
"Terimakasih, kak." Dengan tersipu malu, Kinan mengucapkan perasan terimakasihnya pada Bian yang telah memberinya sebuah kiriman hadiah.
"Iya, tapi hadiah yang ku kasih jangan kamu simpen saja, karena aku ingin melihat kamu memakainya saat kita bertemu nanti." Ujar Bian.
Mendapat perkataan seperti itu, membuat Kinan jadi sedikit terbebani, dengan ragu ia pun menyanggupi permintaan dari Bian.
"Baiklah, nanti pasti akan saya pakai. Kalau begitu, aku mau tutup telfonya, supaya kak Bian bisa melanjutkan kembali pekerjaan kakak, maafkan Kinan kalau jadi mengganggu kakak begini." Ucap Kinan yang sekali lagi merasa menyesal.
"Aku kan sudah bilang jangan meminta maaf, karena aku sama sekali tidak merasa kamu ganggu." Balas Bian meyakinkan kembali Kinan untuk tak merasa bersalah.
"Iya, kak, kalau begitu Kinan tutup telfonnya ya.." Ujar Kinan, yang hendak menutup sambungan telfonnya.
"Ok, kamu juga lanjutkan lagi pekerjaanmu, nanti kita lanjutkan lagi obrolannya." Bian yang sejatinya sedikit enggan untuk menutup telfon, mau tidak mau merelakanya, karena kondisinya yang memang lagi sibuk saat ini.
Dan, tuut... sambungan telfon pun akhirnya terputus. Kinan pun mengakhiri obrolanya bersama Bian yang singkat itu. Menatap kembali pada paket hadiah yang diberikan oleh Bian untuknya. Ada perasaan sedikit terbebani saat hendak membuka paket tersebut, dan ia pun akhirnya memutuskan untuk segera membukanya untuk mengetahui isi dalam paket.
Dengan perlahan dan hati-hati, ia pun memulai membuka kotak paket pemberian Bian untuknya. Begitu membuka isi di dalam paket, Kinan menatap terpaku pada isi di dalamnya yang terdapat sebuah set lengkap gaun beserta sepatu barunya.
"Gaun dan sepatu." Ucapnya ketika pertama kali membuka isi paket.
Ekspresinya terlihat bingung, terbebani dan juga merasa tidak percaya dengan hadiah yang diberikan oleh Bian untuknya. Terlebih hadiah itu berubah gaun yang indah, beserta sepatu di dalamnya, yang kalau dipakai untuknya sedikit berlebihan, karena merasa tak cocok jika ia pakai, mengingat ia yang belum pernah memakai pakaian yang seperti itu sebelumnya.
"Kenapa beliau malah memberikanku gaun?" Ucapnya merasa bingung dan sedikit tak percaya pada hadiah yang diberikan Bian.
Ketika sudah memastikan sendiri hadiah yang diberikan oleh Bian, Kinan yang semula membuat janji akan memakainya, sekarang menjadi sedikit terbebani. Seakan mengingatkan dirinya kembali pada sosok Bian untuknya, yang sedikit berbeda level dengannya.
Ia pun menutup kembali hadiah yang diberikan oleh Bian dan bersiap untuk menyimpanya kembali, karena hendak melanjutkan kembali pekerjaanya yang masih belum selesai. Dengan langkah pelannya bersama hadiah dari Bian yang sudah ia buka, Kinan beranjak keluar dari dalam perpustakaan.
__ADS_1
Namun, baru satu langkah ketika ia hendak melangkah keluar, kehadiran seorang cukup mengejutkannya yang hendak keluar dari perpustakaan. Sosok itu adalah Shiva, seseorang yang hingga saat ini masih bersitegang dengan dirinya.
"Wow, kamu mendapat hadiah yang luar biasa ya.." Ucapnya memasang ekspresi tak bersahabat pada Kinan dengan decakannya yang sirik, dan kemudian pergi begitu saja dengan sengaja menyenggol tubuh Kinan.
Ketika Kinan yang masih cukup terkejut dengan kehadirannya hendak mengatakan sesuatu untuk membalas perkataanya, namun Shiva bagaikan angin yang berhembus cepat dan seketika menghilang dari pandangan Kinan.
