Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
102. Curhat Bian bersama Adnan


__ADS_3

Adnan cukup terkejut mendengar perkataan Bian, bahkan sempat tak bisa berkata-kata karena terlihat masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia bahkan masih mencoba mencerna akan kalimat yang dikatakan oleh Bian.


"Orang yang kamu suka? Apa maksudnya?" Ucapnya ditengah rasa keterkejutanya.


"Aku tengah jatuh cinta sama seorang perempuan." Balas Bian menatap Adnan disampingnya.


"Apa maksudmu dengan jatuh cinta? Lalu bagaimana perasaanmu pada..." Adnan menjeda kalimatnya yang terlihat menahan rasa bingungnya ketika melihat jawaban dari Bian.


"Pada Adel, bukankah kamu menyukainya?" Adnan melanjutkan kembali kalimatnya.


"Benar, aku memang menyukainya, tapi aku baru menyadari kalau ternyata aku tidak mencintainya."


Adnan tertegun mendengarnya, ekspresi yang bisa ia buat saat ini adalah rasa bingung akan kalimat yang dikatakan oleh Bian. Tubuhnya seolah terpaku, dan perasaanya tiba-tiba menjadi keluh.


"Maksudmu apa dengan bicara seperti itu? Bukankah kamu menunggu Adel, karena memang menyukainya?" Dengan ketenanganya, Adnan kembali menanyakan alasannya pada Bian.


"Kamu sendiri, bagaimana perasaanmu pada Adel? Apa kamu masih menyukainya?" Namun, Bian justru berbalik bertanya padanya.


Adnan terdiam keluh, bibirnya membeku karena ucapan itu.


"Kenapa malah membahas ini, kan disini aku lagi bertanya soal perasaanmu pada Adel?"


Kali ini, giliran Bian yang menjadi diam. Ia mencoba memikirkan kembali pertanyaan itu.


"Aku masih menyukainya, tapi hanya sebagai teman." Ucap Bian berkata jujur pada Adnan.


"...."


Seketika suasana menjadi hening dan sunyi. Keduanya pun berada dalam pikiran masing-masing dengan berbagai hal yang mengganggu perasaan mereka. Baik, Bian maupun Adnan menjadi terhanyut dalam pikiran masing-masing. Terlebih bagi Adnan yang terlihat masih cukup terkejut pada sikap dan perkataan Bian.


"Kamu... masih menyukai Adel, kan?"


Setelah terdiam beberapa sejenak, Bian mencoba membuka obrolan.


"Iya, aku masih menyukainya." Adnan mengatakanya dengan jujur, meski sempat ragu untuk mengatakannya.


"Baguslah, mungkin yang terbaik bagi Adel memang cuma kamu." Bian menatap lega pada sahabatnya itu dengan memperlihatkan senyum tipisnya. Namun, bagi Adnan yang melihatnya justru terlihat merasa aneh.

__ADS_1


"Jadi, soal kamu yang tengah jatuh cinta dengan seorang perempuan itu bukan bohongan?"


Bian menyunggingkan sudut bibirnya, dan memperlihatkan sedikit senyum tipisnya ketika Adnan masih meragukan ucapannya.


"Aku serius soal itu."


"Apa karena ini kamu mengajakku ketemuan?"


"Benar, aku ingin mengatakan soal ini padamu, terlebih aku juga ingin curhat padamu, soal kegundahanku yang akan meninggalkan perempuan itu jika aku jadi pindah ke kantor pusat nanti." Jelas Bian masih dengan wajah tak semangatnya.


"Soal perempuan itu? Apa aku juga mengenalnya?"


"Tidak, kamu tidak mengenal dirinya."


"Bagaimana kamu yakin kalau kamu jatuh cinta sama dia? Kamu kan baru pinah tidak lebih dari 3 bulan?"


"Sebanarnya aku sudah mengenalnya dari kecil, karena suatu hal, membuatku jadi tertarik padanya."


Adnan yang tengah duduk di samping Bian, meraskan perbedaan ekspresi yang diperlihatkan oleh Bian. Melihat Bian memasang wajah merona dan senyum malunya ketika membahas orang yang dia cinta, membuatnya sedikit terpaku. Memperjelas bagi dirinya, tentang Bian yang memang sedang jatuh cinta dengan seseorang.


