
"Aku..., tak akan berhenti sampai disini saja." Ucap Bian dengan ekspresi penuh tekad.
Ia mengingat kembali pertemuanya bersama kedua teman masa kecilnya, yang sama-sama telah terpatri dalam hatinya. Meski berbeda waktu dan tempat, nyatanya masih begitu membekas dihatinya, hingga tanpa sadar telah mengacaukan perasaanya.
"Aku gak nyangka bakal dibuat bingung oleh perasaanku sendiri." Ucapnya tersenyum tak percaya pada dirinya sendiri, lalu mencoba mengalihkannya pada pekerjaan yang sempat ia tinggal tadi.
Bian kembali menyibukkan diri seperti biasanya, dengan sejenak mengalihkan perasaan yang sempat mengganggunya.
Hal yang ia pikir sederhana, namun ternyata lebih rumit dari yang ia kira. Dalam memastikan kembali akan perasaanya yang sebenarnya, ia bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sekedar memahaminya. Namun, kini ia seolah tercerahkan akan kegelisahan yang sempat melanda hati dan juga perasaanya. Yang ternyata bukan hanya sekedar hubungan pertemanan di masa lalu, namun juga kenangan yang ada bersamanya, begitu penuh makna yang mendalam hingga tersimpan dalam sudut hatinya, yang akhirnya menimbulkan rasa ketertarikan yang ada.
Rasa ketertarikan itu sejatinya hanya karena telah lama tersimpan dalam hatinya. Namun, tanpa ia sadari dengan seiring berjalannya waktu, telah mampu menggetarkan hatinya yang beku.
"Ku kira cinta itu sederhana? Namun lebih rumit dari yang aku kira."
......................
Pagi hari, pukul 08.00.
"Maaf pak, anda memanggil saya?" Ucap Kinan menghadap Bian begitu ia tiba dalam hotel.
"Iya, silahkan duduk, ada hal yang mau aku bahas sebentar dengan kamu dan juga Dimas nanti." Pinta Bian, lalu menunjuk sebuah kursi meminta Kinan untuk duduk.
Kinan menuruti perintah dari Bian, lalu duduk pada sebuah kursi dengan menunggu Dimas datang menghampiri mereka yang akan segera meeting.
"Sambil menunggu Dimas yang sedang mengambil berkas yang aku minta, aku minta kamu pelajari hal ini." Ucap Bian memberikan sebuah kertas pada Kinan, namun yang membuat terkejut adalah dirinya yang memilih duduk disamping Kinan, dan berbagi kursi yang sama, tidak seperti biasanya yang selalu duduk di kursi single.
__ADS_1
Kinan menerima kertas yang diberikan oleh Bian dengan ekspresi yang sedikit terkejut, namun dengan segera mencoba tetap tenang dan kembali fokus dengan pekerjaanya, meski tetap ada rasa tak nyaman dan canggung karena duduk cukup dekat dengan Bian. Ia bahkan tak bisa menyembunyikan rasa canggungnya, dengan terus memasang wajah tegang. Namun wajahnya menjadi lebih tenang saat melirik Bian yang berada disampingnya, terlihat tengah fokus pada pekerjaanya dan memperlihatkan ekspresi tenangnya. Kinan pun akhirnya bisa menghela nafas lega karena itu, meski tanpa ia tahu bahwa Bian yang berada disampingnya juga merasakan hal yang sama namun pura-pura bersikap dingin tanpa ekspresi.
"Pak, soal ini.."
"Ada apa?"
Keduanya menoleh berbarengan, hingga tanpa sadar saling menatap dalam dekat, yanh akhirnya menciptakan suasana yang canggung bagi keduanya. Tak ada suara dalam beberapa detik di antara keduanya, hingga tanpa sadar membuat ruangan terasa sunyi.
"Ah, sepertinya saya sudah mengerti, tadi sepertinya saya terlalu terburu-buru. Maaf." Kinan dengan cepat langsung mengalihkan pandanganya, ketika tak sengaja bertatap muka dengan Bian. Namun, sepertinya bukan karena itu satu-satunya yang membuatnya canggung, karena ia yang sempat ditatap dengan lekat oleh Bian tadi, bahkan sangat intens, hingga mengejutkan dirinya ketika melihatnya.
