' Tanya Risa pada anak yang telah bangun itu dengan wajah kaget, dan mendapat anggukan kecil dari kepala mungilnya.
"Pa, bagaimana ini?'' Tanya Risa yang beralih menatap Rudy dengan wajah panik.
"Tenang, ya. Kita tanyakan dulu pada dokter.'' Ucap Rudy menenangkan Risa yang terlihat khawatir bercampur takut, mengingat anak ini pingsan karena mereka.
...
17 tahun yang lalu, bukan hal yang mudah bagi anak yang bernama Fidelia, yang juga bernama Adelia. Karena saat itu ia baru berusia 8 tahun, dan harus menanggung rasa sulit yang ia dapatkan dari masalah yang tak sengaja ia lakukan.
Saat ini, dalam kamarnya seorang diri, Adel terlihat kembali membuka memorinya dalam masa lalunya dulu di panti asuhan. Hal yang sudah dengan susah payah ia lupakan menjadi teringat kembali, terutama kejadian buruk yang terakhir kali ia alami dulu.
"Ah, sial." Umpatnya kesal ketika mengingat kejadian itu lagi.
Salah satu anak panti asuhanya dulu, yang kebetulan mengingat akan dirinya tiba-tiba saja menyapanya ketika ia sedang dalam perjalanan pulang dari restaurant yang habis ia kunjungi.
"Lia," Panggil seseorang dari arah belakang. "Kamu Lia, kan?'' Ucapnya lagi ketika melihatnya dari dekat.
Karena sudah lama tak mendengar orang memanggil nama lamanya, membuat Adel menatap kaget orang di depanya.
"Anda siapa? Apa anda mengenal saya?" Ucap Adel kemudian dengan mencoba tetap tenang.
__ADS_1
"Oh, itu, apa nama anda Lia?" Tanya orang itu mencoba memastikan.
Adel tampak menelan salivanya, seolah merasa gugup ketika nama itu dipanggil. "Bukan, namaku Adel." Jawabnya kemudian.
"Oh, anda bukan Lia, ya? Maaf, soalnya wajah anda mirip dengan temanku dulu." Jawab orang itu yang langsung meminta maaf.
Mendengar itu, entah mengapa membuat Adel merasa lega. "Iya, namaku Adel, bukan Lia." Tekan Adel pada kalimatnya.
"Kalau begitu saya pergi dulu jika anda tidak ada keperluan lain." Tutur Adel berangsur pergi begitu orang yang memanggilnya terlihat tak begitu mengenalinya.
"Iya, maaf sudah menahan anda." Balas orang itu dan membiarkan Adel pergi.
Saat keluar dari restaurant, ekspresi Adel menjadi tak begitu baik, karena mengingatkan kembali akan masa lalunya di panti asuhan yang sudah sangat lama ia lupakan.
Padahal ia sempat merasa takut ketika orang itu menanyakannya lebih soal panti asuhanya dulu, namun hatinya lega ketika orang itu tak begitu mengenalinya. Meskipun masih ada rasa yang sedikit mengganjal dalam hatinya yang tak bisa tenang akan itu. Karena itulah saat ia pulang kerumah, ia kembali mencari barang-barangnya dulu yang tersimpan dalam gudang rumah, dan memilih membuang dan menguburkanya.
...
"Aku bahkan tidak berani menunjukkan kalung pemberian darinya." Ucapnya yang berusaha menyembunyikan kalung pemberian Bian yang sedang ia pakai saat ini. Bahkan sampai sekarang, Kinan masih tak percaya dengan hadiah yang diberikan oleh Bian padanya, hingga terus saja merasa kepikiran.
"Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengan beliau nanti, ya?" Ucapnya kembali teringat akan isi pembicaraan terakhirnya tadi bersama Bian.
Kinan kembali terdiam ketika mengingat kembali sikap Bian padanya, seolah masih tak percaya pada sikap Bian yang begitu lembut padanya ketika berbicara. Ini adalah hal yang aneh baginya, mengingat Bian tak pernah bicara seperti ini ketika pertemuan pertama mereka dulu.
Melihat sikap ramah dan lembut Bian padanya, terus saja membuatnya kepikiran. Meski sudah berusaha untuk menyingkirkan pikiran itu dalam otaknya, namun tetap saja tak bisa hilang, dan justru semakin kepikiran. Hingga tanpa sadar membuatnya terus tak bisa fokus dalam pekerjaanya, dan berulang kali menyadarkan dirinya sendiri untuk tetap fokus.
"Sadar Kinan, jangan teralu terhanyut akan itu. Dan, mungkin tadi pak Bian benar-benar hanya ingin menepati janjinya dulu padaku." Tepuk-tepuk Kinan pada kedua pipinya agar tetap sadar dan tak memikirkan hal yang terlalu jauh.
__ADS_1
"Benar, itu hanya untuk menepati janji. Karena itu, kamu jangan mikir yang aneh-aneh." Ucapnya kembali menyadarkan dirinya.
Tanpa ia sadari, tingkahnya yang terasa aneh karena banyak melamun, mendapat perhatian dari seseorang. Dan orang itu adalah Shiva, rekan kerja, dan juga teman yang dulu pernah dekat denganya, namun kini telah terang-terangan menunjukkan rasa tak sukanya pada Kinan.
"Dia berasa di pantai kali, ya?" Gumamnya tak suka menatap Kinan yang tengah terhanyut dengan pikiranya sendiri.
......................
Awal yang baru bagi hubungan Kinan dan juga Bian, yang kini telah sama-sama saling mengingat kenangan masa lalu mereka, bahkan janji yang pernah mereka buat dulu. Meski Kinan masih tak mengetahui niat Bian padanya, namun bagi Bian yang saat ini terlihat tersenyum di dalam kamarnya, tampak menikmati momen bahagianya yang akhirnya bisa dengan baik menepati janji yang ia buat dulu pada Kinan.
"Haruskah aku menghampirinya?" Ucapnya menatap jam ditanganya yang sudah menunjukkan jam pulang kerja Kinan.
Tanpa banyak pikir, Bian langsung bangkit dari duduknya, dan beralih keluar kamar untuk menemui Kinan. Entah mengapa sedari tadi ia tak bisa berhenti memikirkannya, hingga terus saja kepikiran dan ingin segera bertemu denganya.
"Haruskah aku memastikanya sekarang?" Batinya sambil berjalan ke arah Kinan berada saat ini.
Namun, langkahnya terhenti ketika sampai pada tujuanya. Mengingat ia yang melihat Kinan tengah bersiap untuk pulang, dan di antaranya banyak staff lainya yang tengah bergerumbul disampingnya, hingga membuatnya tak bisa menyela dan ikut nimbrung di dalamnya.
Ada hal yang menbuatnya terkesima ketika melihatnya, hingga tanpa sadar membuatnya terpaku mantapnya.
"Maaf, pak. Ada yang pak Bian butuhkan disini?" Panggil seorang staff ketika melihat keberadaan Bian.
Bian menoleh ke arah orang yang menegurnya, "Oh, itu. Aku sedang mencari Dimas, sekaligus mencari angin sejenak. Tidak ada, apa-apa kok, jadi kamu lanjutkan saja pekerjaanmu." Jawab Bian kemudian pada staff yang menegurnya.
"Baik." Jawab staff itu, lalu mengundurkan diri dari hadapan Bian.
"Eh.." Bian tampak kehilangan sosok Kinan ketika pandanganya teralihkan sejenak pada staff yang menegurnya tadi. Namun, dengan segera dia mencoba mengikuti keluar.
__ADS_1