"Kenapa perasaanmu tiba-tiba beralih? Padahal kamu sudah lama menyukai Adel?"


Adnan terdiam, karena ia tau betul bagaimana Bian bertahan akan perasaanya pada Adel, hingga tak pernah menyukai perempuan lainnya selama di kanada. Meski saling tertarik satu sama lain, sempat membuat Adnan terkejut ketika Adel justru terus menolak perasaan Bian.


"Siapa perempuam yang kamu maksud itu? Katamu kamu sudah mengenalnya dari kecil, tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?"


"Karena kamu memang tidak ada disana waktu itu. Aku bertemu denganya saat aku pergi bersama keluargaku untuk mengunjungi panti asuhan yang mendapat perhatian besar dari keluarga besarku."


"Panti asuhan? Apa ini cerita soal 21 tahun yang lalu itu?"


"Benar, dia gadis kecil yang aku kenal dulu."


"Tunggu, bukanya itu Adel? Kan kamu dulu pernah bilang seperti itu sama aku?"


"Awalnya memang ku kira itu Adel, tapi ternyata bukan."


"Jadi..., karena hal itu, yang akhirnya membuatmu jatuh cinta sama perempuan itu?"

__ADS_1


"Awalnya tidak, tapi setelah bertemu terus sama dia, aku jadi lebih tertarik denganya."


"Apa hanya karena Adel bukan teman masa kecil yang kamu kenal dulu, jadi kamu tidak suka lagi padanya?" Anehnya Adnan sedikit marah ketika melihat jawaban dari Bian.


Bian cukup terkejut ketika mendengar Adnan berbicara seperti itu padanya. Ia segera menatap ke arah Adnan, yang ada di sampingnya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Ini tidak ada kaitanya dengan itu, meski aku menyukai Kinan karena ada kenangan dimasa lalu, tapi bukan berarti aku jadi menjauhi Adel karena dia bukan teman gadis kecil yang dulu pernah ku kenal. Aku masih menyukainya, tapi sebagai teman."


"Kinan, jadi itu namanya?" Adnan tersenyum simpul dan mencoba menahan perasaan marahnya. "Tapi, bukankah hal yang kamu lakukan terlalu tiba-tiba? Kamu menunggu Adel lebih dari 2 tahun, dan sekarang kamu malah bilang telah jatuh cinta pada seorang perempuan hanya 3 bulan lebih kalian bertemu, apa itu mungkin?" Adnan menatap Bian dengan ekspresi meminta kejelasan yang lebih jelas.


Bian menatap diam pada Adnan yang tiba-tiba menjadi marah padanya. "Kenapa kamu jadi marah? Bukankah harusnya ini jadi berita baik buatmu yang menyukai Adel?"


"Aku memang menyukainya, tapi apa kamu tau kalau Adel itu lebih menyukaimu."


"Dia tidak menyukaiku."


"Apa?" Adnan menatap bingung pada Bian.


"Kalau dia menyukaiku sebagai seorang pasangan, mungkin dia sudah menerimaku dari dulu, bukan yang menggantung dan terus menolakku begini."


Adnan kehilangan kata-kata, karena perkataan Bian terlihat ada benarnya.


"Dia tidak menyukaiku, karena itu aku menyerah akan perasaanku padanya. Terlebih, aku baru sadar kalau perasanku padanya bukanlah cinta, melainkan rasa suka terhadap seorang teman."


Mendengar penjelasan dari Bian, membuat Adnan menjadi lebih tenang dan tak lagi memasang ekspresi wajah yang marah pada Bian.


"Jadi orang yang kamu suka itu, namanya Kinan?" Adna mencoba membuka obrolan yang sempat menegang antara dirinya bersama Bian.


"Iya, namanya Kinan."


"Lalu, bagiamana sekarang? Apa kalian sudah saling terikat pada sebuah hubungan?"


"Belum, aku masih menunggunya."


"Hah! Maksudnya?"


"Aku baru saja ditolak olehnya."

__ADS_1


"Di tolak? Jadi dia juga tidak suka sama kamu, gitu?"


"Iya ya, kenapa aku jadi terus ditolak sama orang yang aku suka?" Bian hanya bisa menghela nafas panjang.


__ADS_2