Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
48. Bian dan Kalung 2


__ADS_3

Bian masuk ke dalam kamarnya penuh dengan pikiran seputar Kinan. Bertemu secara tak sengaja sewaktu pulangnya dari meeting, membuatnya kembali mengingat soal kalung. Ia seperti ingin menghindar dari pembahasan seputar kalung itu.


"Kenapa dia kekeh sekali mengembalikan kalungnya?" Kesal Bian mengingat akan hal itu.


"Maaf pak, anda sedang berbicara dengan saya?" Tanya Dimas yang masih di dalam, membuat Bian tersadar dengan keberadaanya.


"Ah bukan, tadi aku bicara sendiri." Ucapnya kemudian. Tiba-tiba dia teringat satu hal,"Tunggu, sebelum kamu keluar, ada yang mau aku tanyakan sebentar." Cegah Bian pada Dimas yang hendak kekuar setelah menaruh kembali barang-barang milik Bian.


Bian dengan segera menghentikan langkahnya, "Apa anda membutuhkan sesuatu yang lain, pak?" Tanya Dimas.


"Itu.." Bian agak ragu untuk mengatakanya, "Apa kamu tau sesuatu soal tempat yang bagus disini?, tempat yang menjual kalung?" Tanyanya kemudian dengan penuh harap.


"Anda sedang mencari kalung?"


"Iya, aku lagi mencari sebuah kalung, tapi karena tidak tau apa-apa soal kalung, aku ingin bertanya sama kamu, apa kamu tau soal itu?"


Apa beliau mau membelikkan untuk non Adel, ya?" - Batin Dimas.


"Maaf, saya juga kurang faham soal itu." Jujur Dimas yang tak mengerti soal kalung. "Untuk tempat yang menjual kalung disini, saya juga tidak terlalu faham, karena tidak banyak hal yang saya tahu dengan kota ini. Tapi, mungkin saya bisa menanyakannya pada teman saya nanti, mungkin saja dia tahu soal tempat yang bagus, yang menjual kalung seperti yang anda inginkan." Jelas Bian.


"Baiklah, kabari jika kamu sudah tau. Aku ingin mencari kalung yang simple, tapi terlihat anggun jika dipakai. Kamu bisa mengerti yang aku maksud, kan?"


"Saya mengerti, pak." Dimas faham pada maksud Bian, pada deskripsi kalung yang dimaksud. "Akan segera saya beritahu pada anda jika sudah mengetahui tempatnya." Jawab Dimas lagi.


"Kasih tahu saja tempatnya, soalnya nanti aku mau pilih sendiri kalungnya." Kata Bian.


"Baik." Angguk Dimas.


"Yasudah, kamu boleh keluar." Kata Bian yang sudah tidak ada yang ditanyakan lagi pada Dimas.


Dimaspun pamit pergi dari hadapan Bian, meninggalkan Bian seorang diri dalam kamar luasnya.


...


"Kalungnya masih bagus, kok." Gumam Kinan menatap kalung berbandul gembok miliknya itu. "Tapi, kenapa beliau tidak mau menerimanya, ya?" Bingung Kinan pada sikap Bian yang terus-terusan menolak kalung yang sempat ditanyakan padanya itu. "Apa sekarang beliau tidak membutuhkanya lagi, ya?" Sambungnya. "Tapi benar, kan. Untuk apa juga beliau mau menerima kalung ini? Toh beliau tidak membutuhkanya?" Ucapnya lagi terus-terusan memikirkan jawabanya. "Tapi kan, dulu beliau sendiri yang bilang aku harus mengembalikanya jika kita bertemu lagi." Jawabnya lagi dengan muka murung.


Kinan menaruh kembali kalung itu pada tempatnya dengan rapi. Menatap lekat pada kalung yang penuh kenangan itu. Hadiah pertama yang ia dapatkan selama ia lahir dari kakak yang baru ia kenalnya itu.

__ADS_1


...


"Aku harus kembali ke kota asalku, dan sepertinya kita tidak bisa bertemu untuk sementara waktu."


"Aku tidak mau berpisah dari kakak." Ucap Kinan kecil yang mulai mengeluarkan air mata, dan menggenggam tangan Bian dengan erat tak mau berpisah.


"Jangan sedih, aku ada hadiah buat kamu. Hadiah yang bisa kamu pakai setiap saat, dan nantinya memudahkan kamu kalau mengingat soal aku." Bian kecil mengeluarkan hadiahnya dalam kotak yang dia bawa. Terlihatlah sepasang kalung di dalamnya.


"Bagaimana? bagus, kan? ini aku yang memilih sendiri lho.." Ucap Bian kecil bangga pada kalung pemberianya, dan mencoba menghibur gadis kecil itu.


