
Hari yang ditunggu telah tiba, Kinan dan Bian telah berangkat bersama menuju tempat dimana Bian dan keluarganya tinggal saat ini. Kinan yang baru pertama kali pergi bersama Bian, dibuat gugup selama berada di pesawat, karena merasa berdebar dengan hanya membayangkan akan bertemu keluarga Bian untuk pertama kalinya. Ia terus merasa tak tenang dari saat berangkat hingga sampai pada tujuan.
Jadwal keberangkatan yang harusnya mereka lakukan pukul 06.00 pagi, berubah mundur jadi 09.15 pagi, karena Bian yang harus memberikan intruksinya pada Dimas, yang merupakan sekretaris pribadinya untuk menggantikanya sejenak dalam menghandle hotel selama dirinya dan Kinan pergi.
Setelah perjalanan yang lumayan agak lama karena sempat ada hambatan ketika menuju bandara, keduanya pun akhirnya tiba dengan selamat pada tujuan dan sampailah keduanya di depan apartemen milik Bian.
"Karena aku akan tinggal dirumah orang tuaku, selama disini kamu tinggal di apartemenku saja." Ucap Bian pada Kinan yang telah masuk kedalam apartemenya.
"Maksud kakak, saya akan tinggal disini? di apartemen ini?" Kinan yang masih cukup terkejut begitu masuk kedalam apartemen yang begitu besar dan luas, sampai mengulangi kalimatnya ketika Bian mengatakan padanya untuk tinggal di apartemen miliknya. Ekspresinya tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar dan terlihat begitu terkejut.
"Iya, kenapa? Apa kamu nggak suka tinggal disini?"
"Ah, bukan kok, cuma menurut saya ini terlalu besar untuk saya. Apa sebaiknya saya tinggal dihotel saja, ya!" Kinan agaknya merasa terbebani untuk tinggal di apartemen milik Bian yang terlihat begitu luas untuknya.
"Kalau kamu nggak suka tinggal disini, apa kamu tinggal saja dirumah orang tuaku?" Bian tampaknya tak terlalu suka Kinan tinggal dihotel, dan malah memberikan pilihan yang justru membuat Kinan tambah terkejut.
"Eh!" Seru Kinan secara spontan dengan ekspresinya yang begitu terkejut.
"Ah.. kalau begitu saya akan tinggal disini saja." Kinan pun akhirnya menyerah dan memilih untuk tinggal di apartemen milik Bian dibanding dirumah orang tua Bian yang nantinya akan terasa canggung untuknya sendiri.
Bian tersenyum tipis mendengar jawaban Kinan.
"Aku kan sudah bilang untuk jangan merasa terbebani, kamu masih saja merasa canggung dengan semua ini." Peluk Bian mencoba membuat Kinan merasa nyaman di apartemenya.
Pelukan hangat dari Bian ternyata cukup ampuh untuk Kinan yang sedari awal terasa gugup begitu masuk kedalam apartemen. Tubuhnya yang semula kaku dan sedikit canggung, kini perlahan melunak dan mulai beradaptasi dengan tenang di dalam pelukan Bian.
__ADS_1
"Nanti malam aku akan datang lagi kesini buat menjemput kamu, sekarang kita masukkan dulu barang-barang milik kamu ke kamar. Setelah itu kita akan makan siang bersama, karena sudah masuk jam makan siang juga, kan?" Ujarnya yang masih memeluk Kinan sembari mencoba melihat jam ditanganya.
"Iya." Angguk Kinan yang menurut pada ucapan Bian.
Bian pun mulai melepaskan pelukanya, dan mulai mengangkat barang milik Kinan untuk ia taruh di dalam kamar yang biasa ia tempati. Bersama Kinan yang terus mengikutinya dari samping.
.....
"Aku taruh disini barang bawaan kamu, nanti kamu rapikan sendiri barang milik kamu, takutnya nanti aku malah merusaknya." Ujar Bian menaruh tas milik Kinan di atas ranjang tidurnya.
"Ah, iya."Jawab Kinan yang sedikit terkejut ketika tak sengaja mengamati foto masa kecil Bian yang terpajang di atas meja.
