
Darren kembali setelah mengganti bajunya. Dengan agak canggung, ia datang menghampiri Kinan yang sedari tadi masih menunggu dirinya.
"Maaf ya kalau lama menunggu." ucapnya mencoba tetap cool dihadapan Kinan, meski sebenarnya ada sedikit kegugupan pada dirinya. Terlebih ingatan akan sikap cerobohnya yang masih membuatnya cukup malu dihadapan Kinan.
Di samping itu, Kinan hanya bisa mengangguk kecil saat Bian mengatakan itu, karena ia juga merasakan kecanggungan yang sama ketika Bian kembali dari arah kamar mandi dan sekarang tengah duduk di depanya dengan memakai baju kasual dan penampilannya yang terlihat begitu berbeda setelah mandi. Ada semerbak bau yang harum begitu Bian mulai duduk ditempat yang sama dengan dirinya.
Sejenak ada keheningan ketika keduanya sama-sama duduk. Membuat suasana seketika berubah jadi canggung, terlebih dengan hanya ada mereka berdua yang berada di dalam ruangan.
"Laporannya sudah saya taruh di atas meja anda." Ucap Kinan memecah keheningan sambil menahan rasa canggungnya.
"Ok, akan aku periksa." Bian yang juga canggung, langsung mengambi laporan yang diberikan oleh Kinan dan mulai memeriksa laporanya sambil menyilangkan kedua kakinya di atas kursi tempatnya duduk.
Dengan tubuhnya yang masih setengah basah karena habis mandi dan rambutnya yang belum sempat ia rapikan dengan benar telah memberikan kesan seksi dan maskulin bagi dirinya yang memiliki tubuh cukup kekar itu. Di tambah dengan sorot cahaya yang masuk kedalam sela-sela tubuhnya melalui jendela semakin menekankan auranya.
Meski saat ini penampilanya tak terlalu rapi, namun Bian tetap menatap serius laporan yang dibawa oleh Kinan. Wajahnya begitu fokus tanpa mengalihkan pandanganya meski sempat berada dalam suasana yang membuatnya sedikit tak nyaman karena canggung.
Sedangkan Kinan yang sama-sama merasakan perasaan yang sama, terlihat menunggu Bian yang sedang memeriksa laporanya, meskipun harus menahan perasaan tak nyamannya karena harus duduk berhadapan dengan Bian. Ada perasaan yang sulit di ungkapkan ketika tanpa sadar menatap ke arah Bian yang kini terlihat begitu serius membaca laporanya, apalagi dengan penampilanya yang baru selesai mandi membuatnya terlihat begitu berbeda.
Membuat Kinan jadi diam terpaku karena hal itu, dan ada sedikit perasaan berdebar ketika melihat ke arahnya yang tengah fokus membaca laporan. Namun, disatu sisi, Kinan juga merasa kagum pada sikap Bian yang seperti itu. Sikapnya yang profesional membuat Kinan menatapnya keren dan perasaan kagum. Membuat dirinya jadi berfikir sejenak akan itu, terlebih pada betapa baiknya Bian ketika bisa membedakan antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi.
Hal itu seakan menyadarkan dirinya sendiri untuk tetap sadar akan posisinya. Meski sebenarnya ia sempat gugup ketika hendak menghampiri Bian, karena masih cukup canggung ketika harus bertemu dengan Bian setelah kejadian kemarin. Melihat Bian yang masih bisa tetap fokus pada pekerjaanya dan tetap bersikap tenang, membuatnya merasa malu pada dirinya sendiri yang sempat tak fokus pada pekerjaanya. Meskipun apa yang dirasakan olehnya juga sama halnya dirasakan oleh Bian saat ini tanpa ia sadari akan hal itu.
"Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Ucap Bian pada Kinan yang ada di depanya dengan masih menatap isi laporan.
__ADS_1
"Eh, tidak pak." Kinan cukup kaget dengan pertanyaan Bian dengan ekspresinya yang ikut bingung akan pertanyaan itu.
