Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
45. Bian dan Kinan 2


__ADS_3

"Pak, itu.. saya lebih baik pulang dengan motor saya saja." Ucap Kinan merasa tak nyaman jika satu mobil dengan Bian, hingga buerusaha keras untuk menolaknya.


"Kenapa? kamu tidak nyaman?" Tanya Bian melihat Kinan kekeh untuk menolak tawaran darinya.


"Itu.., iya. Maaf.." Jujur Kinan meski dengan agak tak enak mengatakanya secara langsung.


Bian menatap Kinan yang memberikan gesture tak nyaman bersama denganya, sesaat sampainya di depan mobil miliknya. "Kemarin kamu diantar sama Dimas kan?" Ucapnya kemudian.


"Iya."


"Kalau begitu harusnya tidak apa dong sekarang, toh bukan sekali kamu menaiki mobil ini?" Tutur Bian, lalu masuk ke dalam mobilnya.


Mendengar hal itu, membuat Kinan merasa tak lagi bisa menolak pada ajakan Bian, namun ia juga merasa sungkan untuk menaiki mobilnya karena ini adalah pertama kali baginya pergi berdua dengan Bian diluar jam kerjanya. Ada rasa tak nyaman, mengingat mereka satu mobil sekarang, apalagi ini diluar jam kerja mereka.


Tin.. tin.., Bian membunyikan suara klakson mobilnya untuk menyadarkan Kinan yang tengah melamun, dan memberikan gestur untuk segera masuk ke dalam mobil begitu Kinan melihat ke arahnya. Dan Kinanpun akhirnya memilih masuk mobil Bian dan kembali meninggalkan motornya di hotel.


...


"Sebenarnya aku tidak mau kemana-mana sih, tadi itu terbersit begitu saja. Tiba-tiba saja menawarkan mengantar, aku benar-benar gak habis pikir soal itu." Batin Bian melirik sedikit ke arah Kinan yang tengah duduk disampingnya. Ternyata dia juga merasa aneh pada sikapnya sendiri.


"Kamu sudah berapa lama tinggal di jogja?" Tanyanya memecah kecanggungan dalam mobil.


"Saya? Ah.. itu, mungkin lebih dari 6 atau 7 tahun?" Ucapnya sedikit tak yakin. "Saya ingatnya, saya datang kemari saat umur 18 tahun saat mau lanjut kuliah disini." Jawab Kinan dengan sedikit tak nyaman.


Sama dengan apa yang dilaporkan oleh Dimas lalu.


"Apa kamu merasa tidak nyaman soal aku yang merupakan kakak panti asuhanmu dulu?" Bian merasa Kinan sedikit tak nyaman denganya sekarang.


"Itu.." Kinan ragu untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Tidak apa, wajar karena itu sudah lama , kan?"


"Maaf." Kinan merasa bersalah.


"Kenapa minta maaf, bukanya hal yang wajar kalau tidak nyaman dan juga tidak saling mengenali? itu kan sudah 21 tahun yang lalu. Tapi, aku ingin tahu bagaimana kabar panti asuhanmu sekarang?"


"Sekarang? em.. saya juga tidak tahu, soalnya saya sudah lama tidak mampir kesana." Jujur Kinan.


"Setelah keluar dari sana, kamu tidak mengunjungi mereka lagi?" Tanya Bian.


"Benar, meski sebenarnya saya berniat untuk mengunjungi mereka lagi, tapi masih belum tau kapan itu." Jelas Kinan.


"Begitukah, ternyata hubunganmu dengan mereka masih baik ya? apa anak-anak angkatanmu sudah keluar semua dari sana?"


"Saya kurang tahu, tapi saya sedikit ingat ada yang memilih stay untuk membantu ibu Maria di panti, dan ada juga yang keluar seperti saya, beberapa diantaranya juga ada yang mendapat keluarga baru."


Meski tadi sedikit canggung untuk sekedar mengobrol, namun ketika pembahasan soal panti asuhan keluar, entah mengapa mengalur begitu saja. Kinan tak lagi merasa tak nyaman dan ia jadi lebih rileks selama perjalanan, karena Bian yang selalu menanyakan seputar panti asuhanya dulu.


Kinan terkejut mendengar Bian membahas hal itu. Ekspresinya seakan menanyakan bagaimana ia bisa tahu, mengingat itu sudah lama terjadi.


"Benar, tapi bagaimana anda tahu? bukanya waktu itu anda sudah pergi dari panti?" Tanya Kinan.


