Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
58. Maju 1 langkah


__ADS_3

"Apa manajer Kinan hari ini tidak masuk?" Tanya Bian pada Dimas yang tengah membawa laporan buatnya.


"Iya pak, beliau tadi juga mengatakan pada saya, untuk tidak masuk hari ini, karena ada urusan yang cukup mendesak katanya." Jawab Dimas.


Bian terdiam setelah mendengar jawaban dari Dimas. "Apa kamu tahu apa alasanya tidak masuk hari ini?" Tanyanya kemudian.


"Katanya mau melayat kerumah salah satu teman terdekatnya, karena orang tuanya meninggal dunia." Jelas Dimas.


"Teman dekat, ya.." Kata Bian, yang entah mengapa membuat penekanan pada kalimatnya.


Aku ini kenapa sih?


Bian tampaknya tak habis fikir dengan dirinya sendiri yang terus saja kepikiran dengan pertemuan tak sengajanya dengan Kinan di rumah sakit. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, setelah sempat dirawat beberapa menit oleh dokter, karena kondisinya yang sempat drop dan pingsan tadi. Namun, karena benci bau rumah sakit Bian memilih untuk segera pulang ketika kesadaranya sudah pulih, meski sebenarnya kondisinya belum pulih sepenuhnya.


"Kan sudah kubilang tidak usah datang ke rumah sakit. Aku ini tidak apa-apa." Ucap Bian yang tampak kesal karena dipaksa oleh Dimas untuk datang ke rumah sakit, yang harus merasakan infus rumah sakit.


"Anda pingsan begitu, bagaimana saya tidak membawa anda ke rumah sakit. Kalau saya tidak ke kamar untuk mengecek kondisi anda lagi, pasti tadi anda akan terus tertidur di lantai." Jawab Dimas mengacu pada keadaan Bian tadi yang sempat pingsan dikamarnya.


"Sudahlah, kita pulang saja sekarang, aku benci bau rumah sakit." Keluh Bian meminta pada Dimas untuk segera membawanya pulang.


"Tapi pak, anda kan belum sembuh sepenuhnya?" Ucap Dimas mencoba menahan Bian untuk tidak pergi.


"Berapa lama aku dirawat disini?" Tanya Bian kemudian yang malah menanyakan waktu rawatnya.


"Baru 15 menit yang lalu." Jawab Dimas.


"Lama juga ternyata, kalau begitu cepat siapkan mobilnya, kita kembali saja ke hotel." Ujar Bian tak perduli dan memilih untuk tetap bangkit dari ranjang rumah sakit, yang sempat ia pakai untuk berbaring.


Dimas pun hanya bisa pasrah pada kegigihan Bian yang terus memintanya untuk segera pulang dari rumah sakit, karena Bian memang tak terlalu suka berlama-lama dalam rumah sakit seperti yang sudah-sudah. Dengan segera Dimas pun menyusul Bian yang sudah berjalan terlebih dahulu darinya.


"Kamu sudah menyelesaikan administrasinya, kan?" Tanya Bian seperjalanan mereka keluar rumah sakit.


"Sudah pak, saya sudah menyelesaikan pembayarannya."

__ADS_1


"Baguslah, ayo cepat pergi dari sini, aku sudah tidak tahan dengan baunya." Ujar Bian yang begitu membenci bau rumah sakit, dan tak tahan dengan baunya yang khas.


"Oh.." Dimas terlihat menghentikan langkahnya sejenak karena tak sengaja melihat seseorang yang tampak familiar baginya.


Bian juga menghentikan langkahnya, saat Dimas yang berjalan disampingnya tiba-tiba saja berhenti, membuatnya menoleh ke arah Dimas.


"Kenapa?" Tanya Bian pada Dimas yang sedang berhenti.


"Ah maaf pak, itu tadi saya tidak sengaja melihat manajer Kinan ada disini." Jawab Dimas yang menyadari telah berhenti tiba-tiba.


"Manajer Kinan?" Bian tampak terkejut mendengar nama Kinan disebut, dan mencoba melihat arah yang dilihat oleh Dimas.


"Iya, itu beliau sedang bersama seorang laki-laki" Jawab Dimas sembari menatap arah keberadaan Kinan yang saat ini terlihat menangis dihadapan seorang laki-laki.


