Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
113. Tak Berhenti Memikirkannya


__ADS_3

Tentu saja pernyataan Bian membuat Adel dan Adnan terkejut, karena keduanya tidak tau bahwa Bian baru saja kembali dari perjalanannya ke jogja.


"Kok tiba-tiba sih, Bi? Katanya kamu masih belum pasti buat kembali kesana lagi?" Ucap Adel.


"Iya, memang, hanya saja.. saat itu ada sesuatu yang sedikit mendesak, sehingga mau tidak mau aku harus terbang dan datang kesana untuk memastikan hal itu." Balas Bian, yang kembali menyunggingkan senyumnya.


Adel melihat reaksi itu dan kembali merasa aneh ketika melihatnya, seperti ada sesuatu yang terjadi pada Bian hari ini.


"Pantas kamu nggak ada waktu aku datang ke apartemenmu, ternyata kamu memang lagi tidak ada di apartemen. Terus, ada urusan apa kamu disana? Bukannya kamu tidak ada jadwal kembali ke jogja?" Adnan ikut berkomentar.


"Em.., yah.. sesuatu yang menyangkut masa depan lha." Lagi, kalimat Bian terasa ambigu dan seolah sedang menggoda kedua temanya yang kini sedang menatapnya bingung.


"Menyangkut masa depan? Apa yang kamu maksud soal itu? Kenapa kamu hari ini bicaranya sedikit ambigu gitu sih?" Adel yang merasa penasaran, dibuat kesal pada sikap Bian yang ia rasa sedikit aneh hari ini.


"Haha, sorry.. sorry.." Bian tertawa kecil membalas protes dari Adel. "Mending kita makan saja gimana? Aku sedikit lapar soalnya, gimana nih, kalian mau kan?" Ucapnya lagi yang akhirnya memilih mengubah topik.


"Lagi-lagi mengalihkan topik pembicaraan." Gerutu Adel masih kesal.


"Sorry deh, kita bahas soal itu lain kali saja, ok!"


"Kenapa harus lain kali? Jadi, kamu sekarang sedang main rahasia sama kita?" Protes Adel.


"Bukan gitu, aku rasa ini bukan waktu yang tepat saja, soalnya perutku lagi meronta minta makan." Balas Bian mencoba menenangkan Adel, dan kemudian melangkah mengambil makanan pesan antar yang sudah ia pesan.


....


Keanehan sikap Bian tak hanya dirasakan oleh Adel, namun Adnan pun merasa demikian ketika melihat gesture dan gelagat Bian hari ini yang terasa aneh. Karena sudah mengenal lama tentang sahabatnya itu, Adnan tau betul bahwa Bian sedang menyembunyikan sesuatu pada mereka.

__ADS_1


"Gimana persiapan acara ulang tahun kamu nanti? Apa sudah siap?" Tanya Bian di sela makan mereka.


"Sudah hampir 95%, cuma tinggal gaun yang aku pakai buat acara nanti saja yang belum selesai." Jawab Adel.


"Belum selesai juga? Bukanya kemarin sudah bagus, ya?"


"Iya, memang sudah bagus, cuma ada kendala sedikit dibagian ukuran pinggangnya, karena ternyata sedikit sempit waktu aku coba lagi. Padahal sudah di ukur juga, tapi kenapa bisa kesempitan, ya? Apa ini karena aku nambah gendut, ya?."


"Apanya yang gendut, kurus gini?" Ujar Bian, yang merasa tak setuju pada anggapan Adel dan menyanggahnya cepat pada ucapannya yang mengatakan tubuhnya jadi gemuk.


Di sisi lain, saat Adel dan Bian saling mengobrol, Adnan hanya mendengarkan obrolan keduanya sembari menyantap makanan di depanya. Karena tampak kebingungan pada arah pembicaraan dua temannya, ia hanya bisa diam dan mendengarkan saja.


"Kalian pergi nggak ngajak aku lagi?" Celetuknya kemudian setelah sempat terdiam dan hanya mendengarkan obrolan kedua sahabatnya.


Adel dan Bian yang ia maksud, menoleh ke arahnya segera ketika mendengar perkataanya yang tengah mengatakan sesuatu ditengah obrolan mereka.