"Lagi-lagi dia begini.." Kinan hanya bisa bergumam pasrah pada sikap Shiva yang belum juga berubah padanya. Ia pun tak lagi perduli dan memilih bergegas untuk keluar dari perpustakaan.
Shiva yang masih di dalam perpustakaan, mengetahui kepergian Kinan, ekspresi wajahnya seketika berdecak sinis dengan tatapan wajahnya yang memperlihatkan rasa ketidaksukaannya.
"Apa yang ku dengar tadi?, bukankah ini berita yang hebat?". Ucapnya menyeringai tak percaya dan penuh rencana dalam otaknya.
....
Kinan yang kini tengah menuju tempat loker penyimpanan tas dan barang-barang miliknya, dibalut penuh tanda tanya pada hadiah yang diberikan oleh Bian. Ekspresinya terlihat terbebani dengan hadiah yang diberikan oleh Bian.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini, ya?" Ucapnya lagi sedikit merasakan perasaan yang tiba-tiba tak nyaman dalam hatinya.
Hanya Bian yang tau alasan dari hadiah yang diberikan untuknya, namun Kinan yang penasaran tak menanyakan alasannya pada Bian, hingga hanya bisa menebaknya saja.
"Yasudah lha, lebih baik aku lanjutkan lagi pekerjaanku." Ujarnya yang akhirnya memilih untuk melupakan sejenak rasa penasaranya itu.
Waktu pun terus berjalan hingga sampai tiba saatnya waktu untuk pulang. Bersama pekerjaanya yang berhasil ia handle dan kerjakan sejak pagi hari, Kinan yang telah menyelesaikan tugasnya pun ikut mengemas barang miliknya untuk pulang. Meski sedikit molor dari jam biasnaya ia pulang karena ada pekerjaan yang masih belum kelar, namun ia akhirnya berhasil menyelesaikannya dan berhasil untuk pulang.
"Hari ini tamu cukup banyak yang datang ke hotel." Ucapnya sembari mengehela nafas panjang menahan rasa lelahnya.
"Mbak, kita pulang duluan ya." Ujar salah seorang rekan Kinan.
__ADS_1
"ok, hati-hati ya kalian." Balas Kinan.
Pergantian shift antar staff hotel telah bergulir dan sedang dilakukan, Kinan yang mendapat shift pagi pun sudah waktunya untuk pulang, namun seperti biasa yang ia lakukan sebelum pulang, ia mendatangi kamar milik Bian untuk ia taruh lilin aromaterapi di dalam.
"Hari ini, kamu mau ke kamarnya pak Bian lagi?" Ujar Shiva yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Iya." Jawab Kinan.
"Hubungan kalian berdua sungguh menarik, ya?" Ucap Shiva menatap Kinan dengan ekspresi yang sedikit mencurigakan.
"Apa maksud kamu?" Kinan mengernyit bingung pada ucapan Shiva.
"Menarik untuk disaksikan." Balas Shiva yang tak ingin menjelaskan maksudnya dan memilih pergi begitu saja setelah mengatakan kalimat yang ambigu dan membingungkan Kinan.
"Dia.. nggak akan melakukan hal yang aneh-aneh, kan?" Kinan menatap punggung Shiva yang telah pergi dengan tatapan penuh selidik dan menelaah sikapnya yang aneh.
Meski sedikit curiga pada sikap Shiva, namun Kinan yang tak memiliki gambaran apapun hanya bisa diam dan berlalu pergi. Ia pun melanjutkan kembali langkahnya menuju ruangan milik Bian.
"Sudah hampir dua minggu, kamar ini ditinggal oleh penghuninya." Ucapnya begitu masuk kedalam kamar.
Menatap sejenak kamar yang biasa Bian pakai selama tinggal di jogja. Masih terlihat sama dan rapi, karena setiap hari selalu dibersihkan.
Kinan yang telah melakukan tugasnya untuk mengecek kamar milik Bian dan juga menaruh lilin aromaterapi sebelum pulang, akhirnya telah berhasil melakukan tugas terakhirnya sebelum pulang.
"Sudah mau petang, aku harus cepat pulang kalau tidak mau terlalu kamalaman." Ujarnya bergegas keluar kamar.
Kinan pun akhirnya melangkah keluar dari kamar dan bergegas untuk pulang.
__ADS_1