Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
117. Sebuah Pesan


__ADS_3

Kinan merasa tak enak pada Bian ketika begitu saja menutup telfonya saat Bian yang sejatinya masih ingin bicara denganya. Ia merasa malu begitu telfonya tertutup dan hanya bisa memandangi handfonenya.


"Kak Bian pasti bingung kenapa aku tiba-tiba seperti ini." Ucapnya yang bersikap sedikit aneh sembari menatap layar ponselnya.


"Kenapa aku melakukan hal yang tak pernah kulakukan sih." Rutuknya pada dirinya sendiri sembari menyadarkan dirinya yang telah bersikap berani pada Bian hari ini.


Saat kebingungan itu tengah mengahampiri dirinya yang hari ini bersikap diluar biasanya, tiba-tiba sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Di tatapnya layar ponsel miliknya yang sedang ia pegang, dan terlihat nama Bian disana. Tentu Kinan merasa terkejut, dan membuka pesan itu secara hati-hati untuk melihat isi pesan yang dikirim oleh Bian.


Kinan, kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?


Apa ada sesuatu yang terjadi sama kamu disana? Atau justru ada yang mengganggu kamu?


Kamu baik-baik saja, kan?


Tolong jawab ya, aku benar-benar khawatir.


Rentetan pertanyaan ditanyakan oleh Bian di dalam pesan teksnya untuk Kinan. Kalimat yang Bian tulis terlihat begitu menghawatirkan Kinan. Penuh ketulusan dan seakan memperlihatkan betapa khawatirnya Bian pada Kinan.


"Aku harus menjawab apa ya?" Kinan merasa bingung harus menjawab apa pada pesan yang dikirim oleh Bian untuknya.


Nada menyesal tersirat dari wajah Kinan saat ini, karena dirinya telah membuat Bian menghawatirkannya.


"Ini gara-gara obrolan itu, sampai membuatku tidak bisa berfikir jernih seperti ini." Rutuknya pada dirinya sendiri karena terus merasa kepikiran akan obrolan rekan-rekanya waktu berada dikantin, hingga sampai bersikap tak rasional dan aneh pada Bian.


"Aku sudah melakukan hal bodoh." Kembali merutuk dirinya sendiri, Kinan seolah menyesali keputusanya yang menelfon Bian secara mendadak seperti tadi.


"Tenang, fiuh.." Ucapnya mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan memilih menghembuskan nafas secara perlahan.


"Sekarang aku harus membalas pesan ini dulu, aku takut beliau menungguku."

__ADS_1


Ting, sebuah pesan masuk kembali ke ponsel miliknya ketika ia yang baru saja hendak membalas pesan dari Bian. Namun, betapa terkejutnya ketika dirinya melihat pada layar ponselnya saat melihat siapa yang mengirimkan pesan untuknya dan matanya kembali terbelalak ketika melihat isi pesan teks tersebut.


Kalau kamu tidak menjawabnya, aku akan bertanya langsung padamu.


Benar, pesan yang penuh dengan kalimat mengejutkan itu datangnya dari Bian kembali. Dari kalimat itu dapat disimpulkan jika Kinan tak menjelaskan apa yang terjadi pada Bian, maka Bian akan datang menghampiri dirinya untuk bertanya langsung padanya, seperti yang sudah pernah Bian lakukan ketika memastikan lagi perasaan Kinan untuknya.


"Duh, gawat, tidak boleh seperti ini lagi." Kinan buru-buru membalas pesan Bian, dengan tulisan yang hati-hati dan bahasa yang sederhana, ia pun segera mengirimkan jawabannya setelah mengetiknya dengan hati-hatian dan penuh pertimbangan.


"Semoga beliau percaya dengan penjelasanku dan tidak datang kesini lagi seperti saat itu." Harap Kinan dengan cemas menantikan balasan Bian.


Pesan yang ia tunggu telah masuk setelah beberapa menit kemudian, pesan yang kembali dikirim oleh Bian itu akhirnya ia buka.


Aku lega mendengarnya.


Sekarang aku bisa lebih tenang disini dan melanjutkan pekerjaanku tanpa menghawatirkanmu lagi.


