
"Pa..." Satu kecupan telah mendarat pada bibirnya, ketika ia yang hendak mengatakan sesuatu.
Bibirnya kini telah menempel bersama milik Bian sekarang, dan yang bisa ia lakukan hanya diam terpaku dengan rasa keterkejutanya. Ekspresinya terlihat tak bisa berkata-kata lagi dengan hal yang baru pertama kali ia alami.
Dalam rasa keterkejutanya, Kinan mencoba untuk melepaskan ciuman itu, namun Bian malah memperdalam ciumanya, hingga membuat Kinan membulatkan matanya karena terkejut.
"Aku tidak bisa mendorongnya!" Batinya yang sedikit bingung dan juga terpaku pada Bian yang justru memperdalam ciumanya.
Dirinya kini hanya bisa pasrah, meski tubuhnya bergetar karena gugup dan ekspresinya yang terkejut karena ciuman Bian. Saat Bian memperdalam ciumannya dengan intensitas yang bergairah, dengan perlahan mata yang tadi masih terbuka, kini ikut memejamkannya.
Ini adalah ciuman pertama baginya, karena itu dadanya sekarang berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada rasa gugup, canggung, takut dan juga berdebar disaat bersamaan, karena ia yang tak memiliki pengalaman dalam berciuman sebelumnya. Tubuhnya tak berhenti gemetar dengan intensitas ciumannya dengan Bian, mengingat betapa mahirnya Bian yang menuntunya dalam ciuman itu. Wajahnya kini sudah berada dalam genggaman tangan milik Bian, hingga yang bisa ia lakukan dalam posisi yang mendebarkan saat ini adalah dengan menerimanya, meski dalam hatinya ia merasa tak nyaman dan juga malu.
"Aku.. Malu, apa hal ini benar?" Batinya mempertanyakan ciumannya dengan Bian, yang merupakan atasanya sendiri.
Kinan mencengkram baju Bian ketika ia yang seperti kehabisan nafas. Saat Bian melepaskan ciumannya, yang terjadi di antara keduanya adalah nafas yang sama-sama tersengal karena intensitas ciuman itu. Dalam jarak yang begitu dekat saat ini, mata keduanya saling menatap dalam diam. Ada kecanggungan dari ekspresi Kinan begitu menatap wajah Bian dalam jarak yang begitu dekat denganya.
"Ah.., itu.." Kinan melepaskan tubuhnya dalam pelukan Bian, untuk mencoba menjauhkan dirinya dari tubuh Bian yang begitu dekat denganya, namun Bian malah memeluk tubuhnya, yang lagi-lagi membuat Kinan memberikan ekspresi terkejutnya.
Saat kedua tubuh saling berpelukan, terdengar jelas debaran dada yang menyertai hati keduanya saat ini. Dalam pelukan itu, keduanya hanya bisa menyembunyikan rasa gugupnya dalam diam.
Saat memeluk tubuh Kinan, yang Bian fikirkan hanya ingin sembunyi dari rasa canggungnya.Ekspresinya terlihat shock dengan dirinya sendiri yang begitu berani melakukan ciuman pada Kinan, hingga tak berani menatap langsung wajah Kinan, dan memilih memeluknya begitu saja untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku sudah gila." Rutuknya pada dirinya sendiri.
Drrt.. Drrt.. Dering ponsel dari arah saku kantongnya, membuat perhatianya menjadi teralihkan, hingga akhirnya melepaskan pelukanya dengan perlahan. Namun, ada sedikit kecanggungan ketika dia melepaskan pelukanya, kekikukan sempat menghampiri dirinya dan Kinan yang ada di depanya saat ini. Dengan ragu Bian menatap wajah Kinan yang kini terus menunduk untuk menghindari kontak mata denganya.
__ADS_1
Melihat kecanggungan yang menghampiri mereka, membuat Bian jadi merasa serba salah mengingat dirinyalah yang membuat suasana menjadi canggung.
"Apa kamu marah?" Tanya Bian mencoba memecah keheningan dengan mengabaikan dering ponsel miliknya yang terus berbunyi.
Kinan hanya diam, ia terlihat bingung untuk menjawabnya.
"Kinan.." Panggil Bian dengan nada suara yang lembut, dan kembali menghiraukan suara ponselnya yang terus saja berdering.
Kinan yang sedari tadi terus menunduk karena canggung, perlahan mengangkat kepalanya dengan ragu. Ia menatap wajah Bian dengan agak kikuk.
"Saya permisi dulu, pak." Ucapnya kemudian yang ingin pergi, mengingat Bian yang terus saja menghiraukan telfonya.
