
Tepat pukul 8.15 malam Bian yang datang bersama dengan Dimas sampai di depan rumah keluarganya. Ia masuk begitu saja sesaat setelah keluar dari mobil. Di ikuti oleh Dimas dibelakangnya, ia mulai masuk kedalam rumah.
"Aku pulang." Ucapnya begitu melihat keluarga besarnya yang tengah berada dalam ruang keluarga.
"Lho, Bian, kamu pulang." Gauri yang terlihat cukup terkejut melihat keberadaan anaknya, langsung berjalan menghampiri Bian.
"Iya, ma. Bian pulang." Bian memeluk mamanya begitu Gauri menghampiri dirinya.
"Kok, gak bilang sih! Mama kan jadi terkejut melihatnya." Gauri memukul pelan lengan sang anak yang tiba-tiba datang ke rumah sembari terus memeluknya.
"Surprise." Ucap Bian sembari tersenyum kepada mamanya.
Sambutan hangat dari mamanya setidaknya membuat Bian merasa sedikit senang berada dirumah. Ia beralih menatap ke arah papa dan kakeknya yang seperti biasa tak pernah menyambut dirinya dan hanya diam memandang keberadaanya yang pulang ke rumah.
"Kamu ada urusan apa kok tiba-tiba pulang ke rumah? Apa ada sesuatu?" Tanya Gauri yang masih berdiri bersama Bian.
"Papa menyuruhku pulang. Karena itu aku pulang sekarang." Jawab Bian.
"Oh ya? Mama gak tau soal itu. Memangnya kenapa papamu menyuruhmu pulang?"
"Bian gak tau, papa hanya menyuruh Bian untuk pulang ke rumah."
Mendengar jawaban dari Bian, Gauri menatap wajah suaminya dengan ekspresi bingung.
"Yasudah kita duduk dulu, oh iya kamu sudah makan belum?"
"Sudah kok, ma." Balas Bian.
Gauri pun mengajak Bian untuk ikut bergabung bersama dirinya untuk menghampiri mertua dan suaminya yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka mengobrol. Bian tak menolak ajakan itu, dan ia bersama mamanya ikut duduk bersama keluarga besarnya. Saat Bian tengah berada dalam obrolan bersama keluarganya, Dimas yang bersamanya memilih pamit keluar untuk memberikan ruang bagi Bian mengobrol bersama keluarganya.
Sebelum keluar, Dimas menyempatkan diri untuk menyapa keluarga Bian dan memberikan kode pada Bian untuk keluar sebentar, Bian yang melihat itu hanya mengangguk kecil tanda setuju. Terlebih obrolan bersama keluarganya mungkin saja akan lama dan membahas hal yang lebih serius.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kakek dan juga papa? Apa baik-baik saja selama Bian tidak datang kesini?" Bian mencoba menyapa kakek dan papanya yang sudah lama tak ia lihat.
"Ehem.., iya." Balasan kecil dari sang papa dan deheman ringan dari sang kakek, membuat Bian menyimpulkan senyum tipisnya.
"Bian juga baik-baik saja selama berada di jogja." Balas Bian mencoba menimpali kakek dan papanya.
Seperti saat biasanya ia pulang, tak ada sambutan hangat dari kakek dan papanya, obrolan yang ia harapkan pun tak satupun pernah ia rasakan. Sulit bagi Bian sendiri untuk mengajak papa dan juga kakeknya untuk mengobrol ringan diluar pekerjaan. Meski begitu, ia masih menghargai keluarganya.
"Meski sudah lama tidak duduk bareng seperti ini, rasanya tidak buruk juga." Ucap Bian mencoba mencairkan suasana dengan mengomentari momen langka dirinya bersama keluarganya yang tengah duduk bareng seperti ini.
"Kalau kamu sering pulang, mungkin hal seperti ini akan terjadi lagi." Timpal Gauri.
"Begitukah? Tapi.., meski kita lagi kumpul begini, obrolan pun akan susah buat dilakukan." Balas Bian menatap ke arah mamanya.
Gauri jadi tersenyum mendengar Bian yang tengah mencoba memberikan sindiranya pada kakek dan papanya yang tak bisa bersikap lebih fleksibel itu.