"Oh ya? Kenapa aku mengira kamu sedang melihatku sedari tadi, ya?" Ucap Bian yang kini menatap ke arah Kinan yang duduk di depanya. "Jadi, aku pikir kamu lagi ada sesuatu yang mau kamu katakan padaku." Sambungnya lagi.
Kinan yang merasa menatap Bian tadi, tiba-tiba menjadi canggung dan gugup sendiri, ia jadi sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Bian.
"Aku harus jawab apa? Aku tadi kan tidak sengaja menatap beliau? Tapi, kenapa beliau bisa sadar, ya?"
Kinan mendapatkan pergolakan batin ketika Bian menanyakan tatapan dirinya yang sejatinya tanpa sadar ia lakukan.
"Kalau tidak ada yang mau kamu katakan, yasudah.. mungkin tadi cuma perasaanku saja." Senyum Bian tak memaksa Kinan untuk menjawabnya dan seketika hati Kinan menjadi lega setelah mendengarnya.
"Oh iya, soal laporan kamu.."
"*Sial, kenapa harus bunyi segala, sih." Umpatnya kesal dan menahan rasa malu*nya di depan Kinan.
"Ah, sepertinya perutku lagi marah." Ucap Bian tersenyum canggung pada Kinan di depanya.
Mendengar hal itu membuat Kinan jadi tersadar pada Bian yang pergi begitu saja dari kantin tadi. Ia ingat dengan jelas kalau Bian tak menyentuh makanannya sama sekali.Ekspresinya cukup terkejut dengan Bian yang sampai sekarang belum juga makan, padahal wkatu sudah mulai masuk petang hari.
"Anda belum makan sejak dari kantin tadi?" Tanya Kinan memasang wajah terkejut dan khawatir.
"Sebenarnya.., iya." Jujur Bian tak mencoba membantahnya.
__ADS_1
"Jadi, anda tadi melakukan olahraga dengan perut kosong?" Ucap Kinan memasang wajah terkejutnya akan itu.
"Em.., benar. Tapi,.."
Kinan tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dna menghentikan kalimat yang hendak Bian katakan.
"Saya akan mengambilkan makanan yang ringan untuk anda dan teh hangat untuk menenagkan perut anda yang kosong." Ucapnya kemudian pamit pergi dari hadapan Bian tanpa memberikan kesempatan Bian untuk berbicara.
"Dia tidak mendengarkanku yang mau bicara." Hela Bian tak bisa mencegah Kinan yang pergi mengambilkan makanan untuknya.
Melihat kepergian Kinan, setidaknya membuat Bian bisa menenangkan hati dan perasaanya yang sedari tadi merasa kacau karena tatapan Kinan, ditambah dengan rasa malunya pada perutnya yang tiba-tiba berbunyi keroncongan karena merasa lapar.
"Hari ini benar-benar kacau." Gumamnya menghela nafas panjang pada tingkahnya yang ceroboh dan pada kejadian yang membuatnya begitu memalukan di depan Kinan hari ini.
Sejenak ia jadi terdiam, memikirkan kembali tentang kepergianya besok dan ia yang belum sempat berbicara pada Kinan akan rencananya itu.
"Aku harus berbicara denganya hari ini." Ucapnya seakan berat untuk melakukanya.
"Setelah aku bilang, lalu apa? Apa aku akan memintanya untuk menungguku? Kalau nanti dia bilang tidak mau, aku harus jawab apa? Terlebih masih belum ada yang pasti disini."
Tiba-tiba Bian merasa cemas akan hal itu, mengingat ia dulu pernah mengalami situasi dan kejadian yang sama seperti ini. Meski masih belum pasti alasan papanya memanggilnya, namun hatinya tetap merasa tak tenang akan itu.
"Sial, aku jadi bingung harus apa sekarang."
__ADS_1
Agaknya perasaanya pada Kinan begitu serius, mengingat dirinya yang seolah enggan untuk berpisah dari Kinan dan tak mau pergi dari tempatnya saat ini. Perasaan yang baru tumbuh dalam beberapa waktu itu telah menempel pada sudut hati terdalamnya. Apa yang membuat Bian begitu yakin terhadap perasaanya pada Kinan, hingga rasanya sulit untuk melepaskannya?