Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
75. Kepastian


__ADS_3

"Eh..'' Ucap Bian kaget ketika kehilangan sosok Kinan, saat pandanganya sempat teralihkan sejenak pada seorang staff yang mengajaknya bicara.


Berusaha menyusulnya keluar, Bian mencari sosoknya yang tengah ia cari. Dan sosoknya yang telah ia cari itu, kini telah pergi meninggalkan dirinya.


"Sepertinya aku terlambat.'' Ucapnya melihat kepergian Kinan bersama motor maticnya.


Dengan sedikit rasa menyesal, Bian kembali masuk kedalam hotel, meski ekspresinya terlihat kecewa ketika tak bisa menyusul Kinan.


"Padahal ada yang harus segera aku pastikan denganya.'' Ucapnya.


Teman gadis kecilnya dulu sepertinya bukan hanya sekedar masa lalu baginya, mengingat bagaimana dirinya yang terus saja ingin memastikan perasaanya. Mungkin bagi Bian,ini adalah hal yang sangat penting dan juga penuh arti.


"Satu hal yang ingin aku pastikan, dengan begitu aku akan benar-benar lega nanti." Ungkapnya.


"Aku tak akan tersesat lagi." Lanjutnya dengan penuh keyakinan dalam dirinya.


...


Seperti tersambungkan dengan Bian, Kinan yang sekarang berada dalam kosan mungilnya juga tengah kepikirkan hal yang sama, terutama pada hal yang ditunjukkan oleh Bian padanya tadi, karena sikapnya yang kini justru terlihat seperti kakak yang pernah ia kenal dulu, dan bukan lagi bos yang bersikap dingin dan cuek seperti yang pertama kali ia lihat.


Hadiah kalung yang telah diberikan Bian kepadanya, dan sedang ia pakai sekarang, juga tak luput dari rasa pengamatanya, karena hingga sekarang ia masih saja terus tak percaya mendapatkan hadiah dari Bian, yang tak lain adalah bosnya sendiri. Ia bahkan tak bisa memakai kalungnya lagi karena terlalu terbebani akan itu.


Kinan melepas kalung yang sempat dipasangkan Bian pada lehernya, lalu menatap lekat kalung yang tengah ia pegang, dengan perasaan kagum dan juga rasa terbebani. Memandangi kalungnya yang terlampau indah dan terlihat mahal untuknya, membuatnya tak lagi sanggup untuk menatap kalung yang terlihat mewah dan berlebihan itu.


"Apa beliau akan marah, kalau aku tak lagi memakai kalung pemberian darinya?" Ucapnya sembari memikirkan reaksi dari Bian nanti, jika melihatnya yang tak lagi memakai kalung pemberian darinya.


Kinan menatap dua kalung miliknya, yang kebetulan sama-sama pemberian dari Bian. Perasaanya benar-benar terlihat campur aduk ketika menatapnya, seolah masih mencerna dengan baik akan hal yang ia alami dan rasakan.

__ADS_1


Kinan seolah masih tak percaya pada kenyataan yang ia alami saat ini, mengingat telah dipertemukanya kembali dengan kakak yang pernah ia kenal dulu, dan juga telah mendapatkan hadiah yang diberikan oleh kakak yang ia kenal dulu, yang juga merupakan bosnya sendiri.


"Kalau aku yang dulu, reaksi apa yang akan aku perlihatkan sekarang?" Kinan tersenyum simpul memikirkan dirinya di masa lalu.


Mengingat akan kenangannya di masa lalu, membuatnya kembali teringat akan janji yang pernah ia katakan pada Bian di masa lalu, namun justru ia lupakan sekarang, hingga merasa malu dihadapan Bian.


"Kenapa aku benar-benar lupa, ya soal janji yang pernah aku buat dulu?" Rutuknya pada dirinya sendiri.


"Tapi, kenapa pak Bian masih mengingatnya, ya? Padahal itu sudah lama banget?" Heran Kinan dengan ingatan Bian. "Tapi, harusnya beliau bisa saja melupakan janjinya dulu dan tak perduli akan itu, kenapa sekarang jadi...?" Sambungnya yang masih tak habis pikir akan itu.


