Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
17. Fakta Baru


__ADS_3

Apa yang membuatnya kalut? hingga membuatnya begitu dilema dan merasa bimbang?


"Kinan." Sekarang aku ingat arti dari inisial huruf K ini?" Gumam Bian yang kini sudah berada di apartemenya.


Meski berulang kali ia mencoba membuka kalung milik adel dengan kalung kunci miliknya, nyatanya tidak bisa masuk juga pada kalung gembok milik Adel. "Aku kira bakal cocok." Gumamnya menghela nafas.


"Jadi, apakah selama ini aku sudah salah sangka, soal gadis kecil yang pernah aku temui dulu?" Ucapnya bingung.


Selama ini, ia menganggap Adel adalah gadis kecil yang pernah ia temui di panti asuhan dulu, karena Adel memiliki kalung yang sama seperti milik gadis kecil itu. Meski sempat lupa soal inisial huruf pada bandul kalungnya.


"Padahal aku sudah janji tidak akan melupakan namanya, tapi kenapa aku jadi lupa.." Rutuknya pada diri sendiri yang telah mengingkari janji yang sudah ia buat sendiri, "Meski aku ingat dengan nama anak itu, tapi percuma juga karena aku juga lupa soal wajahnya.."


Bian agak dilema sekarang, ia terdiam cukup lama dan mencoba mencerna semuanya. Ia lalu mengacak-acak rambutnya yang tengah kacau dengan kenyataan yang baru ia ketahui sekarang. "Lalu.. dimana anak itu sekarang?"


Menjatuhkan tubuhnya kemudian di atas kasur dengan ekspresi bingung dan merasa serba salah.


...


Kinan atau Kinanti Agustine, gadis kecil yang ia cari saat ini, tengah melamun dengan pandangan kosong dalam ruangan kos miliknya.


Setelah terbangun dari tidurnya tadi, membuatnya terjaga dan tak bisa tidur lagi. Dalam tidurnya, ia teringat akan kejadian masa lalunya di panti asuhan dulu, bahkan soal pemilik kalung gembok miliknya, hingga alasan perihal hilang ingatanya selama ini.


"Sekarang aku sedikit ingat. Tentang Ingatanku yang hilang setelah kejadian kebakaran di panti asuhanku dulu, kebakaran yang membuat panti asuhan itu akhirnya runtuh dan hangus." Ungkapnya merasa sedih pada kenyataan itu.


"Ternyata karena kalung ini juga, aku hampir kehilangan nyawaku." Kata Kinan memegang kalung gembok yang sedang ia pakai pada lehernya. Karena mengambil lagi kalung gembok miliknya yang tertinggal dikamar, ia hampir saja kehilangan nyawa.


Entah mengapa itu membuatnya sedih, karena mengingatknya pada sikapnya dulu yang hampir membuat ibu kepala panti celaka, bahkan karena sikap cerobohnya itu membuatnya separuh ingatanya hilang. Mencopot kalung itu dari lehernya dan tak lagi memakainya, lalu menyimpanya kembali di dalam sebuah kotak.


Kinan menatap lama kalung itu, sebelum akhirnya menutup kotak kalungnya dan menyimpanya jauh dari matanya. Helaan nafas panjangnya, seolah melepas perasaan yang selama ini membuatnya terus bertanya-bertanya.


Ingatan tentang panti asuhan yang dulu hilang, kini kembali dengan perlahan, hingga membuatnya bernostalgia perihal kedatanganya di kota Jogja.

__ADS_1


Berawal dari beasiswa yang ia terima di salah satu universitas disini, Kinan memulai kehidupanya di kota ini hingga saat ini.


Setelah keluar dari panti asuhan yang telah membesarkannya sejak kecil, ia sudah hidup mandiri dengan berdaptasi pada kerasnya kehidupan sosial dan hidup sendirian tanpa keluarga disampingnya.


Merantau ke luar kota, dengan usia yang masih muda tak begitu mudah baginya. Meski mendapat beasiswa, Kinan tetap melakukan kerja paruh waktu untuk bertahan hidup di kota ini.