"Ehem.."
Kakek Brama berdehem begitu mendengar ucapan Bian. Sedangkan sang papa terlihat cuek saja dan terkesan acuh pada hal yang dilontarkan oleh sang anak.
"Maaf, Bian agak sibuk belakangan ini. Terlebih jarak Bian sekarang sedikit jauh." Balas Bian.
"Cuma jogja aja."
"Iya juga sih, tapi.. terkadang Bian langsung tidur begitu selesai melakukan pekerjaan. Mungkin di lain waktu, Bian akan lebih sering mampir ke rumah."
"Tidak usah lain waktu, kamu balik saja lagi ke kantor pusat."
Lontaran yang dilakukan oleh papanya yang tiba-tiba itu, sedikit mengejutkan bagi Bian. Merasa dejavu dan tertegun akan kalimat itu membuat Bian tersadar akan sesuatu. Seolah menyadarkan dirinya akan firasat tak nyamanya sebelum pulang ke rumah.
"Maksud papa?" Darren mencoba untuk tetap tenang dengan kalimat yang dilontarkan oleh papanya untuknya.
__ADS_1
"Maksudku, kamu tidak usah balik lagi ke jogja."
"Bukanya papa yang menyuruh Bian untuk menghandle hotel yang disana? Terus kenapa sekarang aku tidak boleh balik lagi kesana?"
"Memang benar, lagi pula kan aku tidak menyuruhmu untuk selamanya disana, hanya sampai situasi hotel membaik dan Roy, manajer dari hotel sebelumnya sembuh dari penyakitnya."
Penjelasan dari sang papa tak membuat perasaan Darren merasa lega, ia justru terlihat tak senang mendengarnya. Ada pergolakan batin begitu hal yang sangat ia takutkan itu terjadi.
"Kenapa? Bukanya kamu harusnya merasa senang bisa kembali? dengan begitu kan kamu jadi lebih leluasa bertemu teman-teman kamu?" Gauri yang melihat Bian terlihat diam, mencoba untuk mengajaknya bicara.
"Bian senang kok, ma. Hanya saja.."
"Kenapa? Apa kamu punya kekasih disana?"
Seketika suasan berubah menkadi hening ketika kakek Brama ikut berkomentar. Papa dan mama Bian ikut kaget mendengarnya, seketika langsung menatap ke arah Bian bersama untuk memastikan jawabannya.
Bian yang kini mendapatkan tatapan dari anggota keluarganya, terlihat bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya ia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang kakek padanya.
"Itu, Bian.."
"Kamu kan masih bisa mengunjunginya. Duh, dasar anak muda." Ucap kakek Brama sedikit menggerutu gemas pada kisah percintaan cucunya, dan ia pun akhirnya memilih pergi meninggalkan Bian bersama kedua orang tuanya.
Bian yang ditinggalkan begitu saja terlihat gugup di depan kedua orang tuanya, karena kalimat dari sang kakek begitu menyulitkan dirinya di depan mama dan papanya. Terlebih kalimat itu begitu mengagetkan dirinya ,karena bisa terucap begitu saja oleh sang kakek.
"Iya, kamu kan masih bisa mengunjunginya. Jangan sedih gitu dong." Gauri terlihat satu kapal dengan mertuanya, dan mencoba menenangkan putranya yang akhirnya mempunyai seorang kekasih. Ia mengelus lengan putranya sambil memberikan senyumnya yang menenangkan.
Bian hanya bisa tersenyum melihat respon dari mamanya, karena ia terlihat kebingungan untuk menjelaskan pada sang mama, terlebih ia tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan lebih jelasnya.
"Kamu beneran punya pacar disana?" Pertanyaan dari papanya yang tiba-tiba, membuatnya beralih menatap ke arah papanya.
"Aku gak tau, hanya saja.. ada orang yang kusuka disana." Balas Bian menatap wajah papanya, yang kini tengah menatapnya penuh dengan rasa penasaran dan meminta penjelasan lebih padanya.
__ADS_1
"Bukanya kamu suka sama Adel?"
Ekspresi Bian cukup terkejut ketika papanya tau soal dirinya yang pernah suka pada Adel.