
"Oh.." Ucap keduanya secara bersamaan dengan ekspresi sedikit terkejut.
Dalam suasana canggung dan tak terduga tersebut akhirnya Kinan lebih dulu menyapa orang tersebut.
"Pak Dimas beli martabak juga?" Kata Kinan pada Dimas yang tengah mengantri.
"Iya." Jawab Dimas agak sedikit malu.
Kinan hanya bisa tersenyum mendengar balasan dari Dimas. Karena tak begitu dekat, membuat keduanya sedikit canggung dan juga kikuk.
"Anda berjalan kaki?" Ucap Dimas mencoba bertanya pada Kinan.
"Ah.. iya, soalnya ban motor saya kempes jadi tidak bisa di buat jalan. Terpaksa saya harus berjalan kaki." Jelas Kinan.
Setelah obrolan singkat itu, suasana kembali hening. Tak ada lagi obrolan hingga martabak pesanan mereka selesai dibuatkan.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Kata Kinan pamit pada Dimas, setelah menerima martabaknya.
"Tunggu.." Cegah Dimas.
"Iya, ada apa ya?"
"Oh itu.. biar saya antar. Bukan, maksudku bareng saja, soalnya aku juga mau ke arah sana." Ucapnya dengan kikuk pada Kinan yang hendak kembali melanjutkan perjalananya.
"Kalau begitu saya mau, maaf kalau merepotkan." Balas Kinan yang akhirnya menerima tawaran tersebut, setelah sempat terdiam. Ia tak menolak tawaran itu, mengingat dia yang juga harus segera pulang dan hari yang sudah mulai petang.
Benar-benar hening, selama dalam perjalanan tak ada obrolan diantara mereka. Hubungan yang tak akrab, membuat keduanya sedikit canggung hingga menyiptakan keheningan di dalam mobil.
"Anda benar mau ke arah sini?" Tanya kinan yang merasa tak enak pada Dimas yang harus mengantarnya.
"Iya, aku ada urusan sebentar disana. Kosan kamu belok kesini, kan?" Tanya Dimas menunjuk suatu arah ke kiri.
"Benar, tapi kok anda bisa tahu kosan saya?" Kata Kinan yang merasa bingung, karena merasa belum bicara soal letak kosanya pada Dimas, dan hanya ingin di turunkan di perempatan jalan saja yang dekat dengan arah kosanya.
Tentu saja pertanyaan itu membuat Dimas kelabakan, dia sedikit kaget melihat Kinan. Mengingat dia tahu tentang kosanya, dari telusuranya sebelumnya.
"Aku tahu, karena aku sempat kesana untuk mencari tempat tinggal sementara selama disini, ternyata itu tempat kosan kusus perempuan, jadi aku mengurungkanya." Jelas Dimas dengan tenang.
__ADS_1
"Oh gitu. Tapi, kenapa anda tidak tinggal di hotel? padahal kan sudah disiapkan sebelumnya?" Kata Kinan heran.
"Ah.. aku tidak terlalu suka tinggal di hotel." Balas Dimas dengan jujur.
Balasan dari Dimas mengakhiri obrolan mereka, suasanapun kembali hening di antara keduanya. Namun, tak berlangsung lama karena perjalanan menuju kosan Kinan telah sampai.
"Terimakasih pak, maaf kalau saya merepotkan anda." Ucap Kinan begitu turun dari mobil.
"Tidak masalah, kan aku yang menawarkan."
"Kalau begitu saya permisi masuk ke dalam." Ucap Kinan lagi, yang mendapat anggukan dari Dimas.
Setelah itupun mereka berpisah dan kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dimas pada urusanya, lalu Kinan masuk ke dalam kos-kosanya.
...
"Wah, ternyata pak Dimas orangnya baik. Aku pikir orangnya dingin karena tidak banyak bicara." Kata Kinan yang baru menyadari sifat Dimas. Mengingat mereka yang tak pernah berinteraksi sebelumnya, membuatnya tak begitu faham soal Dimas.
Dalam kos-kosan mungilnya, Kinan merasa beryukur dengan pertolongan Dimas tadi, namun disatu sisi dia terpikirkan dengan nasib motornya yang masih tertinggal di hotel, dengan sedikit robekan di ban belakangnya tadi.
