
"Besok kamu libur, kan?"
"I-iya."
"Harusnya kamu bisa ikut denganku? Jadi, bisakah kamu ikut denganku besok?"
Kinan sedikit bimbang ketika Bian kembali mengajaknya untuk ikut denganya, sejatinya ia ingin menolaknya, namun hatinya terlalu berat untuk mengatakanya, terlebih takut membuat Bian merasa kecewa padanya.
"Baik, saya akan ikut dengan anda." Ujarnya kemudian setelah sempat berfikir sejenak.
Senyum Bian langsung mengembang begitu mendengar jawaban Kinan. Perasaanya yang semula merasa takut Kinan akan menolaknya, berubah menjadi rasa lega.
"Aku senang mendengarnya, terimakasih ya."
Bian merasa berterimakasih pada Kinan yang mau mengikuti keinginannya, meski hatinya sudah ia persiapkan jikalau nanti Kinan akan menolak permintaanya.
"Iya." Kinan yang melihat senyum cerah yang diperlihatkan oleh Bian membuatnya ikut merasa senang dan tanpa sadar ikut menyunggingkan senyuman.
"Bagaimana kalau kita berangkat besok pagi? atau malam ini saja? Kamu setuju yang mana dari keduanya?" Ucap Bian berbalik bertanya pada Kinan.
"Ah, kalau saya sih, terserah kak Bian saja." Jawab Kinan yang lebih menyerahkannya pada Bian.
"Besok pagi saja ya, kita berangkat jam 7 gimana?" Ujar Bian.
"Iya, saya tidak apa." Balas Kinan yang tak merasa keberatan pada jadwal keberangkatanya.
"Ok, kalau begitu kita putuskan untuk berangkat besok pagi." Tutur Bian.
Meski sempat ragu, namun Kinan memutuskan untuk ikut dengan Bian, karena tak ingin membuat kecewa Bian dan ingin menghargai keputusannya yang ingin memperkenalkan dirinya pada keluarganya. Terlebih, ia juga menginginkan hubunganya dengan Bian melangkah lebih serius lagi. Dan, ia juga berharap hal itu akan baik-baik saja hingga kedepanya.
"Semoga ini keputusan yang baik buatku." Batinya pada keputusuan untuk mengikuti Bian bertemu keluarganya.
__ADS_1
....
Walaupun terkesan mendadak untuknya, juga terlalu tiba-tiba baginya, Kinan yang saat ini tengah berkencan dengan Bian, akan dihadapkan pada situasi yang membuatnya deg-degan dan juga rasa cemas. Ia yang baru beberapa hari meresmikan hubunganya dengan Bian, tampak tak menyangka jika hubunganya akan berjalan terlampau cepat seperti ini, terlebih kata-katanya saat itu ditanggapi dengan serius oleh Bian.
"Aku memang pernah mengenalnya dulu, tapi bagiku sekarang, beliau masih terlihat asing buatku."
Lebih dari 20 tahun berpisah dan tak pernah bertemu kembali setelah pertemuan pertamanya dengan Bian yang saat itu termasuk singkat dan masih kecil, wajar jika hubungannya bersama Bian saat ini masih terasa asing dan canggung bagi Kinan.
"Apa yang beliau suka dariku? Kenapa beliau bisa suka padaku?"
Merasa bingung pada alasan Bian bisa menyukai dirinya, membuat Kinan terus memikirkan alasanya dan juga bertanya-tanya. Terlebih baginya ini adalah hal yang begitu tak masuk akal untuknya, mengingat keduanya yang tak pernah berhubungan satu sama lain ataupun menjadi dekat lagi setelah pertemuan terakhir mereka saat itu.
"Aku masih merasa aneh, tapi takut untuk bertanya langsung padanya."
Meski ia berhasil menjalin kasih bersama Bian, yang notabenya adalah atasanya sendiri, Kinan masih merasa tak percaya pada Bian yang bisa menyukai dan jatuh cinta padanya. Ia merasa tak ada yang spesial dari dirinya, dan bahkan hal yang membanggakan darinya, namun ia masih tak tau alasan pastinya tentang Bian yang bisa begitu menyukai dirinya.