Aku akan menelfonmu lagi nanti malam, sekarang aku mau lanjut kerja dulu.


"Aku khawatir beliau akan curiga dan tidak percaya, syukurlah ternyata beliau mempercayaiku." Senyum kelegaan terpancar diwajahnya yang sembari memeluk ponselnya.


Namun, tiba-tiba perasaanya berubah menjadi berdebar ketika teringat pada pesan teks terakhir yang dikirim oleh Bian. Perihal Bian yang akan menelfonya kembali nanti malam.


"Kenapa aku merasa berdebar seperti ini ya, padahal hanya dengan melihat kalimat itu." Ujarnya sambil menyentuh dadanya yang bergetar.


Pesan teks dari Bian nyatanya tak berhenti disana, Bian kembali mengirimkan pesan teks pada Kinan. Dan lagi-lagi, pesan teks itu membuat Kinan merasa berdebar, hingga membuat tubuhnya sedikit tertegun saat membacanya.


Aku mencintaimu 💖


Kalimat cinta yang ditulis dari pesan teksnya disertai emoticon love disampingnya, tentu saja membuat Kinan merasa terpaku hingga tak percaya ketika pertama kali membaca pesan tersebut. Ekspresi haru hingga perasan bahagia tak bisa Kinan sembunyikan dari raut wajahnya saat ini.

__ADS_1


"Aku juga, aku juga mencintai anda." Balasnya pada kalimat yang dikirim oleh Bian sembari mendekap ponselnya.


Karena terlalu bahagia dengan pesan dari Bian, tak sengaja air matanya keluar begitu saja dari dua bola matanya.


"Ah, kenapa aku jadi menangis begini, harusnya kan aku bahagia." Ucapnya sembari mengusap air matanya.


Kinan menata riasan dan penampilannya, sebelum akhirnya kembali pada pekerjaanya. Namun, begitu berbalik ia dikejutkan oleh kehadiran Shiva yang sudah berdiri di depannya sembari memasang wajah sinis dan tak suka. Kinan yang tau bahwa Shiva begitu membencinya, terlihat tak memperdulikan hal itu dan memilih pergi begitu saja dari hadapan Shiva.


"Wah.., bukankah ini berita yang luar biasa? Ternyata dia sudah punya pacar toh." Ucap Shiva berkomentar soal Kinan yang baru saja melewati dirinya.


"Dia mendekati teman dokternya dan pak Bian, padahal dia sendiri sudah punya pacar? Bukankah itu terlalu maruk namanya?" Decak Shiva tak percaya dan menatap sinis arah Kinan.


"Sial, aku kesal sama dia." Umpatnya yang akhirnya memilih pergi dengan ekspresinya yang kesal.


....


Di tempat yang berbeda, Bian yang tengah menuju suatu lokasi bersama Dimas, sang sekretaris, terlihat terus memikirkan Kinan. Obrolan lewat telfon dan chat yang ia lakukan bersama Kinan beberapa menit lalu, nyatanya meninggalkan pikiran baru bagi Bian.


"Apa ini hanya kekhwatiranku saja ya?"


Chat yang ia kirimkan pada Kinan sejatinya sudah mendapatkan balasan dari Kinan, namun masih saja membuat Bian kepikiran dan belum merasa puas.


"Hari ini aku akan berkunjung kerumah lagi." Ucap Bian pada Dimas yang tengah menyetir di depan.


"Baik," Jawab Dimas yang langsung memahami maksud Bian.


Kalimat yang ringan dan pendek itu, nyatanya mudah dimengerti oleh Dimas. Tanpa Bian jelaskan lebih lanjut, Dimas seolah faham maksud dari kalimat yang dikatakan oleh Bian untuknya.


Sudah beberapa hari Bian berada di kantor pusat dan sekarang ia sudah merasakan perasaan bosan. Meski sempat pergi sebentar ke jogja, namun nyatanya ia sudah merindukan tempat itu lagi.

__ADS_1


Aneh, padahal aku belum lama tinggal disana, kenapa tempat itu justru lebih spesial dibanding di kanada atau amerika, ya?


"Apa ini karena ada seseorang yang spesial disana?"


__ADS_2