"Sepertinya besok harus aku ganti deh." Ucapnya memikirkan nasib motornya.
"Aku jahat banget, padahal belum ada buktinya." Ucapnya mengakhiri berbagai spekulasinyadl dan lanjut memakan martabak telornya.
Dengan memakan martabak telor yang sempat dia beli tadi, Kinan kembali tersadar dengan pengakuan dari Bian tadi, soal identitas dirinya yang merupakan kakak kenalan masa kecilnya dulu.
Ia mencoba meraih sebuah kotak di atas mejanya, mencari sesuatu yang sekiranya berhubungan dengan masa lalunya. Benar, dia mencari kembali kalung berbandul gembok yang sempat dia simpan.
Kinan mencoba mengeluarkan kalung dari kotaknya, memandangnya begitu lekat pada kalung tersebut.
"Akhirnya aku bisa mengembalikannya pada pemiliknya." Ujarnya pada kalung tersebut.
Kinan merasa bernostalgia pada pertemuanya dengan Bian dulu, janji yang ia buat saat masih kecil dengan spontan ternyata masih di ingat oleh Bian. Meski tak ada harapan apapun padanya untuk bertemu kembali pada kakak kenalanya dulu, mengingat waktu yang lama sejak pertemuan pertama mereka.
"Padahal beliau bisa saja pura-pura tidak mengenalku, tapi beliau malah memberitahuku." Ucapnya pada pengakuan Bian.
...
__ADS_1
Seperti sebuah takdir yang sedang kebetulan, Bian juga sedang memandangi kalung kunci miliknya di dalam kamarnya sekarang. Memandangnya lekat dan penuh keseriusan.
"Sepertinya kamu bakal bertemu dengan pasanganmu." Ujarnya menatap kalung kunci miliknya dengan sedikit tersenyum.
Sembari berbaring di atas ranjang tidurnya, Bian kembali teringat akan pengakakuanya pada Kinan. Ia sendiri tak mengira bahwa akan dengan cepat dan mudahnya mengatakan siapa dirinya pada Kinan.
"Apa dengan ini dia akan canggung sama aku? atau justru jadi merasa terbebani? apakah seharusnya tidak usah dikatakan saja ya?"
Berbagai bergolatan hati telah menimpa dirinya, tidak seperti biasanya yang merasa cuek dan tak perduli dengah hal seperti itu. Seperti takut jika Kinan merasa tak nyaman padanya nanti.
"Bukanya pantas kalau dia jadi merasa tidak nyaman? ini kan sudah 21 tahun yang lalu? apalagi dia bawahanku sekarang..." Ujarnya lagi bangkit dari tidurnya.
Dering telfon mengalihkan perhatianya sejenak. Nama yang tertera di dalamnya ternyata begitu familiar, namun Bian tak langsung mengangkatnya. Ia menjedanya dan sejenak terdiam menatap layar ponselnya.
Adel, ini sudah ketiga kalinya dia menelfon Bian dalam hari ini. Tak seperti biasanya, bahkan lebih sering dibanding waktu di kanada dulu.
Tuut.. tuut.. tuut..., suara telfon berhenti dan tertutup sebelum Bian menjawabnya, namun tak berselang lama suara itu kembali berdering, dengan Adel yang mencoba menelfon Bian lagi. Kini, Bian mencoba mengangkat telfonya dengan segera.
Tak ada yang spesial dan hal serius, Adel hanya kembali menanyakan kabar dan hal apa saja yang dilakukan oleh Bian di jogja. Seperti biasa, Bian menjawabnya dengan tenang dan penuh perhatian seperti biasanya pada Adel, hingga waktu telfon di antara mereka usai setelah 15 menit berlalu.
Bian kembali menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, menatap lurus langit-langit kamarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Ujarnya setengah frustrasi.
......................
Jika cinta menbuatmu lelah, berhentilah
Namun, jika cinta membuatmu bahagia
maka kejarlah, dan perjuangkan dia.
...
Apakah perasaan itu cinta? atau hanya hasrat yang sementara saja?
Belenggu asmara, ataukah cinta yang membara?
__ADS_1
Maka kamulah yang akan tahu segalanya?