
Seperti apa yang dikatakan oleh Bian sebelumnya, dia benar-benar berkunjung kerumah orang tuanya dengan di antar oleh Dimas. Pukul 9 malam, Bian dan Dimas sampai dirumah keluarganya.
"Mama tidak menyangka kamu akan berkunjung lagi disini." Ucap Gauri merasa senang setelah melihat keberadaan anaknya dirumah.
"Iya, ma dan kemungkinan Bian akan menetap disini sampai Bian kembali lagi ke jogja nanti." Jawab Bian.
"Oh, ya? baguslah, kalau begitu. Tapi, tumben kamu memilih tinggal lebih lama disini? Apa ada sesuatu yang membuat kamu juga akhirnya menginap dirumah hari ini?" Tanya Gauri.
"Tidak ada, hanya ingin saja. Mungkin Bian hanya merindukan rumah ini." Balas Bian sembari tersenyum pada mamanya.
"Yasudah tinggal saja disini, kenapa malah tinggal di apartemen yang tidak nyaman itu." Kakek Bian ikut memberikan pendapatnya.
"Apartemenku memang tidak luas dan besar seperti rumah ini, tapi ada senangnya juga jika tinggal sendiri." Balas Bian yang kembali tersenyum.
"Keras kepala." Kakek tak mau mendebat lagi, dan hanya bisa mendumel kesal pada jawaban cucunya dan Bian hanya bisa tersenyum mendengar ucapan kakeknya.
"Kamu tidak mungkin datang kesini tiba-tiba begini, pasti ada yang ingin kamu katakan, kan?" Kali ini papa Bian ikut berkomentar.
Meski tak cukup akrab dengan sang anak, namun Bastian cukup peka pada hal-hal tertentu seputar anaknya, karenanya ia merasa hari ini Bian tak hanya datang berkunjung kerumah tanpa alasan, karena hal itu hampir jarang Bian lakukan selama ini.
"Anakmu datang berkunjung kerumah karena merindukan rumahnya sendiri, apa maksudmu dengan berkata seperti itu? Dasar, tidak peka." Ujar kakek Brama pada sang anak, Bastian yang juga papa dari Bian.
Kakek Brama menatap Bastian dengan tatapan kesal karena terlalu dingin pada Bian, yang merupakan anak kandungnya sendiri. Mendengar sang ayah ikut berkomentar dan protes terhadapnya, Bastian hanya diam dan bersikap cuek, begitupun dengan Gauri yang tak bisa ikut campur pada hubungan anak dan ayahnya itu. Bian pun yang melihat pemandangan itu nampak diam menyaksikannya dengan sesekali tersenyum tipis melihat cara keluarganya berkomunikasi.
"Papa benar kek, sebenarnya Bian datang kesini karena memang ada yang Bian ingin katakan pada kalian." Bian pun akhirnya membuka suaranya.
Mendengar ucapan Bian, membuat Kakek, papa dan juga mamanya beralih menatap ke arahnya ketika ia akhirnya membuka suaranya.
"Tuh, lihat, papa dengar sendiri kan apa yang Bian katakan? Meski aku tidak sering mengajaknya bicara, tapi aku ini masih ayahnya." Bastian sedikit menyombongkan dirinya pada sang ayah karena tebakannya yang memang benar.
__ADS_1
Kakek Brama menatap tak percaya pada sang anak dan hanya bisa memberikan gestur tak perduli.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu pada kami? apa itu hal yang penting, sampai kamu datang malam-malam begini?"
Berbeda dengan suami dan mertuanya, Gauri terlihat lebih tertarik pada ucapan sang anak, hingga memilih memastikannya langsung pada Bian yang kebetulan sedang duduk disampingnya.
"Iya, ini penting bagi Bian, karena itu Bian datang hari ini." Jawab Bian akhirnya.
"Apa itu soal kepindahanmu kesini?" Bastian ikut memberikan suaranya.
"Soal itu, Bian masih memikirkannya." Ujar Bian.
"Lalu apa yang ingin kamu katakan dengan ekspresi seperti itu?" Bastian menatap bingung pada sanga anak yang sekarang sedang membuat ekspresi serius.
Bian sedikit ragu untuk mengatakannya, dan terlihat cukup berhati-hati saat hendak mengatakan hal ini pada keluarganya.
"Sebenarnya.., yang ingin aku katakan hari i i adalah..." Ia terdiam, ada keraguan saat akan mengatakannya, namun juga ada keinginan untuk mengatakan soal ini pada keluarganya.
