
Bian yang selesai mengantar Adel untuk membeli kebutuhan pesta ulang tahunya, disertai jalan-jalan kecil dan menonton film di bioskop, kini ia sedang mencoba mengantar Adel ke butik untuk melihat gaun yang akan digunakan oleh Adel pada pesta ulang tahunnya nanti.
"Apa gaun yang akan kamu gunakan nanti sudah kamu pesan dari jauh hari?" Tanya Bian membuka obrolan.
"Iya dong, kalau nggak gitu akan susah kalau langsung pesan, dan belum tentu juga akan cocok kalau pesan baju yang sudah jadi. Karena itu, aku memilih membuat yang baru untuk aku gunakan di pesta nanti."
"Oh gitu, aku pikir bisa memakai baju apa saja."
"Ya enggak dong, kalau perempuan itu agak spesial tau. Apalagi ini acara ulang tahun, acara yang begitu spesial, jadi harus memakai baju yang spesial juga, agar terlihat lebih elegan dan bagus di mata para tamu undangan."
Padahal cuma ulang tahun? Apa perlu sampai begitunya?
Bian yang terlihat masih tidak faham pada sikap dan ekspresi semangat dari Adel dalam menyambut ulang tahunnya, hanya bisa mengangguk setuju, meski dalam hatinya masih tak mengerti dengan sikap Adel yang telihat begitu excited.
"Wah sampai juga." Adel tersenyum lebar begitu sampai di depan butik.
"Kamu masuk duluan saja, soalnya aku mau parkir mobilnya di tempat lain, kalau disini agak susah kalau mau keluar nanti." Ucap Bian yang hendak memarkirkan mobilnya.
"Oh gitu, yaudah aku masuk duluan. Jangan lama-lama ya, ok!" Adel tak protes dan langsung membuka pintu mobil begitu selesai mengatakan apa yang hendak ia katakan pada Bian sebelum keluar dari mobil.
Sedangkan Bian, hanya memberikan gestur kecil untuk menenangkan Adel yang memintanya untuk cepat menyusulnya. Keduanya pun berpisah sejenak, dengan Adel yang langsung masuk kedalam butik dan Bian yang mencoba memarkirkan mobilnya.
"Untung dia nggak curiga." Bian yang selesai memarkirkan mobilnya, mencoba mengeluarkan kalung yang sempat ia beli tadi dari kantong bajunya dan mencoba menyimpanya di bagasi mobilnya. Selesai memindahkan kalung yang ia beli tadi, ia segera berjalan menuju ke arah Adel berada sekarang.
Dengan lngkahnya yang pelan, Bian mulai masuk kedalam butik dan mencoba mencari keberadaan Adel yang tengah menunggunya di dalam.
"Bi, disini." Adel langsung memanggil Bian yang terlihat celingukan mencari keberadaannya, ketika tak sengaja melihat keberadaan Bian yang sudah masuk kedalam butik.
"Gimana? Apa gaun yang kamu pesan sudah siap?" Tanya Bian begitu menghampiri Adel yang terlihat tengah mengobrol dengan seseorang.
"Oh, sayangnya masih belum. Kemungkinan lusa baru selesainya, katanya sih masih ada hal yang perlu diperbaiki dan di cek detailnya lagi." Balas Adel mencoba menjelaskan gaun pesanannya.
"Terus sekarang gimana? Pulang?"
__ADS_1
"Tunggu dulu, aku harus coba dulu gaunnya, soalnya mau mencocokan lagi ukuran gaunnya dengan tubuhku, biar nanti nggak ada masalah saat dipesta."
"Gitu, yaudah kalau begitu aku duduk disana ya?" Bian menunjuk salah satu sofa panjang yang tak jauh dari posisinya berdiri sekarang.
"Ok, tapi sebelumnya aku mau mengenalkan kamu sama mbak Farah, nih." Adel memperkenalkan Farah yang berdiri disampingnya pada Bian. "Dia adalah pemilik butik ini, yang juga sudah membuatkan gaun buat pesta ulang tahunku nanti lho." Sambung Adel kembali memperkenalkan sosok Farah pada Bian.