Pekerjaan yang ia dapat saat ini, hingga berada di posisi yang bagus benar-benar sebuah capaian dari hasil kerja kerasnya selama ini, yang tak pernah menyerah dengan kesulitan yang ia alami. Meski hotel yang menjadi tempat kerjanya belum bintang 5, karena masih terbilang baru. Namun, ia bangga bisa bekerja di bidang yang ia mampu dengan usahanya sendiri.


Saat menginjakkan kaki pertama kalinya di hotel, ada perasaan bangga pada hati Kinan, karena mengingat betapa beruntungnya dia akhirnya mendapat pekerjaan impianya dengan gaji yang sesuai.


Dari posisi yang rendah, hingga saat ini bisa memegang posisi yang cukup bagus adalah kebanggaan yang bisa ia rasakan atas ke gigihanya selama ini.


......................


Ke esokan hari, terlihat Kinan bersama para staff hotelnya tengah bersiap dari pagi untuk menyambut CEO hotel yang akan datang pada hari ini. Meski belum sehat sepenuhnya, Kinan tak melupakan kewajibanya sebagai seseorang yang ditugaskan untuk bertanggung jawab pada hotel.


Untuk menyambut pemimpin yang akan memandunya membenahi hotel dan memajukan hotel, sudah dari pagi dia sibuk dan mempersiapkan segala hal untuk menyambut kedatanganya. Dengan sigap ia membantu para staff dan rekan kerjannya untuk mempersiapkan semua hal. Raut wajahnya tampak gugup untuk menyambut tamu tersebut, yang merupakan cucu pemilik hotel. Mengingat ini adalah pertama kalinya ia melakukanya setelah mendapat mandat dari pak Roy, manajer sebelumnya.


"Ibu gapapa?" Tanya seorang staff pada Kinan.


"Saya juga jadi ikut gugup nih."


Kinan memegang tangan staffnya untuk menenangkanya agar tak ikutan gugup.


"Kamu pasti bisa." Ucapnya menyemangati.


Staff tersebut tersenyum mendengarnya.


...


Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Bian akhirnya mendarat dengan selamat dibandara.

__ADS_1


Ia tiba di kota jogja setelah menempuh perjalanan lebih dari 1 jam dengan pesawat.


Dengan mobil jemputanya, ia menuju hotel milik keluarganya.


Setelah beberapa menit perjalanan dari bandara, ia tiba di hotel tersebut, hotel Luisya Park.


"Selamat datang di hotel, pak." Ucap semua staff menyambut kedatangan Bian dan menunduk dengan hormat atas kehadiranya di hotel.


Bian masuk ke hotel bersama sekretarisnya, tak lupa ia membalas sambutan para staff hotel yang tengah . Langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang tengah mengampirinya.


"Selamat datang pak, saya manager di hotel ini, nama saya Kinanti Agustine." Kata Kinan menyapa Bian dan memperkenalkan dirinya.


Mendengar nama tersebut, sedikit membuat Bian tersentak kemudian menatap Kinan. Di tengah rasa kagetnya, ia lalu menjabat tangan Kinan yang tengah mengulurkan tangan padanya. Bian menatap Kinan dengan seksama, sebelum akhirnya melepaskan tanganya.


"Nama kamu siapa tadi?" Tanyanya kemudian.


"Saya Kinanti Agustine." Balas Kinan.


"Apa nama panggilanmu, Kinan?" Tebak Bian.


"Benar." Jawab Kinan dengan ekspresi bingung menatap Bian.


Bian terdiam, karena nama itu sama dengan orang yang ia kenal, namun ia masih setengah tak percaya.


"Maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kinan, melihat Bian yang terlihat diam. Membuat Bian tersadar dari lamunanya.


"Tidak ada, tolong bawa barang-barangku ke kamar, kalian sudah menyiapkan kamar untukku kan?" Uacapnya kemudian.


"Sudah, mari saya antar."


Kinan menuntun Bian menuju ke dalam ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya. Ia melayani Bian dengan ramah dan sopan untuk membawanya pada kamar yang sudah disiapkan untuknya.

__ADS_1


Dalam sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya, Bian tak bisa berhenti melepas pandanganya pada Kinan.


Kebetulan macam apa ini? - Batinya.


__ADS_2