Bian melihat Kinan yang tengah menangis sesegukan dalam pelukan laki-laki, yang tak lain adalah Bayu. Meski jaraknya agak jauh, namun ia masih bisa melihat sosoknya dengan jelas.


"Kita pulang saja." Ucapnya kemudian, yang lebih memilih melangkah pergi terlebih dahulu, yang kemudian dengan segera disusul oleh Dimas dibelakangnya.


...


"Pak, apa anda benar tidak apa-apa pulang dari rumah sakit begitu saja?" Tanya Dimas mencoba memecah keheningan.


"Em.." Jawab Bian singkat dengan sedikit tak bersemangat. Ia terlihat hanya melamun menatap keluar jendela mobilnya.


Dimas melihat kembali ekspresi Bian melalui kaca depan mobilnya yang terlihat lesu dan tampak melamun setelah pulang dari rumah sakit.


"Apa beliau marah ya, karena saya membawanya ke rumah sakit?"


Bahkan sampai kembali ke dalam hotel, kondisi dari mood Bian tak berubah. Tetap diam, banyak merenung dan juga melamun.


"Apa ada yang anda butuhkan lagi sama saya, pak?" Tanya Dimas setelah mengantar Bian ke kamarnya.


"Tidak ada, kamu boleh keluar. Hari ini aku tidak mau di ganggu, tolong bilang pada lainya untuk jangan datang ke kamarku." Pinta Bian kemudian, yang langsung mengganti bajunya begitu saja di depan Dimas tanpa menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Baik. Saya undur diri terlebih dahulu. Obatnya sudah saya taruh di meja anda." Dimas pun pergi dari hadapan Bian, meninggalkan Bian seorang diri dalam kamar luasnya.


Selepas Dimas pergi, Bian tampak menghela nafas panjang.


......................


Ke esokan harinya, Kinan kembali masuk kerja setelah izin tak masuk satu hari, dan kemarinya lagi sempat izin setengah hari.


"Mataku sudah gak bengkak." Ucapnya sembari bercermin menatap wajah dan juga matanya yang kemarin terus menangis.


Meski satu hari kemarin menangis sesegukan seperti tak akan pernah hidup lagi, namun hidup terus berjalan seperti biasanya, tanpa adanya perubahan yang berarti. Tangisan kemarin seolah hanyalah kiasan tanpa adanya artinya.


"Padahal kemarin aku menangis, sekarang seperti bukan apa-apa. Padahal kemarin aku baru kehilangan seseorang yang kusayang, namun hari ini seperti tiada artinya."


Kehidupan akan terus berjalan meski kamu merasa kehilangan, menangis, atau bersedih sekalipun. Yang hidup akan terus menjalani kehidupanya, dan yang meninggal akan seiring waktu dilupakan. Melihat hal itu, seolah menyadarkan kembali bahwa tak ada gunanya jika terlalu berlarut dalam kesedihan.


"Lalu apa seseorang tidak boleh bersedih untuk lebih lama lagi? Sungguh kejam."


...


"Wah debunya kenapa jadi banyak begini, padahal aku selalu rutin cek kok." Kinan tampak kaget melihat ada debu yang menempel dalam buku perpustakaan.


"Apa mereka tidak lihat saat membersihkanya?" Ucapnya lagi, sedikit sedih melihat buku-buku yang selalu ia rawat jadi kotor.


"Aku harus menegur mereka nanti, terutama mereka yang mendapat gantian membersihkan perpustakaan." Sambungnya sembari terus membersihkan buku dan ruangan perpustakaan.


Tiba-tiba saja ia berhenti di depan jendela perpustakaan yang menghadap ke perkebunan. Sorot matanya tampak sedih menatap keindahannya.


"Indah, andai aku punya waktu untuk mengajak mereka jalan-jalan. Dan sepertinya, sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk datang ke rumah mas Bayu." Gumamnya terus memandang perkebunan dengan ekspresi agak sedih, yang sedikit teringat akan orang tua Bayu.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Panggilan seseorang dari belakang membuat Kinan menoleh dengan cepat kearah suara itu.


"Pak Bian."

__ADS_1


__ADS_2