Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
23. Penuh Pertanyaan


__ADS_3

Semua tampak bingung dengan di kumpulkanya semua pekerja oleh Bian di lobi hotel.


"Apanih? jangan-jangan kita mau di pecat lagi?" Ucap salah seorang staff hotel dengan nada khawarir.


"Hush, jangan ngawur kamu. Masa iya kita di pecat sih, kita kan udah bagus-bagus aja selama bekerja di hotel ini." Saut yang lainya.


Bukan hanya mereka, Kinan pun merasakan ke gugupan yang sama, karena pertemuan ini begitu tiba-tiba.


...


Saat sebelum kejadian pertemuan itu terjadi, Kinan yang datang lebih pagi tampak tak berfirasat apapun, bahkan ia juga sampai menyiapkan sarapan pagi untuk Bian dan sampai itupun tak ada apapun.


Setelah menyiapkan makanan untuk Bian, tiba-tiba saja Kinan di panggil kembali olehnya ke dalam ruanganya. Dan saat itu, semua karyawan sudah pada datang.


"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu." Ucap Kinan menghadap Bian.


"Kamu, tolong kumpulkan semua karyawan di lobi, karena ada hal yang mau aku sampaikan ke mereka." Kata Bian. "Sebisa mungkin jangan buat kegaduhan, agar tak mengganggu para tamu."


Mengumpulkan karyawan?


Kinan agak kaget begitu mendengar intruksi tersebut, ekspresi wajahnya entah kenapa tiba-tiba menegang.


"Baik, akan segera saya lakukan. Apa ada hal lain yang ingin anda inginkan?" Tanya Kinan lagi.


"Tidak ada, itu saja. Ah.. tolong bereskan makanan ini." Pinta Bian.


"Baik." Kinan dengan sergap membereskan sisa bekas makanan Bian yang ia siapkan tadi. "Kalau begitu saya permisi dulu pak." Kata Kinan kemudian yang hendak keluar.

__ADS_1


"Apa kamu sudah menemukan bukumu?" Tanya Bian, menghentikan langkah Kinan.


"Ah.. itu, saya belum menemukanya." Jawab Kinan bingung dengan pertanyaan Bian.


"Buku apa yang kamu cari? apa itu penting?" Tanya Bian lagi.


"Itu.. emm, itu buku harian saya, jadi sedikit penting untuk saya.." Jawab Kinan.


Bian mengangguk kecil. Tiba-tiba saja suasana jadi canggung.


"Maaf pak, apa saya boleh keluar sekarang?" Ucap Kinan melihat Bian yang tak lagi bertanya padanya. Namun lain halnya dengan Bian yang masih menatap Kinan dengan penuh pertanyaan.


"Kamu, apa dulu pernah tinggal di panti asuhan?" Tanyanya kemudian.


Pertanyaan dari Bian yang tiba-tiba seperti itu tentu saja membuat Kinan terkejut, apalagi soal tempat tingalnya dulu. Ia menelan salivanya dan mendadak diam karena sedikit bingung mendapat pertanyaan yang mengejutkan itu.


"Berapa lama kamu tinggal disana?"


Apa nih? kenapa dia ingin tau soal panti asuhanku dulu? - Batin Kinan merasa bingung.


"Sampai usia saya 18 tahun."


"Baiklah, kamu boleh keluar." Kata Bian dan membiarkan Kinan keluar.


"Baik, kalau begitu saya permisi." Kinan menunduk sopan lalu beranjak keluar dari.kamar Bian.


...

__ADS_1


Di lobi hotel, semua telah berkumpul dan tengah menunggu kedatangan Bian. Meski raut wajah mereka dipenuhi berbagai pertanyaan dan kekhawatiran, namun mereka tak bisa berbuat apapun selain mengikuti perintah.


"Maaf, saya terlambat. Terimakasih karena sudah berkumpul." Ucap Bian begitu tiba. Ia datang bersama Dimas.


Seketika suasana menjadi tegang, karena akhirnya mereka bisa melihat wajah pemimpin mereka. Meski ada yang merasa senang karena bisa melihat langsung dan tak sedikit yang terpesona dengan wajahnya.


"Ada yang mau saya sampaikan ke kalian hari ini." Sambung Bian.


Seketika ketegangan kembali menghampiri mereka, begitu mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Bian. Setelah sedikit berisik tadi karena kekaguman mereka pada sosok seorang Bian dan Dimas.


"Saya ingin bilang terimakasih pada kalian semua yang masih bertahan di hotel ini, dan bekerja keras pada peningkatan kualitas hotel selama ini. Apalagi selama ditinggal oleh pak Roy berobat." Kata Bian membuka kalimatnya.


"Meski ada sedikit masalah karena pergantian manajer yang mendadak dan menimbulkan pergantian posisi dan karyawan. Tapi..."


Bian tak melanjutkan kalimatnya, membuat para karyawan merasa was-was, apalagi ekspresinya terlihat serius.


Semua saling bertanya pada orang disampingnya dalam suasana yang tegang itu, tak terlepas pada Kinan yang ikut merasa gugup karena ia sendiri tak mengerti akan pertemuan tersebut.


"Saya mohon maaf..."


Belum selesai Bian melanjutkan kalimatnya, semua karyawan hotel sudah saling berbisik satu sama lain.


"Tolong diam semuanya, pak Bian akan melanjutkan kalimatnya."


Setelah itu, semua diam begitu mendapat intruksi dari Dimas.


Seketika suasana menjadi hening dan sunyi,memandang wajah Bian yang tengah menunggu kondisi lebih tenang. Mata mereka menatap penuh rasa penasaran pada pemimpinya.

__ADS_1


__ADS_2