Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
103. Tekad Bian


__ADS_3

Adnan seakan kehabisan kata-kata setelah mendengar kalimat yang dikatakan oleh Bian. Baginya, itu adalah sesuatu yang mengejutkan, terlebih kalimat itu keluar dari mulut seorang Bian.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Kalau benar kamu mencintainya, apa kamu akan terus mengejarnya, meski dia sudah terang-terangan menolakmu begini?"


"Mungkin kamu akan menganggapku aneh, tapi aku seperti tidak bisa jauh darinya. Karena itu, aku ingin sedikit memperjuangkannya." Ujar Bian dengan ketulusannya.


Melihat Bian yang memberikan tatapan dan ekspresi serius untuk pertama kalinya, sedikit membuat Adnan terpaku. Ekspresi yang sedang dibuat oleh Bian saat ini, tidak pernah Adnan lihat sebelumnya, karena itu ia merasa sedikit terkejut begitu melihat untuk pertama kalinya.


"Terserah jika itu keinginanmu, sebagai teman baikmu, yang bisa kulakukan hanya bisa mendukungmu." Adnan yang kini mulai memahami, mendukung keinginan sahabatnya.


"Thanks, tapi aku masih bingung soal kepindahanku nanti. Gimana menurutmu? Apa yang harus aku lakukan jika itu terjadi?" Bian mencoba meminta saran dari sahabatnya, Adnan.


"Em.." Adnan yang tidak pernah mengalami hal itu, cukup kesulitan untuk menjawabnya.


"Kalau sampai hal itu terjadi, mungkin kamu harus mencoba menerimanya, toh kalian masih bisa bertemu meski cuma beda kota saja."


"Jawabanmu ternyata sama dengan keluargaku." Bian tersenyum kecut begitu mendengar jawaban dari Adnan.


"Hah! Jadi kamu sudah menceritakan soal ini pada keluargamu?" Adnan agaknya cukup terkejut dengan Bian yang sudah mengatakan perihal rasa ketertarikannya pada keluarganya.


"Iya, sebelum memanggilmu kemari, aku menemui mereka dulu dan aku mengatakan yang sebenarnya sama mereka kalau ada perempuan yang kusuka disana."


"Terus, reaksi keluargamu gimana?"


"Mirip seperti yang kamu maksud. Mereka menyuruhku untuk tidak perlu merasa khawatir, karena aku masih bisa bertemu denganya, yah.. meski awalnya mereka cukup kaget sih, setelah aku mengatakanya." Ungkap Bian.


"Papa dan kakekmu beneran tidak marah soal ini?" Tanya Adnan yang merasa cukup terkejut dengan respon dari keluarga Bian.

__ADS_1


"Enggak, mereka hanya sedikit terkejut. Meski papa terus memaksaku memikirkan untuk kembali ke kantor pusat, tapi dia tidak marah soal itu, hanya menyuruhku mempertimbangkan permintaanya."


"Apa ini artinya kalau keluargamu setuju soal perasaanmu?"


"Entahlah, sepertinya sih gitu."


Adnan cukup terkejut, karena ia tau betul bagaimana keras dan ketatnya keluarga Bian pada Bian. Ia tak menyangkan Bian akan semudah ini mendapatkan izin dari keluarganya, karena dulu saat masih bersama Adel, terlihat raut wajah tidak suka yang ditunjukkan oleh papa Bian pada Adel, hingga berakhir memaksa Bian peri ke kanada selama 2 tahun lebih dan membuatnya bersama Adel saat itu, terasa sulit untuk sekedar bertemu dengan Bian.


"Kamu bilang mencintainya, kan? Tapi sekarang dia sudah menolakmu, lalu bagaimana jika dia menerimamu nanti setelah kamu berusaha? Apa yang akan kamu lakukan sama hubunganmu itu kedepannya?"


"Itu juga yang sedang kupikirkan sekarang, karena soal alasan dia menolakku ada kaitanya sama pertanyaan yang kamu tanyakan sekarang."


"Maksudnya?" Adnan masih cukup bingung dengan maksud Bian.


"Sepertinya sih, dia tidak terlalu yakin denganku. Karena itu, dia menolak dan tidak menerimaku." Bian menceritakan dengan ekspresi yang sedikit sedih ketika membayangkan kembali saat Kinan menolak perasaanya.


