Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
7. Kalimat Penyemangat


__ADS_3

Senyum cerianya, tingkah polosnya, lalu pikiran positifnya begitu bermakna dan memberikan kata penyemangat untuknya.


Diam membisu, dengan sudut pandang yang terlihat mengagumi cara berpikirnya, begitu sederhana namun penuh makna. Begitulah Bian mendeskripsikan sosok gadis kecil itu.


Kilasan gadis kecil itu selalu saja hadir di tengah-tengah Bian.


......................


"Hai Bi, aku boleh masuk kan?" Kata Adel yang tiba-tiba datang ke tempat kerja Bian.


Bian menghentikan aktivitasnya dan mencari arah suara tersebut.


"Adel.." Kata Bian dengan ekspresi agak kaget dengan kedatangannya. "Ah.. itu.. masuk Del," Ucapnya lagi agak terbata, pada Adel yang berdiri di depan pintu. "Kamu ada apa datang ke kantorku?" Ucapnya lagi menghampiri Adel.


"Surprise .. ta-ta aku bawa makanan, kita lunch bareng yuk." Seru Adel dengan ceria.


Bian menatap jam ditanganya, ia terlihat kaget karena ternyata sudah masuk waktu makan siang.


"Wah.. aku benar-benar gak sadar kalau sudah masuk jam makan siang, thanks ya."


"Sudah ku duga kamu bakal lupa, jadi aku sengaja bikin kejutan, sekalian juga bawa makanan buat kamu deh." Ucap Adel sembari tersenyum.


Keduanya pun duduk dan mencoba membuka bekal yang dibawa oleh Adel, namun tiba-tiba saja ada rasa khawatir dari Bian dengan makanan yang dibawa oleh Adel. Ia menatap makanan itu dengan perasaan khawatir dan takut.


"Oh iya, makanan ini..." Wajah Bian tiba-tiba sudah menegang begitu mendengarnya.

__ADS_1


Apa nih.. jangan-jangan makanan bikinan dia? kali ini apa lagi nih? bukan nasi goreng lagi kan?


Bian tetap memaksa senyumnya sembari menunggu jawaban dari Adel.


"Ini mamaku yang masakin loh."


Ada rasa lega dari raut wajah Bian.


"Oh.. tante Risa yang bikin, pasti enak dong aku jadi gak sabar."


"Tadinya aku mau masakin sih, tapi gak jadi karena aku bangunya kesiangan, jadi aku minta mama deh yang bikin makanan ini."


Syukurlah dia bangun kesiangan.


"Kita makan yuk." Ajak Adel kemudian.


"Emm.. enak, bener ya masakan tante Risa itu gak pernah gagal." Ucap Bian mengomentari masakan mama Adel begitu ia mencoba masakanya.


"Iya dong, kamu kan tau masakan mamaku itu selalu enak." Bangga Adel pada mamanya.


Bian mengangguk setuju sembari terus mengunyah makanannya, ia tak membantahnya mengingat keluarga Adel yang bergerak dibidang makanan.


"Oh iya Bi, kamu kapan rencananya pergi ke jogja?" Tanya Adel disela makan.


"2 atau 3 hari lagi, kenapa gitu?"

__ADS_1


"Ah.."


"Tapi itu belum pasti sih, kenapa memangnya?"


"Gapapa sih, sebelum kamu pergi, aku pengen kita bertiga jalan bareng lagi kek dulu, pergi liburan bareng gitu."


"Iya sih sudah lama juga kita gak kumpul bareng seperti dulu, tapi.. kita kan masih bisa ketemu, lagian aku gak selamanya kok di jogja."


"Iya sih, tapi aku maunya kita bertiga bisa pergi bareng, yah.. sudahlah aku tau kalau kamu sibuk banget." Kata Adel agak sedikit merajuk.


Bian menyadari perubahan ekspresi Adel dan membuatnya sedikit merasa bersalah. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatel itu dengan ekspresi bingung harus jawab apa.


"Memangnya kamu mau jalan kemana sih?" Ucapnya kemudian memecah keheningan.


"Di sekitar sini aja, tempat yang selalu kita datengi waktu masih kecil, aku mau mengingat momen itu lagi. Kamu masih inget kan tempat itu?"


"Ah.. tempat itu, yaudah kita datang kesana aja, kapan memangnya?"


"Serius?" Seru Adel dengan wajah sumringah.


"Iya, aku serius."


"Wah asik, kalau besok gimana?"


"Em... ok"

__ADS_1


"Yeay.. nanti aku tinggal kasih kabar deh ke Adnan."


__ADS_2