Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
40. Bukan Sekedar Menepati Janji?


__ADS_3

Apakah itu perasaan cinta ataukah hanya sekedar rasa ketertarikan sesaat?


Berjalan pada kebimbangan, juga berjalan pada rasa dilema yang begitu menyiksakkan ini akhirnya hanya bisa diselesaikan oleh sang pemilik hatinya.


...


Dalam kamar sekaligus kantor baginya, Bian terjebak pada lamunanya. Cinta yang selama ini ia pertahankan pada seorang wanita, kini mulai kembali ia pertanyakan. Rasa itu cinta? ataukah hanya sekedar rasa suka sebagai saudara?


Karena suntuk, ia memilih untuk lari dan keluar dari kamarnya. Berlari dengan kekuatan yang dia miliki dengan harapan rasa suntuk dan beban di pikiranya menghilang.


Setelah beberapa menit dia berlari mengelilingi taman, dengan nafas yang masih tersengal, Bian menjatuhkan tubuhnya diatas tanah, lalu menatap langit malam yang dipenuh bintang itu.


"Indahnya.." Seru Bian menatap langit dengan rasa kagum melihat kerlipan bintang di langit.


Cukup lama dia terbaring disana dan hanya menatap langit malam tanpa melakukan apa-apa, hanya sekedar terlentang dan menatap lurus ke arah langit diatasnya yang dipenuhi oleh bintang. Meski beberapa kali dia menghela nafas panjang, namun sepertinya dengan lari dan menatap bintang di langit sekarang, cukup untuk mengatasi beban di pikirannya.


Hari sudah semakin malam, dan menunjukkan pukul 12 malam begitu ia menatap jam ditanganya. Bian mencoba bangkit dari tidurnya, namun kembali termenung menatap ke depan seperti enggan untuk bangkit pergi.


Perlahan dia mencoba untuk bangkit dari duduknya untuk kembali ke hotel, namun tiba-tiba dia berubah pikiran dan memutuskan untuk berlari satu putaran lagi. Begitulah hingga 10 menit telah berlalu.


Dengan tubuh yang basah karena keringat, dan nafas yang masih tak beraturan karena berlari, Bian melangkah kembali ke dalam hotel setelah menyelesaikan larinya. Namun, sosok yang dikenalnya tertangkap netra matanya hingga memutuskan untuk menghampiri orang tersebut.


"Apa yang kamu lakukan disini? tidak pulang?" Tanya Bian melihat sosok Dimas yang masih ada disekitar hotel.


Dimas memberikan ekspresi terkejut begitu Bian menyapanya tiba-tiba, ketika ia sedang berjalan lurus ke depan, dan tak melihat keberadaan Bian dari arah berlawanan darinya.


"Pak Bian, selamat malam." Sapa Dimas kemudian, yang sebelumnya sempat kaget dengan melihat kehadiran Bian, "Tadi saya ke kamar anda untuk memberikan laporan, tapi ternyata anda tidak ada, karena itu saya langsung pergi. Ternyata anda sedang berlari ya.." Sambung Dimas melihat penampilan Bian yang menggunakan pakaian olahraga dan terlihat jelas keringat yang masih membasahi wajahnya.


"Kamu kan bisa memberikanya besok. Malam-malam begini kenapa masih berkeliaran begini." Balas Bian, "Tapi.. bukanya kamu dari kamarku, ini bukanya arah parkir khusus motor ya? kenapa kamu bisa berjalan dari sana?" Ucap Bian bingung melihat Dimas datang dari arah parkiran motor.


"Ah itu.., ada sesuatu yang ingin saya cari disana, tapi sekarang sudah selesai." Jawab Dimas.

__ADS_1


"Selesai?" Ucap Bian merasa perkataan Dimas sedikit rancu.


Tersadar dengan perkataanya, Dimas mencoba mengoreksinya. "Ah.. maksud saya, saya sudah menemukanya.." Jawab Dimas lagi dengan meembuat ekspresi canggung karena salah bicara.


Bian sedikit mengamati ekspresi Dimas yang terlihat tak biasa, karena sedikit gugup dan tak tenang. Ia mentap lekat wajah bawahanya tersebut, dan mendapati bajunya yang sedikit berantakan dan kotor. Dengan mengernyitkan dahinya, Bian merasa janggal dengan kelakuan Dimas.


Apa yang dia sembunyikan? kenapa gugup begitu? tidak seperti biasanya? - Batinya merasa heran dengan perilaku Dimas hari ini.


"Malam-malam begini? memangnya apa yang sedang kamu cari?" Tanya Bian lagi.


"Tadi saya tidak sengaja menjatuhkan kunci mobil saya, karena itu saya mencarinya." Jawab Dimas dengan ekspresi gugup menatap Bian.


"Kamu menjatuhkan kunci mobil, diparkiran khusus sepeda motor?" Kata Bian dengan sedikit mengernyitkan dahinya, tanda bingung.