"Iya bagus, apa benar ini buatku kak?" Gadis kecil itu terlihat lebih tenang dan sedikit terkesima pada keindahan kalung pemberian Bian.


"Iya ini buat kamu."


"Dua-duanya?" Tanya gadis itu dengan polos.


"Yang ini buat kamu." Ucap Bian kecil pada kalung berbandul gembok. "Dan yang ini buatku." Lanjutnya merujuk pada kalung berbandul kunci.


"Kok dibagi? katanya ini hadiah buatku?" Tanyanya polos.


Bian kecil tersenyum menatap kepolosan gadis kecil itu. "Bukan dibagi, kalungnya memang berpasangan. Jadi, satu buat kamu, dan satunya lagi buatku." Jelas Bian kecil.


"Kamu harus memakainya selalu ya, dan kembalikan jika bertemu denganku lagi nanti."


"Hah! dikembalikan lagi?" Kaget gadis kecil itu menatap Bian. "Tadi katanya ini hadiah untukku?" Ucapnya tak senang jika dikembalikan lagi kalungnnya.


"Itu memang buat kamu kok, kan kalungmya berpasangan, jadi harus dikembalikan biar nanti gemboknya bisa dibuka."


"Yasudah buka aja sekarang." Kata gadis kecil itu dengan polos, membuat Bian kehilangan kata menghadapinya.


"Nanti saja kalau kita bertemu lagi." Balasnya kemudian.


"Gak mau ah, kakak curang masa minta dikembalikan lagi setelah diberikan padaku." Genggam erat gadis kecil itu pada hadiah yang diberikan oleh Bian.


Bian tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya pada kelucuan gadis kecil disampingnya itu.


"Kinan, kalau kita bertemu lagi, kakak janji akan memberikan lagi hadiah, jadi tolong jaga kalungnya, ya?" Ucapnya pada Kinan kecil yang terlihat hanya fokus pada kalung pemberianya.

__ADS_1


...


"Waktu itu aku masih polos, dan sangat senang dengan hadiah pemberian darinya." Ucap Kinan mengingat kembali kenanganya bersama Bian dulu.


Saat mengingatnya dengan jelas, kembali membuat Kinan tersadar bahwa kenangan singkatnya bersama Bian ternyata banyak tersimpan memori indah. Mulai dari mendapat hadiah pertama dan bermain bersama denganya.


"Sudah cukup lama waktu kita berpisah, dibandingkan dengan pertemuan kita yang singkat selama di panti asuhan dulu. Karena itu, rasanya seperti ada jarak meski kita bertemu kembali." Ingatnya akan posisi dirinya dan Bian saat ini.


......................


"Ma, aku mau tanya dong?" Tanya Adel pada mamanya yang tengah bersantai.


"Boleh, mau tanya apa?"


"Itu.. kalau ada dua cowok yang dekat banget sama mama, terus tiba-tiba dua-duanya bilang suka sama mama, apa yang akan mama lakukan dengan itu?" Tanya Adel sedikit canggung pada mamanya.


"Itu siapa? kamu ya? mama sih tidak pernah merasakanya?" Ucap Risa setengah menggoda anaknya.


"Ih.. mama, bukan kok. Tolong dijawab saja pertanyaanku tadi, apa yang akan mama lakukan kalau itu terjadi sama mama?" Rengek manja Adel pada mamannya.


Risa menatap curiga anaknya, "Baiklah mama akan jawab. Yah.. kamu tinggal bersikap biasa saja, bilang suka, kalau suka pada salah satunya dan tidak, pada yang tidak kamu suka." Jawab Risa.


"Apa tidak apa begitu? kalau satunya yang ditolak merasa kecewa terus menjauh gimana? nanti hubungannya jadi retak dong?"


"Ya.. memang harus begitu, kalau tidak, nanti bisa kehilangan keduanya, karena jika terus digantung dan tidak diberi jawaban pastinya seperti apa pada mereka, satu per satu akan jadi canggung nanti." Sambung Risa.


Adel terdiam mendengar jawaban dari mamanya, ia sempat terkejut mendengarnya.


"Tapi sayang, siapa cowok-cowok yang menyatakan suka padamu itu?" Selidik Risa.


"Iih mama, dibilangin bukan aku. Yasudah ya, aku masuk ke kamar dulu." Adel dengan cepat kembali pada kamarnya setelah mendapat jawaban dari mamanya.


"Apa Bian dan Adnan, ya..?" Tebak Risa tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya.


...


"Mama bilang, aku akan kehilangan keduannya? bagaimana bisa seperti itu coba?" Adel tampak tak terima dengan jawaban dari mamanya.

__ADS_1


"Mereka kan sudah lama mengenalku, masa mereka akan meninggalkanku?, hanya karena aku tak memberikan jawaban pada mereka?"


__ADS_2