Bian langsung memegang tangan Kinan, ketika melihat Kinan yang hendak pergi dari hadapanya, lalu mendorongnya ke arah rak buku, dan kemudian mengunci tubuhnya.
"Aku sudah bilang pada Dimas untuk mengatur sejenak hotel yang kamu tinggalkan, karena itu.. jangan pergi.." Ucap Bian menatap wajah Kinan yang kini memasang wajah tak nyaman. Namun, tentu saja Kinan hanya bisa diam, tak merespon ucapan Bian karena masih canggung untuk sekedar menatap wajahnya.
Dering ponselnya miliknya pun kembali ia hiraukan dengan hanya menatap wajah Kinan yang berdiri di depanya.
"Itu.. sebaiknya anda mengangkat telfonya, karena terus berbunyi sedari tadi." Ucap Kinan dengan agak ragu menatap wajah Bian, ketika melihat ponsel miliknya kembali berdering.
"Kalau aku mengangkatnya kamu akan pergi." Balas Bian yang seperti tak perduli dengan dering ponselnya.
Mata Kinan hanya bisa menatap tak percaya pada Bian yang ada di depanya. Ia tak habis fikir dengan jalan fikirannya sekarang, terlebih pada apa yang dilakukanya padanya. Ada berbagai pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Bian, namun tertahan karena keraguan yang ada dalam dirinya.
"Aku kan tidak bisa bertanya kenapa beliau menciumku?" Batinya yang kini merasa serba bingung.
__ADS_1
Dalam keraguan itu, yang ingin Kinan lakukan sekarang adalah lari dari suasana canggung dan tak nyaman ini. Karena hingga sekarang ia masih tak bisa mengontrol ekspresi dan hatinya yang terus berdetak dengan cepat.
"Aku tidak akan meminta maaf soal tadi." Bian kembali mengatakan kalimatnya, dengan posisi yang kini berdiri tegak dihadapan Kinan, dengan kedua tangan yang kini berada dalam saku celananya.
Ia melepaskan kuncian tubuhnya, karena melihat wajah Kinan yang terlihat tak nyaman. Dan kembali membahas soal ciuman yang ia lakukan tadi padanya.
"Ada hal yang ingin aku pastikan tadi, dan sekarang aku sudah menemukan jawabanya." Sambungnya lagi yang kembali menatap wajah Kinan dengan lekat.
Kinan yang berdiri di depanya, hanya bisa diam. Karena tak tau lagi harus merespon apa pada ucapan Bian.
"Aku menyukaimu.." Bian pun kembali melontarkan kalimatnya dengan nada lembut menatap wajah Kinan.
Kalimat yang dilontarkan oleh Bian, entah mengapa membuat Kinan berkaca-kaca. Matanya sedikit menggenang karena ucapan itu, dan dadanya menjadi sedikit nyeri karena menahan tangisanya.
Bian menghela nafasnya, mengalihkan sejenak ke arah lain setelah mengungkapkan perasaanya, terlebih pada sikap Kinan yang masih diam dihadapanya.
"Saya.. minta maaf." Kinan memberanikan diri manatap wajah Bian, dengan mencoba mengatur ekspresinya yang kini terlihat berkaca-kaca.
Begitu mendengar kalimat itu, Bian terdiam sejenak. Perlahan menatap wajah Kinan yang kini tengah menatapnya dengan ekspresi menahan kedua matanya yang tengah berkaca-kaca. Bian mencoba memperpendek jaraknya pada Kinan, lalu menatapnya lekat pada kedua bola matanya yang kini mulai tenang, dengan tatapan miliknya yang intens disertai ekspresi yang juga sedikit menahan perasaan sedihnya.
"Aku pernah bilang pada diriku sendiri, jika aku menyukai seseorang lagi, maka aku tidak akan pernah melepaskanya lagi." Ucapnya dengan ekspresi sendu menatap wajah Kinan.
"Aku ingin bersamanya sampai akhir, hingga tidak akan ada lagi rasa penyesalan dalam diriku." Lanjutnya masih menatap wajah Kinan.
"Kumohon, jangan menyuruhku untuk berhenti menyukaimu, karena aku benar-benar tidak ingin membuat kesalahan lagi." Sambungnya menatap Kinan dengan menahan sedikit kesedihanya.
__ADS_1
Kinan kehilangan kata-kata setelah mendengar penjelasan Bian. Ia tak bisa menjawabnya, seolah terpaku akan kalimat yang dilontarkan oleh Bian. Eskpresi dan perasaanya serba dilema, mengingat hal ini begitu menyulitkan untuk dirinya.
"Aku harus menjawab apa?"