Bian yang tersadar Kinan tengah memandangi foto miliknya, mencoba mendekati Kinan dan mengambil foto masa kecilnya yang terpajang rapi di atas meja. Sebuah foto saat dirinya bersama dengan kedua sahabat kecilnya, Adnan dan Adel.
"Apa keduanya temanya kak Bian?" Melihat ada dua anak kecil yang ada difoto milik Bian, membuat Kinan penasaran akan sosok mereka.
"Iya, namanya Adnan sama Adel." Jawab Bian.
Entah mengapa Kinan jadi diam mendengar penjelasan Bian tentang dua sahabatnya itu. Ekspresinya terlihat menyadari satu hal, namun ia tak begitu yakin akan itu, hingga terus mencoba mengingat apa yang sebenarnya ia lupakan itu.
"*Melihat foto itu, entah kenapa aku merasa familiar, tapi apa ya?" Batinya dalam hati, sembari terus mencoba mengingat hal yang membuatnya terfikir akan sesuatu.
Ting.. Tong*..
"Oh, sepertinya makanan yang kupesan sudah datang, ayo turun." Ucap Bian mengajak Kinan untuk turun setelah terdengar bunyi tombol apartemenya berbunyi. Membuyarkan lamunan Kinan yang tengah memikirkan sesuatu. Terlihat kalau ia tak bisa mengalihkan pandanganya pada foto masa kecil Bian bersama dua sahabat kecilnya.
__ADS_1
Namun, ia akhirnta tetap turun meski pandanganya terus tertuju pada foto masa kecil milik Bian bersama kedua sahabat kecilnya. Meninggalkan sejenak rasa penasaranya dan juga hal yang membuatnya begitu tertarik pada salah satu sahabat kecil Bian.
"Adel? Kenapa aku merasa kenal denganya, ya?"
......................
Jantungnya terus berpacu dengan kencang, debaran dadanya ikut berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan perasannya terus dibuat tak tenang karenanya. Kinan yang tengah bersiap untuk bertemu keluarga besar Bian, dibuat tegang di dalam apartemen. Saat ini, ia tengah menunggu kehadiran Bian yang akan menjemputnya.
"Tenang Kinan." Ucapnya menenangkan hatinya yang terus merasa gugup.
Duduk di sofa dengan penampilan yang sudah terlihat rapi, Kinan tak berhenti menenangkan dirinya yang masih terus gugup menunggu kehadiran Bian.
Mendengar suara pintu apartemen yang hendak terbuka, spontan Kinan langsung berdiri, ia menyadari hal itu pasti Bian yang datang, dan benar saja Bianlah yang telah masuk kedalam apartemen.
"Oh, kamu sudah siap rupanya, maaf ya kalau menunggu la..ma.." Begitu masuk, Bian segera meminta maaf pada Kinan yang telah menunggu kedatanganya, namun setelah melihat Kinan yang telah berpakaian rapi dan terlihat cantik entah mengapa membuatnya terpaku. Ekspresinya seolah tersihir oleh kecantikan Kinan.
"Iya, saya tidak apa." Kinan yang sedari tadi merasa gugup sedikit merasa lega melihat kedatangan bian, namun sama halnya dengan Bian, ia pun juga merasa takjub melihat penampilan Bian yang tampak berbeda dimatanya.
"Ini baju yang kuberikan kemarin, kan?" Sembari menghampiri Kinan, dengan langkah yang lebih dekat, Bian menyadari bahwa gaun yang dipakai oleh Kinan saat ini adalah gaun pemberian darinya.
"Iya, soalnya hanya baju ini yang paling bagus untuk saya, untungnya saja bajunya pas dibadan saya." Jawab Kinan yang merasa cocok dengan gaun pemberian Bian.
Ia memang sengaja membawa gaun pemberian Bian, karena mau ia pakai saat bertemu keluarga Bian, mengingat ia tak memiliki baju yang lebih bagus dari gaun pemberian Bian.
"Aku merasa lega kalau gaunya pas dan cocok dibadan kamu, terasa cantik saat kamu yang makai." Ujar Bian, yang membuat Kinan jadi merasa malu mendengar pujian darinya.
__ADS_1