"Oh, ini soal perempuan yang pernah kamu katakan itu. Ya bagus dong, harusnya memang seperti itu." Ucap Gauri merasa senang dan menyambutnya dengan gembira.
Berbeda dengan mamanya yang memberikan respinya segera, kakek dan papanya justru terlihat diam dan tak memberika komentarnya.
"Apa maksudmu dengan kata serius? Apa kamu faham dengan kalimat yang kamu katakan itu?" Setelah diam cukup lama, akhirnya Bastian memberikan pendapatnya pada kalimat yang dilontarkan oleh anaknya.
"Aku mengerti." Jawab Bian dengan tegas.
Bastian menatap wajah anaknya, tatapannya terlihat begitu menusuk dan terlihat mengernyitkan kedua alisnya yang menandakan penuh berbagai pertanyaan dan rasa tak percaya pada sikap anaknya yang sekarang sedang memberikan ekspresi serius dan tegas.
"Bawa dia kesini, kakek ingin melihatnya." Kali ini kakek Brama ikut berkomentar.
__ADS_1
"Nanti pasti akan Bian bawa kesini, tapi.. sebenarnya ada hal lainya yang ingin Bian katakan, dan ini masih soal hubungan Bian dengan perempuan yang Bian suka." Kata Bian, yang ingin melanjutkan kembali kalimat dan tujuan kedatangannya kerumah yang sebenarnya sedang meminta izin pada keluarganya.
"Ada lagi, apa itu?" Tanya Gauri.
"Sebelumnya aku sudah mengatakan kalau aku sedang serius menjalin hubungan dengan orang yang kusuka, maksudku adalah, aku sedang berencana untuk menikah dengannya." Ujar Bian mencoba memberikan penjelasan pada keluarganya.
"Inilah yang sebenarnya ingin kukatakan pada kalian." Sambungnya lagi.
Suasana sejenak canggung dan hening, ketika Bian mengatakan keinginanya untuk menikah. Merasa terhipnotis dengan kalimat itu, membuat mereka terdiam dan tak memberikan responnya.
"Astaga, benarkah itu? Soal kamu yang berencana menikah itu?" Ucap Gauri yang lagi-lagi memberikan respon pertamanya dan mengakhiri suasana canggung itu.
"Iya, ma, karena itu Bian meminta izin sekarang." Jawab Bian.
"Mama senang mendengarnya, apa kamu sudah ada rencana kapan akan melakukannya?" Tanya Gauri bersemangat.
"Eh, itu.., masih belum, Bian hanya ingin mengatakan keinginan Bian soal menikah, tapi Bian belum menentukan kapan akan melakukannya." Ucap Bian yang sedikit terkejut ketika mamanya yang langsung mengkonfrontasinya soal rencana menikahnya.
"Baguslah, segera lakukan hal itu, karena kakek juga mau melihat cicit kakek." Kakek Brama pun pergi setelah memberikan pendapatnya, meninggalkan Bian yang kebingungan karena respon kakeknya yang seolah menyetujui keinginannya.
Sekarang, hanya tinggal respon dari papanya yang sedari tadi masih terlihat diam dan tak memberikan pendapatnya. Melihat hal itu, Bian tak merasa terkejut karena ia tau betul bagaimana karakter dari papanya. Kalaupun tak mendapatkan izin dari papanya, Bian tak akan memaksa dan menghargai pendapatnya, meski rencana pernikahannya nanti tetap akan ia lakukan walaupun tak mendapat respon dan izin dari papanya.
"Apa papa tidak setuju soal rencanaku ini?" Bian mencoba mengajak papanya berbicara ketika melihat sang papa yang tak kunjung memberikan responnya.
"Tidak."
Hanya satu kata itu yang ia ucapkan setelah terdiam cukup lama.
"Maksudnya papa tidak keberatan soal rencana Bian menikah?" Tanya Bian mencoba memastikan lagi apa yang ia dengar.
__ADS_1
"Hemm.."
Bian masih belum merasa senang dengan jawaban papanya yang singkat itu, karena seperti ada yang mengganjal, namun ketika melihat mamanya yang tersenyum membuatnya jadi yakin dengan apa yang ia dengar. Merasa mendapat lampu hijau dari keluarganya, membuat Bian mau tidak mau ikut tersenyum karena keinginannya disetujui juga oleh keluarganya.