
Bian mengendarai sendiri mobilnya menuju rumah orang tuanya, mengingat Dimas yang selalu berada di dekatnya dan mengantar kemanapun ia pergi, kini sedang ia tugaskan untuk menghandle hotel yang ada di jogja selama ia dan Kinan tidak ada.
"Kamu gugup, ya?" Tanya Bian melirik ke arah Kinan yang terlihat diam dan tak banyak bicara selama perjalanan.
"Ah, iya sedikit." Dengan ragu, Kinan pun menjawab pertanyaan Bian sembari melirik ke arahnya yang sedang menyetir.
"Tenang saja, karena keluargaku tidak seperti yang kamu bayangkan." Balas Bian mencoba menenangkan Kinan yang sedang gugup, ia pun mencoba menggenggam tangannya.
Aksinya itu membuat Kinan merasa terharu dan membuatnya jadi sedikit lebih tenang. Ia menatap Bian dengan penuh rasa kagum pada sikap lembutnya yang ditujukan untuknya. Senyuman kecil dari sudut bibirnya, sedikit menenangkan perasaanya yang sejak tadi terus merasa tak tenang karena terlalu gugup.
.....
Tak berselang lama ia merasa tenang, namun begitu sampai di depan rumah milik Bian dan keluarganya, perasaan gugupnya kembali muncul, terlebih ketika ia melihat langsung rumah besar yang berada tepat dihadapanya saat ini. Perasaan tak nyaman dan juga rasa mindernya tiba-tiba muncul begitu saja ketika melihat adanya perbedaan yang kentara antara dirinya dan Bian. Membuatnya diam membeku melihat kenyataan yang ada di depanya.
"Orang kaya memang beda." Batinya yang merasa takjub melihat rumah milik Bian yang begitu besar.
"Apa nanti aku bakalan dilempari uang agar menjauhi kak Bian? Seperti di drama atau film yang biasa aku tonto**n.
Melihat perbedaan yang begitu besar antara dirinya dengan Bian, membuat Kinan jadi berfikiran aneh-aneh dan semakin tak tenang. Ia pun jadi membayangkan hal buruk yang biasa ia tonton di drama atau film, tentang calon mertua yang menentang hubungan karena perbedaan status sosial.
"Duh, bukankah aku terlalu lebay? Tapi, bagaimana jika itu bisa saja terjadi padaku sekarang?" Kinan masih saja terus bertengkar dengan pikiran-pikiran anehnya.
"Aku sudah bilang untuk tidak gugup, kan." Melihat Kinan yang kembali merasa gugup, Bian menggenggam tangan Kinan dengan erat untuk menenangkanya kembali.
"Iya, tapi tetap saja saya masih gugup, nanti bagaimana kalau saya jadi mempermalukan kak Bian di depan orang tua kakak?" Ucap Kinan yang masih belum tenang dan takut membuat masalah di depan orang tua Bian.
__ADS_1
Meski sekarang sudah sampai di depan rumah orang tuanya, namun Bian belum mau turun dari mobilnya, terlihat ia masih menunggu Kinan untuk lebih tenang dulu sebelum akhinya turun dan menemui keluarganya.
"Kamu itu terlalu banyak pikiran.." Bian mendaratkan satu kecupan dibibir Kinan.
"Apa dengan ini kamu jadi lebih tenang?" Ucapnya sembari tersenyum, pada Kinan yang anehnya jadi lebih tenang, meski ekspresinya tak bisa bohong kalau ia begitu terkejut karena ciuman yang tiba-tiba itu.
"Iya." Jawabnya malu-malu karena terlalu terkejut mendapatkan kecupan dari Bian.
Selang beberapa menit, keduanya pun akhirnya memilih keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah bersama sembari bergandengan tangan.
.....
Berjalan berdampingan bersama Bian memasuki rumah keluarganya, dan tepat pukul 08.00 malam, Kinan akhirnya mengunjungi dan bertemu keluarga besar Bian yang saat ini telah menunggu kedatangannya.
"Aku kembali." Ucap Bian menyapa anggota keluarganya yang telah berkumpul diruang keluarga, seolah telah menyambut kedatanganya.