"Bercanda kok, aku cuma bingung aja mau masuk di obrolan kalian yang tengah asik itu." Jawab Adnan sembari memberikan senyuman menenangkan pada Adel yang menatapnya bersalah.


"Duh, kamu ini, aku kira tadi kamu ngambek karena aku hanya mengajak Bian. Lain kali kita pergi bertiga deh, biar tambah seru." Perasaan Adel menjadi lega mendengar jawaban Adnan.


"Habisnya aku di kacangin, sih. Tapi, itu boleh juga, toh sudah lama juga kita nggak kumpul dan pergi bertiga lagi." Adnan menimpali perkataan Adel dan sedikit setuju pada usulan pergi bertiga.


"Gimana, Bi? Kamu juga setuju kan soal ini?" Adel beralih pada Bian yang terlihat fokus pada makanannya.


"Sure, why not?" Jawab Bian yang tak merasa keberatan dan menyetujui usulan itu.


"Yeay, sekarang tinggal atur jadwal yang tepat buat kita pergi nanti, setelah itu mencari waktu yang cocok juga buat kita pergi. Sekaligus memikirkan tempat yang enak buat kita datangi nanti." Seru Adel merasa semangat dengan rencana itu.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah merencanakan ini, ya?" Ucap Adnan yang sedikit curiga pada rancangan Adel yang terlihat penuh persiapan itu.


"Hehehe.." Adel tersenyum malu pada ucapan Adnan.


"Tapi aku kan memang anak yang selalu penuh pertimbangan dan persiapan, jadi hal seperti ini sih sudah biasa buatku." Sambungnya lagi, yang sedikit membanggakan dirinya sendiri.


"Ok deh, kalau begitu kita percayakan saja pada nona Adel yang penuh persiapan dan pertimbangan."


Obrolan itu, kini di ambil alih oleh Adel dan Adnan, sedangkan Bian merasakan hal yang dirasakan oleh Adnan tadi, yaitu hanya ssbagai penyimak dan pendengar obrolan. Meski ia hanya diam memandang kedua temannya yang tengah mengobrol asik, ia tak merasa kesal ataupun sedih, ekspresinya justru terlihat bahagia melihat kedua sahabatnya yang ada di depanya. Senyumnya tiba-tiba mengembang saat mengingat hubungannya bersama kedua sahabatnya yang hingga kini masih berhubungan dengan baik.


"Aku juga berharap, hubunganku dengan dia bisa bertahan lama."


Ingatannya kini, beralih pada status hubunganya bersama Kinan yang baru saja terjalin kembali setelah terpisah lama. Terlebih sekarang bukan hanya sebagai kenalan dimasa lalu, melainkan sebagai seorang kekasih. Mengingat itu, membuat Bian kembali menyunggingkan senyuman.


"Aku sudah merindukannya lagi." - Batinya dalam hati, yang kini meraskan rindunya pada Kinan.


Ia beralih menatap dua sahabatnya yang masih asik mengobrol. Menatapnya dengan serius, sembari memikirkan sesuatu.


"Mungkin, akan tiba waktunya aku menceritakan soal ini pada mereka."


Bian yang kini sudah resmi berkencan dengan Kinan, sedang menimbang kapan akan menceritakan pada Adel dan Adnan soal status hubunganya dengan Kinan. Karena sekarang masih terlihat cukup baru status hubunganya dan juga belum genap satu hari ia jadian dengan Kinan, karena itu ia masih menahannya dan menunggu timing itu akan datang nanti.


"Untuk sekarang aku akan menahannya dulu." - Tuturnya, yang akhirnya mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.


......................


Meski sudah saling terikat pada satu hubungan yang sama, namun keduanya tak bisa dengan mudah untuk menceritakan pada teman maupun kenalan terdekatnya. Banyak pertimbangan yang keduanya akhirnya ambil. Kinan, yang merasa sedikit terbebani pada status Bian itu sendiri, sedangkan Bian masih ingin mencari momen yang tepat untuk bicara pada teman dan keluarganya, mengingat belum lama juga ia jadian.

__ADS_1


__ADS_2