"Aku tidak sengaja tahu. Tapi, katanya kamu pernah hilang ingatan karena insiden itu, apa itu juga benar?"


"Benar, tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Saya juga sudah mengingat soal kalung gembok yang pernah anda berikan dulu pada saya, meski saya tidak mengingat jelas soal anda. Saya minta maaf soal itu." Kata Kinan yang lagi-lagi minta maaf pada Bian karena tak mengingat wajahnya.


Bian menghentikan mobilnya pada lampu merah. "Lalu, bagaimana saat kamu sudah mengetahuinya sekarang?" Bian menatap wajah Kinan disampingnya. "Apa yang kamu rasakan saat mengetahui kalau kakak itu ada di depan kamu sekarang, dan ternyata begitu dekat denganmu selama ini?" Ucapnya lagi.


Kinan sepertinya sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu. Ia memalingkan wajahnya, merasa canggung dengan tatapan intens dari Bian padanya. "Itu.. awalnya saya sedikit kaget dan tidak percaya, tapi disatu sisi, saya merasa bersyukur akan itu. Karena akhirnya bisa bertemu denganya lagi." Jawabnya kemudian dengan melirik sekilas ke arah Bian.

__ADS_1


Mendengar hal itu, tentu saja membuat Bian merasa senang. Ia menyunggingkan senyum tipis pada sudut bibirnya, tak lagi bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Bersyukur? apa itu artinya kamu menantikannya selama ini?" Ucapnya lagi.


"Iya, saya sangat menantikan hal itu, dan ingin sekali bertemu dengan kakak itu lagi." Balasan Kinan membuat Bian merasa aneh, entah mengapa hal itu membuatnya berdebar. "Karena kalau bertemu lagi, saya bisa mengembalikan kalung yang pernah diberikan padaku dulu." Sambung Kinan melirik malu pada Bian yang disampingnya.


Jawaban terakhir, seketika memudarkan harapan Bian. Entah mengapa ia menjadi kesal mendengarnya. Perkataan itu menjadi yang terkahir sebelum akhirnya mereka sampai pada kosan milik Kinan.


"Saya berterimakasih atas tumpangannya, pak. Maaf kalau jadi merepotkan." Ucap Kinan setelah turun dari mobil. "Ah.. itu, kalungnya ada di dalam, apa sekalian saja saya ambilkan?" Lanjutnya ingat akan kalung miliknya.


"Tidak usah, kamu bawa besok saja kalungnya, lalu kembalikan padaku besok saat bertemu denganku lagi di hotel." Tolak Bian tak mau menerima kalungnya. "Masuklah, aku harus pergi." Sambungnya.


"Baik, saya masuk terlebih dahulu. Sekali lagi terimakasih atas tumpanganya pak." Balas Kinan, lalu pamit masuk ke dalam kosanya.


Bian menatap lekat kepergian Kinan dari hadapanya, ekspresinya seakan tengah memikirkan sesuatu, hingga setelah itu ia memilih pergi setelah Kinan sudah tak terlihat lagi dari matanya.


...


"Wah, mbak Kinan di antar sama cowok nih tadi?" Celetuk seseorang setengah menggoda pada Kinan yang hendak masuk ke dalam kosannya.


"Eh, mbak Lida. Malam mbak, habis dari mana malam-malam begini?" Sapa Kinan melihat tetangganya itu.


"Aku habis beli makanan diluar, terus tidak sengaja lihat mbak Kinan keluar dari mobil mewah di antar sama cowok tadi. Kenapa di antar, memangnya motornya kemana? tadi juga berangkat tidak bawa motor, kan?."


"Motor saya ada di hotel, itu.. ban motornya agak sedikit bocor jadi tidak bisa saya bawa." Jawab Kinan.


"Oh gitu, tapi cowok tadi siapa? pacar ya?" Kepo Lida.


"Oh bukan, itu hanya rekan saya di hotel kok." Balas Kinan tak memberitahukan identitas Bian sesungguhnya yang merupakan atasannya sendiri.


"Wah, aku kira pacar lho. Tapi, orangnya ganteng banget lho mbak, apa mbak Kinan yakin tidak ada hubungan apa-apa sama dia? sayang tau.." Ucap Lida penuh semangat membuat Kinan tersenyum.

__ADS_1


"Bukan kok, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, yasudah ya, aku masuk dulu ke dalam." Balasnya lalu masuk ke dalam kosan miliknya.


__ADS_2