"Tidak mungkin beliau menyukaiku hanya karena aku dulu pernah mengenalnya, kan?"
Tak hanya soal itu, begitu keluar dari kamar Bian dengan obrolan keduanya yang santai namun juga serius, ia terus saja kepikiran dengan obrolan terakhirnya bersama Bian yang ingin mengajaknya bertemu dengan keluarganya.
"Kenapa aku jadi gugup begini, ya? Padahal kan aku belum bertemu dengan keluarga kak Bian?" Ujarnya yang mencoba menenangkan hatinya yang yang saat ini merasa gugup tanpa sadar.
Rasa khawatir tak bisa ia elak lagi, mengingat ini adalah hal pertama baginya, terlebih membayangkan akan bertemu keluarga dari kekaksihnya saja sudah membuatnya begitu gugup.
"Reaksi mereka akan seperti apa ya, kalau nanti tau aku seorang yatim piatu?"
Tak hanya gugup, sejatinya ia sedikit khawatir dengan reaksi keluarga Bian saat nanti bertemu denganya. Status sosialnya yang berbeda, identitas dirinya yang hanyalah orang biasa, ditambah kondisi dirinya yang hidup sendiri tanpa adanya orang tua maupun keluarga begitu membebaninya.
"Semoga nanti aku tidak membuat kak Bian malu di depan keluarganya." Tuturnya yang sedikit berharap.
Harapan yang luar biasa dari seorang Kinan. Ia yang tak memiliki seorang keluarga, tentu sangat berharap ingin memiliki seorang keluarga. Ada harapan ia bisa mewujudkannya pada Bian, namun di satu sisi ia juga merasa cemas dan juga khawatir akan hubunganya bersama Bian.
__ADS_1
Berada pada situasi yang cukup berbeda satu sama lain, dengan kondisi perbedaan yang begitu kentara hingga terasa jelasnya begitu membebani dirinya yang hanya seorang diri hidup tanpa keluarga.
......................
Waktu berlalu begitu cepat, dan sampailah pada waktu pulang kerja. Kinan bersama rekan lainya pun ikut pulang bersama, meninggalkan hotel tempat mereka saat ini bekerja.
Tak langsung pulang ke kosannya, Kinan hendak menemui seseorang terlebih dahulu, yang tak lain adalah Bayu, seorang kakak kenalanya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Aku sempat nggak menyangka lho kamu menghubungiku duluan. Tapi, aku senang sih kamu menghubungiku lagi." Ujar Bayu yang cukup senang bertemu dengan Kinan setelah sekian lama tak bertemu.
"Iya, mas. Tapi, mas Bayu nggak lagi sibuk, kan?"
"Nggak juga sih, kebetulan hari ini aku lagi senggang. Kenapa, apa kamu ada perlu sama mas, sampai kamu meminta bertemu begini?" Tanya Bayu pada Kinan yang memintanya untuk bertemu.
Kinan tampak ragu untuk mengatakanya, dan mencoba untuk mencari kalimat yang tepat untuk ia katakan pada Bayu.
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan sama mas Bayu, tapi sebelum itu, aku merasa senang melihat mas Bayu terlihat baik-baik saja." Ucap Kinan merasa bersyukur melihat kondisi Bayu yang baik-baik saja.
"Mas juga merasa senang melihat kamu yang terlihat baik seperti ini, kamu nggak lupa makan dan istirahat yang cukup, kan?." Balas Bayu.
"Mas Bayu tenang saja, Kinan makan dengan teratur kok."
"Syukurlah kalau begitu." Bayu tersenyum puas mendengar jawaban Kinan.
Bertemu disebuah kedai kopi, Kinan dan Bayu
Tampak santai mengobrol meski keduanya jarang bertemu. Obrolan santai yang mengalir begitu saja di antara mereka terlihat begitu nyaman dan tak tampak canggung, meski keduanya terpisah oleh kesibukan masing-masing.
"Mas, sebenarnya Kinan.."
Belum sempat Kinan menjelaskan apa yang hendak ia katakan pada Bayu, Bian yang tiba-tiba muncul dihadapanya membuatnya terkejut melihat keberadaanya.
__ADS_1
"Pak, ah, kak Bian." Ucapnya yang langsung berdiri.