Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
85. Kejelasan Hubungan


__ADS_3

Keheningan menyeruak sejenak, bersama angin yang terus berhembus melewati dua insan yang kini tengah dalam suasana yang saling mencari jawaban.


Kinan yang kini tengah menatap lurus pada laut di depanya, dengan ekspresi yang terus terpaku setelah mendengar kalimat Bian, masih tak tau harus menjawab apa. Bersama Bian yang berdiri disampingnya dan tengah melirik kearahnya untuk meminta tanggapan dari ucapanya.


"Mungkin ini terdengar egois, karena aku meminta maaf setelah melakukanya." Di tengah keheningan akan suasana, Bian kembali membuka obrolan, yang lagi-lagi hanya mendapat respon diam dari Kinan.


"Meski aku tak merasa bersalah telah melakukanya, aku akan tetap meminta maaf padamu." Ucap Bian, yang kini menatap lurus ke arah Kinan yang masih diam dengan ekspresinya yang menahan rasa canggungnya.


Kinan melirik perlahan ke arah Bian yang kini tengah menatapnya lekat dengan ekspresi wajah yang lembut ketika menatap ke arahnya.


"Apa kamu marah padaku?" Tanya Bian, pada Kinan yang masih tak memberikan suaranya.


Kinan menelan salivanya, dengan ekspresi gugup yang tanpa sadar ia perlihatkan dalam raut wajahnya. Terasa kaku akan pertanyaan dari Bian, yang membuatnya begitu berat untuk sekedar mengeluarkan suaranya.


"Aku harus menjawab apa?" Batinya merasa bingung.


"Kalau aku jawabmarah, respon dari pak Bian akan seperti apa nanti?"


"Tapi, kalau aku bilang tidak, itu artinya sku tidak masalah dengan ciuman itu?"


Kinan berada dalam dilema sendiri untuk menjawab pertanyaan dari Bian.


"Itu.., saya.. tidak tahu.." Dengan nada ragu dan penuh kehati-hatian, Kinan pun akhirnya menjawab Bian. Namun, tak ada sahutan dari Bian setelah ia menjawabnya, hingga menciptakan keheningan sejenak di antara mereka. Karena hal itu, yang akhirnya membuat Kinan menatap ke arah Bian yang kini hanya memandangnya dalam diam.


Bola mata Kinan terlihat bergetar ketika bertatap mata dengan mata milik Bian, karena cukup membuatnya canggung dengan tatapan intens yang diperlihatkan oleh Bian padanya.


Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya karena tatapan lembut dan intens yang Bian tujukan padanya. Di iringi suara ombak yang terus bersuara, bersama angin yang terus berhembus kencang menghampiri dirinya, semakin menambah rasa gugupnya.


"Aku merasa senang." Ucap Bian dengan senyuman manis yang ia tujukan pada Kinan. Dengan langkah pelan, ia mempersempit jaraknya dengan Kinan yang kini hanya berjarak satu langkah.


Kinan semakin tak bisa menatap wajah Bian, namun disatu sisi ia tak bisa memalingkan wajahnya yang kini begitu dekat dengan Bian.


"Karena ini adalah ciuman pertama buatku." Ucap Bian, pada Kinan yang kini menunjukkan ekspresi terkejutnya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu tidak percaya?"


"Ah, itu.." Kinan tampak gugup dan tak bisa menjawab pertanyaan yang begitu sulit baginya.


Ciuman pertama pak Bian? Itu artinya..?


"Aku minta maaf jika membuat kamu tidak nyaman tadi, saat itu.. aku benar-benar spontan melakukanya, karena ada hal yang benar-benar ingin aku pastikan padamu!"


"Pada saya?" Bingung Kinan menatap canggung pada Bian yang di depanya.


"Benar, soal perasaanku padamu."


Deg, tiba-tiba saja hati Kinan menjadi berdebar, dadanya bergetar lebih kencang hingga nyaris saja membuat suara karena saking kencangnya, sebelum akhirnya ia memilih kabur dari Bian karena merasa gugup dan malu.


"Kinan tunggu.." Cegat Bian dengan memegang tanganya ketika berhasil mengejar Kinan yang berlari dari pandanganya.