Suasana kembali hening ketika Kinan tak lagi berbicara dan fokus kembali pada pekerjaanya, seolah hal yang sempat mmebuatnya mereka dalam suasana canggung tak pernah terjadi. Namun dari sisi Bian terlihat tak bisa mengalihkan pandanganya dari Kinan yang kini duduk disampingnya, seolah dirinya yang segera ingin mengatakan sesuatu.
"Sebenarnya aku juga ada hal pribadi yang mau aku katakan padamu." Ucap Bian menaruh kembali kertas yang sempat ia baca, dan beralih menatap Kinan.
Merasakan tatapan itu dari sisi kanannya, membuat Kinan kembali menatap wajah Bian dengan sedikit canggung. Betapa tidak, karena Bian yang kini menatapnya penuh lekat dan begitu dalam sangat terasa asing baginya yang baru pertama kali mendapat tatapan itu, apalagi dengan situasi mereka saat ini yang cukup canggung.
"Em.., apa aku boleh bicara diluar pekerjaan sebentar?" Kata Bian mencoba mencairkan suasana mereka yang canggung dan kaku, dengan sedikit berbicara diluar pekerjaan.
Mata Kinan menatap Bian terkejut, "I-iya, silahkan." Jawabnya tanpa bisa menolak, meski sempat agak bingung.
"Sial, aku sendiri bingung mau bilang apa? Bicara diluar pekerjaan? Apa yang sebenarnya aku pikirkan coba?" Batin Bian bertengkar dengan pikiranya sendiri.
Ia bahkan tak berani menatap Kinan karena merasa agak canggung, setelah dengan random meminta mengobrol diluar pekerjaan. Namun, ia jadi terpikirkan akan sesuatu saat mencoba mencari suatu pembahasan.
"Ah, soal kalung yang kamu berikan padaku, apa kamu tidak suka sama kalungnya?" Ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Tidak kok pak, saya suka, tapi kan itu memang bukan milik saya, karena itu saya mengembalikanya pada anda." Sanggah Kinan dengan cepat dan sedikit kaget mendengar pertanyaan dari Bian tadi, karena itu ia spontan langsung menjawabnya langsung.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Balas Bian tersenyum mendnegarnya, lalu ia berdiri dari duduknya menuju suatu tempat untuk mengambil sesuatu.
"Kalau begitu kalungnya ku kembalikan lagi." Kata Bian mengembalikan kalung bandul gembok milik Kinan.
Kinan langsung berdiri ketika Bian menyodorkan sebuah kotak padanya, dan menerima kotak yang berisi kalungnya itu dengan sedikit terkejut bercampur bingung menatap Bian.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" Tanya Bian melihat ekspresi Kinan yang terlihat kebingungan.
"Ah, itu.. bukan saya tidak suka, tapi kan kalungnya milik anda, dan katanya saya harus mengembalikanya pada anda. Tapi, kenapa..?"
Bian tersenyum mendengarnya. "Kamu ingat ini?" Ucapnya sembari menunjuk kalung berbandul kunci yang sedang ia pakai pada lehernya.
Kinan tentu merasa kaget melihat kalung kunci yang merupakan pasangan kalung bandul gembok miliknya terpasang dengan rapi dileher Bian.
"Karena ini pasangan karena itu aku memakainya," Ucap Bian seolah menjawab rasa kaget dari Kinan.
"Aku mengembalikan kalungnya ke kamu karena dari awal aku tidak berniat mengambilnya. Apa kamu tidak ingat janji yang pernah aku katakan dulu? Juga janji yang kamu buat dulu sama aku?" Ucapnya lagi menatap Kinan yang terlihat masih bingung dengan apa yang dilihatnya.
"Eh," Lagi-lagi ia memasang wajah kaget ketika Bian mengatakan janjinya dulu.
"Ah, aku tau kamu pasti lupa." Bian hanya bisa tersenyum menatap Kinan yang hanya diam dan terlihat kebingungan.
"Aku pernah janji kan kalau akan memberikan hadiah saat kita bertemu kembali, karena itu aku memintamu untuk menjaga kalungnya dengan baik. Jadi, aku meminta kamu untuk menjaganya bukan mengambilnya." Jelas Bian.
__ADS_1
"Ah, iya. Sekarang saya mengingatnya." Jawab Kinan yang menjadi teringat ketika mendengar penjelasan dari Bian.
"Benarkah? Kalau begitu, apa kamu juga mengingat janji yang kamu buat padaku dulu?"