Dimas membuka matanya lebar karena telah salah bicara. Ia tersadar telah berbuat salah pada Bian karena sudah berbohong, bahkan karena hal tersebut membuatnya tak berani menatap wajah Bian yang tengah berdiri di hadapannya.


"Itu.. sebenarnya kunci mobil saya tidak hilang atau jatuh, tadi itu saya baru saja membantu mengganti ban motor milik ibu manajer." Jawab Dimas yang akhirnya berkata jujur pada Bian.


"Ibu manajer?" Bian sejenak terdiam, seolah menangkap maksud perkataan Dimas. "Maksud kamu Kinan.?" Ucapnya kemudian yang mulai tersadar akan identitas yang dimaksud oleh Dimas.


"Kenapa kamu bisa tau kalau ban motornya kempes? apa kamu bertemu denganya? dan apa sekarang dia masih disini?" Tanya Bian lagi dengan agak penasaran, sembari celingukan mencari sosok Kinan.


"Beliau sudah pulang, saya yang mengantarnya tadi." Balas Dimas ketika Bian mencoba mencari keberadaan Kinan, "Saya tidak sengaja bertemu beliau tadi waktu sedang berjalan kaki untuk pulang, karena itu saya tahu kalau ban motornya kempes dan menawarkanya untuk pulang bareng." Sambungnya.


Jawaban dari Dimas tentu saja membuat Bian terkejut, ia bahkan tanpa sadar membelalakan matanya.


"Kamu bilang, kamu mengantarnya pulang?" Tekan Bian pada pertanyaanya.


"Iya." Jawab Dimas.


Bian terdiam, entah mengapa tiba-tiba ekspresinya menjadi buruk dan menatap Dimas dengan sedikit dingin hingga membuat Dimas itu sendiri terkejut.

__ADS_1


"Kenapa nih? apa aku salah bicara, ya?.."


Dimas hanya bisa membatin melihat perubahan ekspresi dari atasanya tersebut. Ia juga tersadar karena sempat berbohong tadi sebelum akhirnya mengatakan yang sebenarnya.


"Itu.. soal laporanya, tadi saya sudah membawanya dan saya taruh di kamar anda." Kata Dimas buru-buru menjelaskan, karena melihat Bian yang sedari tadi hanya diam tak berbicara, membuatnya jadi canggung sendiri.


"Bagaimana motornya sekarang?" Tanya Bian yang tak perduli pada laporan yang dimaksud Dimas. Karena dia yang sekarang justru sedang tertarik pada motor Kinan.


"Motornya sudah bisa digunakan lagi, saya sudah mengganti bannya. Aku kira tadi hanya kempes biasa, ternyata bannya robek, karena itu saya ganti dengan yang baru tadi." Jelas Dimas.


Lagi-lagi Bian hanya diam pada penjelasan Dimas, sehingga membuat Dimas merasa kikuk dan bingung pada kesalahanya.


"Laporanya sudah kamu taruh di kamarku, kan?" Ucap Bian memastikan.


"Sudah pak." Jawab Dimas sopan.


Saat hendak melangkah ke dalam hotel, tiba-tiba saja Bian berhenti dan kembali menatap ke arah Dimas. "Tapi.. dari mana kamu belajar cara mengganti ban motor, kalau kamu sendiri tidak pernah naik motor?" Kata Bian yang masih penasaran, dan tak pernah melihat Dimas memakai motor sebelumnya.


"Ah.. dulu waktu kuliah, saya sering pakai motor dan kebetulan tahu cara merawat motor juga, memang sudah lama tidak mengendarainya, tapi saya masih sedikit ingat, dan juga tadi sebenarnya saya sedikit dibantu sama pak Hendra, security hotel yang sedang berjaga sekarang." Jelas Dimas.


Bian termenung. "Kenapa tidak kamu serahkan saja pada security itu, dan kenapa malah kamu sendiri yang menggantinya?" Gumam Bian dengan ekspresi tak suka.


"Maaf pak," Kata Dimas tak mendengar ucapan dari Bian.


"Sudahlah, aku masuk dulu." Ucap Bian, lalu dengan langkah cepatnya masuk kembali ke dalam hotel meninggalkan Dimas seorang diri.


"Apa aku salah bicara ya..?" Kata Dimas merasa aneh sediri setelah melihat kepergian Bian. Menggaruk kepala yang tak gatel itu, Dimas merasa bingung sendiri dengan perubahan ekspresi dari Bian, lalu berjalan kembali ke arah mobilnya untuk pulang.


...


Begitu masuk ke dalam kamar, Bian membuka jaketnya dengan tergesa-gesa, dan melemparkannya kasar ke arah tempat tidur. Meneguknya dengan cepat minuman yang diambilnya.

__ADS_1


Menyeka tumpahan air pada sela bibirnya, ia termenung menatap pemandangan di depanya, dan berakhir dengan helaan nafas panjang.


"Apa ini?.. kenapa aku kesal?" Gumamnya merasa aneh sendiri.


__ADS_2