"Tunggu, apa yang akan aku lakukan kalau beliau mengungkit soal pembicaraan terakhir,ya?" Kinan menjadi panik ketika teringat akan permintaan Bian padanya, yang menyuruhnya untuk meluangkan waktu sehari untuk Bian.


"Apa yang akan aku jawab nanti, ya?" Ucapnya lagi, yang entah mengapa menjadi gugup dengan hanya memikirkanya saja.


...


Akankah rasa itu hanya sebuah ilusi belaka, persinggahan sejenak, ketertarikan yang nyata, atau justru karena janji yang harus segera ditepati?


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" Tanya Bian terlihat bingung melihat Kinan berkeliaran kembali di dalam hotel dengan baju kasualnya.


Mata Kinan menatap kaget melihat keberadaan Bian. "Itu, saya tadi mendapat telfon dari Aura, katanya dia sakit, karena itu dia meminta saya datang kesini untuk membantunya?" Jawab Kinan kemudian.


"Oh, maksudmu perempuan yang barusan pergi di antar sama kakaknya?"


"Eh, jadi dia sudah pergi?" Kinan merasa terkejut ketika mendengarnya, namun disatu sisi merasa lega karena merasa Aura telah pergi bersama dengan kakaknya.


"Tunggu, Aura kan tidak punya kakak?" Ingat Kinan kemudian, dan menatap Bian bingung. "Ah..." Namun kembali tersadar dengan keberadaan Bian.

__ADS_1


"Memangnya dia tidak menelfonmu?" Tanya Bian melihat ekspresi bingung dari Kinan.


"Tadi dia menelfon pada saya untuk minta di antar ke rumah sakit, karena katanya perutnya sakit, dan dia yang ingin pulang tapi tak ada yang menjemput, karena pa.. maksud saya kakaknya lembur, karena itu dia meminta tolong pada saya." Jelas Kinan dengan sedikit tak nyaman karena sedikit berbohong soal pacar Aura.


Bian mengangguk mengerti dengan penjelasan Kinan.


"Pak, saya tinggal kedalam dulu, soalnya ada hal yang ingin saya ambil. Ini karena saya baru saja mendapat chat dari Aura untuk diminta mengambilkan tasnya yang tertinggal dalam lokernya." Kata Kinan yang sedikit agak canggung menatap Bian yang terlihat habis berolahraga.


"Em, masuklah." Balas Bian mempersilahkan Kinan masuk kedalam hotel.


Kinan pun masuk, dan meninggalkan Bian sendiri. Saat ingin mengatakan sesuatu pada Kinan, namun menjadi tertahan akan Kinan yang keburu masuk kedalam hotel.


"Ada hal yang ingin aku pastikan sebenarnya." Ucapnya menghela nafas panjang menatap punggung Kinan.


Kepastian, lagi-lagi Bian membutuhkan akan itu. Karenanya, hari ini dia ingin segera memastikanya dan tak akan melewatkan begitu saja pada kesempatan yang ada di depan matanya kini. Ia mengejar keberadaan Kinan, meski olahraganya sendiri belum selesai ia lakukan.


"Apa kamu ada waktu sebentar? Aku hanya butuh 10, tidak 5 menit saja untuk berbicara. Bisa, kan?" Kata Bian menghampiri Kinan yang telah keluar dari locker room bersama tas milik Aura yang ia ambil.


Nafasnya masih tersengal ketika mencoba mengatakan kalimatnya pada Kinan, hingga membuatnya tak lagi memperdulikan akan kondisinya sampai Kinan menjawab permintaanya.


Tentu saja Kinan merasa tekejut dengan kedatangan Bian yang tiba-tiba berlari mengarah padanya, yang hendak keluar dari hotel. Ini adalah kedua kali bagi dirinya yang dikejutkan oleh kehadiran Bian.


"Sama saya?" Jawab Kinan yang kini sudah bisa mengatur ekspresi terkejutnya.


"Iya, kamu bisa, kan?" Kata Bian lagi.


"Itu.., iya saya bisa." Jawab Kinan agak ragu dengan perasaan gugup ketika menatap Bian yang tiba-tiba berubah serius.

__ADS_1


"Ada apa, ya? Ini bukan soal yang tadi, kan?" Batin Kinan merasa gugup sendiri.


__ADS_2