"Karena jabatanku, status sosialku, dan juga dengan diriku sendiri." Lagi-lagi Bian memberikan kalimat yang membingungkan bagi Adnan. Namun, setelah menelaahnya sejenak, Bian pun mulai faham arah dari kalimat Bian.


"Apa dia terbebani soal latar belakangmu?" Pertanyaan Adnan mendapat anggukan dari Bian. "Lalu soal dengan dirimu sendiri itu maksudnya apa?"


"Dia menginginkan hubungan yang lebih serius, bukan hanya sekedar rasa ketertarikan biasa." Balas Bian, masih dengan ekspresi wajahnya yang murung.


"Lebih serius? Maksudmu pernikahan?"


Bian mengangguk membenarkan pendapat Adnan. Dan, Adnan yang mencoba mencermati maksud dari kalimat yang ia ucapkan sendiri, dibuat tertegun hingga langsung diam, seolah kehabisan kata-kata.


"Sekarang gimana? Apa kamu sudah menemukan solusinya soal itu?"

__ADS_1


"Aku masih memikirkannya, karena hal itu tidak mudah untuk dilakukan."


"Kamu bilang, kamu mencintainya, itu artinya kamu akan melakukannya dong, jika hubungan kalian berdua benar-benar bisa bersatu?"


"Sepertinya begitu. Lagi pula ini bukan keputusan yang buruk, kan? Dan, aku hanya perlu meyakinkan dia lagi nanti soal perasaanku."


Kembali terdiam, Adnan tampaknya masih cukup terguncang dengan tekad yang hendak dilakukan oleh Bian. Terlihat serius dan tampak yakin, meski sebelumnya masih terlihat bingung dan mempertimbangkanya.


"Tapi, tetap saja kamu harus memikirkannya matang-matang, karena menikah bukan sesuatu hal yang mudah dilakukan." Meski masih sedikit terkejut, namun Adnan ingin memberikan nasihat pada Bian untuk memikirkannya kembali.


"Aku tau, karena itu aku tidak mau gegabah. Perasanku padanya tulus, tapi soal melangkah kejenjang itu, memang belum pernah terlintas dalam bayanganku sama sekali, karenanya aku masih sedikit bingung harus apa ketika dia membicarakan soal pernikahan. Tapi, setelah aku memikirkannya, aku merasa aku bisa melakukannya." Ujar Bian ketika memikirkan kembali soal pernikahan.


"Sepertinya aku sama denganmu, karena hal itu juga belum ada dalam bayanganku sama sekali." Adnan merasa sama dengan Bian, karena dirinya juga belum memikirkan hubungan yang mengarah pada pernikahan, karena selama ini terlalu sibuk dalam bekerja.


Keduanya pun terhanyut dalam pikiran masing-masing dan mendadak hening tak bersuara dalam bisingnya suasana bar kafe yang mereka datangi saat ini.


...


Orang yang tengah keduanya bicarakan saat ini, terlihat menjalani kehidupan seperti biasanya. Kinan tetap pada aktivitas dirinya yang seperti biasanya, dan bekerja seperti biasanya tanpa kendala, meski kadang kala pikiran akan Bian muncul dalam pikirannya. Meski belum genap satu hari Bian pergi dari hotel, ada perasaan berbeda yang dirasakan oleh Kinan setelah kepergian Bian, hingga membuat dirinya sendiri merasa aneh akan perasaan yang baru pertama kali ia rasakan itu.


Terlebih perasaanya semakin aneh, setelah mengatakan kalimat penolakan pada Bian sebelum kepergiannya. Ia terus saja merasa kepikiran dengan apa yang dilakukanya pada Bian. Ada perasaan bersalah, tidak enak, canggung dan di lain sisi merasa sedikit menyesalkan.


"Kenapa aku begini, sih? Harusnya kan aku merasa lega." Ucapnya yang justru merasakan perasaan tidak nyaman setelah menolak perasaan Bian.


Kinan merenungkan kembali perasaan Bian untuknya yang terlihat tulus padanya. Namun, karena rasa insecurenya membuat dirinya memberikan batas pada Bian yang cukup berbeda dengan dirinya.


"Tidak, keputusan ini sudah benar, karena itu aku tidak boleh goyah dan galau begini." Kinan mencoba menyadarkan dirinya sendiri pada keputusan yang sudah ia ambil. Namun, tiba-tiba saja dadanya bereaksi, seolah menolak keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2