Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
28. Mengganggu Pikiran


__ADS_3

"Tumben kamu keluar?" Ucap Bayu membuka obrolan.


"Ah.. aku lagi suntuk aja, jadi pengen keluar sebentar." Jawab Kinan agak canggung.


"Kamu lagi ada masalah ya?" Tebak Bayu melihat Kinan yang sedari tadi banyak melamun.


"Masalah? kenapa mas Bayu bisa berpikir seperti itu?." Kinan yang merasa bingung soal pertanyaan dari Bayu.


"Aku kenal kamu sudah lama lho. Muka kamu itu gak bisa bohong. Kalau mau cerita, aku siap buat dengerin. Yah.. mungkin gak bisa bantu banyak, seenggaknya aku bisa jadi pendengar yang baik." Kata Bayu yang menyadari kalau Kinan sedang ada masalah.


Kinan hanya diam, dan agak ragu untuk memulai, yang akhirnya hanya bisa memendamnya.


"Terimakasih mas, tapi aku benar-benar gak ada apa-apa kok." Ucap Kinan kemudian yang tak ingin bercerita.


"Yaudah kalau kamu bilang begitu, aku sih gak maksa kamu. Cuma agak sedih aja kamu gak mau terbuka lagi sama aku." Kata Bayu agak sedih.


"Aku beneran gak ada apa-apa kok." Tegas Kinan lagi meyakinkan Bayu dan menatapnya serba salah. " Mas Bayu sendirian aja kesininya?" Kinan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Gak sih, tadi aku sama Ayu. Cuma gak tau dia kemana sekarang?" Jawab Bayu.


"Sama Ayu! wah sudah lama ya aku gak ketemu sama Ayu lagi."


"Kamu juga sudah lama gak main kerumah? main aja kalau ada waktu." Balas Bayu.


"Iya juga ya, ternyata sudah lama aku tidak mampir kerumah. Nanti aku mampir deh kalau ada waktu. Ibu sama bapak mas Bayu baik-baik saja, kan?"


"Iya mereka baik-baik saja. Kalau mau tau keadaan mereka, datang aja. Ibu sama bapak juga pasti senang ketemu sama kamu lagi."


"Iya, nanti aku akan datang kalau ada waktu luang.." Balas Kinan.


Bayu dan keluarganya sudah seperti keluarga bagi Kinan. Hubungan Kinan dan Bayu awalnya adalah hubungan antara junior dan senior karena mereka satu kampus yang sama. Namun, seiring berjalanya waktu hubungan keduanya sudah seperti keluarga.

__ADS_1


Kinan sering berkunjung ke rumah Bayu, bahkan Kinan diterima dengan baik oleh keluarga Bayu. Mungkin sejak 3 bulan yang lalu, mereka jadi tak saling berkomunikasi lagi dan Kinan yang sudah jarang mampir lagi ke rumah Bayu. Alasanya tak lain, karena Kinan yang merasa tak enak dengan Intan. Pacar Bayu yang memperlihatkan ketidaksukaanya pada Kinan dan kehadiranya dalam keluarga Bayu.


Melihat hubungan Bayu dan pacarnya sering bertengkar membuat Kinan merasa serba salah. Karena merasa tak enak, Kinan pun memilih menjauh dari mereka demi kebaikan bersama.


"Wah kayanya sudah malam deh, sepertinya aku harus balik ke kosan, soalnya besok masih harus kerja." Ucap Kinan bangkit dari duduknya.


"Kamu sudah mau balik?" Tanya Bayu sambil mengecek jam di tanganya. "Ah.. iya sudah malam ternyata, kalau begitu aku antar kamu ke kosan." Kata Bayu menawarkan.


"Oh gak usah mas, aku bisa pulang sendiri kok. Tadi juga aku datang sendiri, jadi.. gapapa jangan khawatir." Ucap Kinan menolak dengan sopan tawaran dari Bayu.


Bayu menatap wajah Kinan sejenak. "Baiklah, hati-hati kalau gitu." Ucapnya kemudian.


Bayu sepertinya melihat kalau Kinan masih merasa tak nyaman denganya, apalagi soal masalah kemarin. Karena itu ia mencoba tak memaksa lagi, takut membuat Kinan merasa lebih tak nyaman denganya.