"Salam kenal, nama saya Bian, teman dekat Adel." Bian mengulurkan tanganya segera begitu Adel mencoba mengenalkan dirinya pada pemilik butik sekaligus yang sudah membuatkannya gaun untuk pesta ulang tahunya nanti.
"Salam kenal juga, nama saya Farah, seorang desainer sekaligus pemilik butik A Queen ini." Farah menyambut tangan Bian dengan ramah sambil memperkenalkan dirinya pada Bian.
Keduanya langsung melepaskan tangan mereka begitu acara sapa menyapa telah selesai mereka lakukan.
"Yaudah kalau begitu, kamu boleh tunggu aku disana, aku sama mbak Farah mau mencoba gaun dulu." Ucap Adel kemudian.
"Ok." Bian menurut dan membiarkan Adel pergi bersama Farah, untuk mencoba gaun pesanannya. Ia yang ditinggal seorang diri, beralih menghampiri sofa yang tak jauh dari posisinya berdiri untuk menunggu Adel selesai mencoba gaun pesanannya.
....
"Wah... cantiknya." Farah terlihat memuji Adel yang sudah memakai gaun miliknya.
"Ah, mbak Farah bisa aja mujinya." Adel tersipu mendengar pujian dari Farah.
"Beneran cantik kok, sangat cocok sekali dengan kamu yang cantik, putih dan anggun seperti ini. Aku yakin deh, nanti kamu bakal jadi yang tercantik di pesta nanti." Farah masih memberikan pujianya pada Adel.
"Bisa aja deh, aku kan jadi malu." Meski sedikit malu dengan pujian itu, namun ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan pujian Farah yang ditujukan untuknya.
"Oh iya, laki-laki di depan tadi beneran hanya teman kamu?" Tanya Farah yang terlihat penasaran pada sosok Bian.
"Iya, kenapa gitu?" Adel yang bingung menatap ke arah Farah.
"Buka apa-apa kok, cuma ku kira tadi kalian punya hubungan lebih gitu. Soalnya kalian cocok banget."
"Aku dan Bian maksudnya?"
__ADS_1
"Iya lha."
Adel terdiam, namun tak berselangnya langsung menyunggingkan senyuman.
"Banyak yang bilang seperti itu sih." Adel tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika mendapat perkataan yang sebenarnya sudah sering ia dengar beberapa kali itu.
"Oh ya? Kalau begitu kenapa kalian tidak jadian aja jika saling suka? Eh, tapi kalian saling suka, kan?"
"Suka? Entahlah, bukankah sesama teman memang harus ada perasaan saling suka?" Adel membalasnya dengan senyuman pada Farah. Namun, Farah justru jadi terpaku setelah melihat respon Adel tentang pertanyaanya. Merasa aneh dan terkesan meninggalkan celah pada ekspresi yang dibuat oleh Adel.
......................
Jangan menghindarinya jika suka, atau kau akan menyesalinya nanti. Karena waktu tidak bisa diputar kembali dan kesempatan yang ada tidak akan bisa datang untuk kedua kalinya.
Karenanya, jangan ragu, atau kau akan kehilangan segalanya. Penyesalan akan datang padamu yang telah mengacuhkan kesempatan dan menyia-nyiakan segalanya.
....
Yogyakarta
"Mbak Kinan kenapa? Kok terlihat lesu gitu, sih?" Sapa rekan kerjanya pada Kinan yang terlihat dalam kondisi tidak sehat.
"Ah, aku nggak apa-apa kok, cuma sedikit kelelahan aja." Balas Kinan dengan memaksakan senyuman.
"Duh, iya juga ya. Ini pasti karena pak Bian dan pak Dimas yang lagi nggak ada disini, jadi tugas mbak Kinan bertambah deh, padahal menurutku baru satu atau dua hari ini aja deh? Nanti gimana kalau lebih dari dari itu, ya? Pasti mbak Kinan jadi tambah lelah, deh."
Hanya mendengar namanya saja sudah membuat Kinan terpaku, hingga merasakan perasaan aneh pada susdut hatinya.
"Enggak kok, lagian kan ada yang lainya juga yang menbantuku. Toh, bukan baru ini aja pak Bian pergi."
"Iya deh, mbak Kinan yang sangat bisa di andalkan."
Kinan tersenyum simpul mendengar pujian itu.
__ADS_1