"Oh, kamu yang bernama Kinan itu, ya? Wah cantik ya kamu. Bian suka cerita lho sama tante soal kamu, tapi aslinya kamu ternyata lebih cantik, ya!" Ucap Gauri memberikan pujiannya pada Kinan dan menghampirinya.
"Iya tante, nama saya Kinan. Terimakasih untuk pujianya." Jawabnya sedikit malu-malu, dan cukup terkejut mendapat sambutan hangat dari mama Bian.
"Sama-sama, tapi kamu memang dasarnya cantik, jadi wajar kalau tante puji kamu. Yaudah sini, kita duduk dulu, kamu nggak usah merasa sungkan sama kita." Gauri menggiring Kinan untuk duduk dan memperkenalkannya pada suami dan mertuanya.
Walaupun tak sehangat sambutan mama Bian, namun papa dan juga kakek Bian tetap menyambutnya dengan baik. Meski sebelumnya ia sempat merasa khawatir saat bertemu keluarga Bian, namun kenyataanya ia malah disambut dengan hangat oleh mereka, membuatnya sedikit terkejut dan tampak tak menyangka dengan hal itu, yang seketika itu juga meruntuhkan kekhawatirannya.
"Padahal tadi aku sudah merasa khawatir dan cemas, ternyata mereka malah menyambutku dengan baik."
__ADS_1
Kinan tampaknya masih tak menyangka dan sedikit bingung dengan sambutan hangat yang diberikan oleh keluarga Bian untuknya.
Terlebih keluarga Bian begitu welcome dengan kehadiranya.
"Apa benar aku boleh menerimanya begitu saja seperti ini?"
Ada rasa terbebani ketika ia menerima sambutan hangat dari keluarga Bian. Meski ia juga merasa senang, namun disatu sisi ia juga sedikit canggung dengan sambutan hangat dari mereka yang sejatinya baru pertama kalinya ia temui itu. Ia merasa sudah seperti bagian dari mereka.
"Mereka bahkan tidak bertanya soal siapa aku? Apa benar mereka menerimaku begitu saja?"
Rasa aneh juga ia rasakan ketika keluarga Bian tak membahas soal latar belakangnya, dan malah mengobrol hal lain denganya. Hal yang ia khawatirkan itu kembali tak terjadi seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.
.....
"Duh, kita malah jadi asik mengobrol begini, sebaiknya kita makan malam dulu, setelah itu kita lanjutkan lagi ngobrolnya." Ujar Gauri yang mengalihkan obrolan mereka dengan mengajak makan malam bersama.
Karena sudah hampir lewat jam makan malam, mereka pun tak membantah dan ikut pada apa yang dikatakan oleh Gauri. Bersama-sama menuju ruang makan yang saat ini telah siap menjamu mereka dengan berbagai makanan yang tersedia di meja makan.
"Gimana, apa kamu masih gugup?" Tanya Bian pada Kinan.
Ketika semua keluarganya berjalan terlebih dahulu ke ruang makan, ia menahan Kinan dengan pertanyaanya.
"Iya, mungkin ini karena keluarga kakak yang menyambut Kinan dengan hangat, Kinan jadi lebih rileks dan tak gugup lagi." Senyum Kinan merasa tak lagi gugup seperti saat pertama kali ia datang kerumah.
"Keluargaku memang begitu, meski kakek dan papa sedikit cuek, tapi aslinya mereka baik. Kalau mama sih, dia memang sedikit lebih baik dari mereka berdua." Balas Bian mengomentari sikap kakek dan papanya yang memang tak banyak berekspresi, berbanding terbalik dnegan mamanya yang sedikit hangat.
__ADS_1
"Tapi, aku senang kalau sekarang kamu tidak gugup atau merasa terbebani lagi." Bian menyunggingkan senyuman manisnya pada Kinan yang tak lagi merasa gugup. "Yasudah kita susul mereka, takutnya mereka mencari kita." Ujarnya lagi yang hendak menyusul keluarganya yang berada di ruang makan.
Kinan menggangguk kecil, lalu mengekor mengikuti Bian menyusul keluarganya.