"Saya minta maaf, pak. Tapi saya harus pulang, karena hari semakin gelap." Ucap Kinan mencoba melepaskan tanganya yang tengah dipegang oleh Bian, tanpa mencoba menoleh ke arah Bian.


"Kinan lihat mataku kalau sedang bicara." Pinta Bian yang mencoba membuat Kinan menatap ke arahnya dengan memegang kedua bahunya.


"Bagaimana saya bisa marah! itu kan hal yang tidak mungkin saya lakukan pada anda!" Kinan menatap ke arah Bian dengan ekspresinya yang seperti menahan tangis.


"Saya.., saya hanya merasa bingung." Ucapnya lagi. " Bingung pada sikap yang anda lakukan pada saya!" Sambungnya yang kini mencoba melepaskan pegangan tangan Bian pada kedua bahunya. "Tolong jangan seperti ini pada saya. Anda membuat saya berada dalam situasi yang sulit." Lanjutnya lagi menatap wajah Bian dengan ekspresinya yang seakan meminta kejelasan yang lebih jelas.


Bian terdiam mendengar luapan dari curahan hati Kinan padanya. Ia terpaku dan sedikit terkejut mendengarnya.


"Ternyata bisa seperti itu ya! Aku benar-benar minta maaf kalau begitu." Ujar Bian sedikit merasa bersalah. Karena tak menyangka akan membuat Kinan merasa tak nyaman dengan pengungkapan perasaanya.


"Itu, maksud saya.." Kinan terlihat merasa bersalah ketika melihat ekspresi Bian yang tampak murung.


"Tapi.. aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku sukai." Lanjut Bian menatap lembut Kinan.


"Aku menyukaimu, karena itu.. aku ingin mengungkapkanya langsung padamu." Sambungnya lagi.

__ADS_1


Kinan diam terpaku akan peryataan Bian padanya.


Justru karena hal itu yang membuat saya semakin bingung.


"Apa kamu bingung karena aku menyukaimu? Atau karena aku yang menciumu?" Tanya Bian kemudian.


Kinan terdiam sejenak, "Dua-duanya." Jawabnya kemudian.


"Apa hanya itu?"


"I-iya." Meski tak tahu maksud yang dimaksud oleh Bian, Kinan tetap mencoba untuk menjawabnya meski sedikit ragu akan hal itu.


"Sederhananya, kamu ingin kejelasan akan ini kan?" Ucap Bian, yang tiba-tiba memakaikan jaket miliknya pada tubuh Kinan.


"Kita keluar dulu dari sini." Ucapnya lalu menggenggam tangan milik Kinan. Dan keduanya pun akhirnya keluar dari pantai yang mereka datangi. Tak ada suara selama keduanya keluar dari pantai, hingga sampai di depan mobil dan juga masuk kedalamnya.


"Kamu lapar, kan? Kita makan dulu bagaimana? Atau.. kamu ingin langsung tau jawabanya dariku?" Tanya Bian menatap ke arah Kinan yang terus diam sejak kembali dari pantai.


"Itu..," Kinan mencoba menanyakan sesuatu pada Bian, namun tiba-tiba menjadi canggung ketika Bian menatap ke arahnya.


"Saya hanya ingin pulang sekarang." Ia memalingkan wajahnya segera, dan tak jadi mengatakan hal yang ingin ia tanyakan.


"Ayo pacaran!"


Kinan membulatkan kedua bola matanya, yang terkejut dengan perkataan Bian. Dengan ragu ia menoleh ke arah Bian yang kini menatapnya dengan ekspresi yang serius.


"Apa kamu tidak mau?"


Kalimat yang sudah terlanjur terucap itu kini tak lagi bisa ditarik kembali. Bian, kini tengah menunggu jawaban dari Kinan yang masih diam membisu.


"Pak, itu.." Kinan cukup terkejut akan perkataan Bian, hingga membuat dirinya kesulitan untuk sekedar bersuara.


"Aku akan menunggu jawabanya nanti, karena itu kamu pikirkan pelan-pelan." Kata Bian memberikan senyuman tipisnya pada Kinan yang masih terlihat kaget.

__ADS_1


"Nanti kita pulangnya setelah makan, ok." Lanjutnya yang kemudian menyalakan mobilnya menuju restauran terdekat.


__ADS_2