"Iya, aku pergi dulu ya mas. Aku titip salam buat bapak dan ibu mas Bayu, sama Ayu juga."


"Ok, nanti aku sampaikan ke mereka." Balas Bayu melepas kepergian Kinan.


...


Di dalam kosanya, Kinan merasa lega begitu sampai. Ia mengingat kembali pertemuanya dengan Bayu setelah sekian lama. Sebenarnya dia merasa tak enak dengan Bayu, karena sedari tadi hanya bersifat kaku dan canggung selama berbicara denganya.


"Aku masih canggung ketemu sama mas Bayu, apalagi setelah kejadian itu." Ucapnya mengingat kembali masalah itu.


Dia mencoba tak berkalut dalam hal itu, dan memilih untuk membasuh wajah dan kakinya sebelum tidur.


Hari yang begitu melelahkan baginya, masalah di hotel dan masalah dengan Bayu kembali teringat olehnya. Meski begitu, Kinan cukup merasa senang memutuskan untuk jalan-jalan keluar sebentar.


Meski hari yang dilaluinya tak selalu mulus, Kinan merasa bersyukur karena bisa mengatasinya hingga detik ini. Tak ada keluarga yang bisa ia mintai tolong, karena dia yang seorang anak yatim piatu. Ia tumbuh dengan mandiri sedari kecil, karenanya dia harus lebih kuat agar bisa bertahan di tengah kerasnya hidup seorang diri.


Kinan menatap bangga pada dirinya sendiri yang masih bertahan dan tumbuh dengan baik, meski jauh dari teman-teman panti dan keluarga besar panti asuhanya dulu.

__ADS_1


......................


Bulan yang muncul di malam hari, kini mulai menyembunyikan dirinya dan Matahari telah menunjukkan eksistensinya.


Di dalam kosan mungilnya, Kinan tengah bersiap diri untuk berangkat kerja. Tubuhnya sudah berpakaian dengan rapi. Ia mengambil nafas panjang, sejenak menenangkan dirinya untuk memulai aktivitas barunya pada pagi ini. Hari buruknya kemarin telah ia hapus dan berharap terjadi hari baik untuknya hari ini.


"Semangat." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Mengendarai motor maticnya yang sudah seperti jiwa baginya, Kinan bergegas ke hotel tempatnya bekerja.


...


Hotel masih tampak sepi di pagi hari, meski semua rekan-rekanya silih berganti datang dan masuk ke dalam hotel.


Namun begitu ia masuk, Kinan sudah harus berhadapan dengan Bian yang memanggilnya melalui Dimas. Mereka berbicara di restauran sambil meminum segelas kopi di hadapanya.


"Hari ini, kita akan bertemu salah satu klien, aku mau kamu ikut denganku." Kata Bian pada Kinan yang tengah duduk di hadapnya.


"Baik." Jawab Kinan tanpa penolakan.


Dimas lalu memberikan sebuah kertas pada Kinan untuk di pelajarinya. Kinan mengambilnya dengan senang, lalu mencoba membacanya.


Bian, Dimas dan juga Kinan tengah berbicara serius untuk mendiskusikan pertemuan mereka nanti dengan klien. Ketiganya memasang wajah serius ketika membahas seputar hotel.


Banyak hal yang dikatakan oleh Bian pada Kinan, intruksi tersebut di terima dengan baik oleh Kinan dan ia tampak menyetujui dan tak lupa untuk mencatatnya.


Karena hotel masih baru, butuh banyak investasi untuk mengembangkan hotel, karenanya Bian ditugaskan oleh kakek dan papanya untuk mengatasi hal tersebut.


Begitu selesai berdiskusi, ketiganya segera keluar dari hotel dan menemui klien mereka. Jam telah menunjukkan pukul 7.25 pagi ketika mereka hendak keluar. Semua mata menatap ketiganya yang keluar secara bersamaan. Namun, sebelum keluar Kinan berpamitan pada Shiva dan menitipkan hotel selama ia dan pak Bian keluar.


"Aku benci dia.." Gumam Shiva tak suka melihat Kinan pergi bersama dengan Bian dan juga Dimas.

__ADS_1


__ADS_2