Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
133. Hal Yang Membahagiakan


__ADS_3

Di ruang makan yang saat ini telah berkumpulnya semua anggota keluarga Bian, Kinan yang disambut dengan hangat oleh keluarga ini masih tampak tak menyangka dan tak percaya dengan sambutan mereka untuknya.


"Semua terasa mimpi."


Karena begitu tak percayanya mendapatkan sambutan yang baik dan juga hangat dari keluarga Bian, Kinan bahkan berfikir apa yang ada di depanya saat ini hanyalah mimpi.


"Bolehkah aku merasa bahagia seperti ini?"


Meski berfikir ini hanyalah mimpi untuknya, namun sambutan hangat dari keluarga Bian untuknya, sedikitnya membuatnya bahagia, karena ia merasa sudah menjadi bagian dari keluarga yang luar biasa ini.


"Aku tak merasakan perasaan tertekan dari mereka, meski awalnya aku takut mereka akan bertanya tentang asal usulku."


Tak ada tanya jawab yang ia takutkan, bahkan keluarga Bian tak satupun menanyakan perihal asal usulnya. Hanya menanyakan kabar tentangnya, bagaimana ia mengenal Bian dan bagaimana ia bisa menyukai Bian hingga menjalin hubungan seperti ini.


"Mereka hanya tertarik dengan kak Bian yang sudah memiliki pacar."


....


Tak ada obrolan selama beberapa menit makan malam, semua hanya fokus pada makanan masing-masing, seolah ada aturan yang harus mereka taati selama makan malam bersama.


Di dalam ruangan yang hanya ada keluarga dan beberapa makanan diatas meja makan, hanya menyisakan suara benturan sendok dengan piring yang terdengar nyaring karena tak adanya pembicaraan selama makan. Semua seolah terhanyut dalam makanan masing-masing.


"Kamu kenapa, kok diam saja dari tadi? Apa makanan dirumahku nggak enak?" Tanya Bian pada Kinan yang diam sejak kepulanganya dari rumah keluarganya. Saat ini keduanya tengah dalam perjalanan menuju apartemen.


"Ah, enggak kok kak, Kinan cuma kepikiran saja sama sambutan hangat dari keluarga kakak." Jawab Kinan.


"Apa kamu tidak nyaman dengan penyambutan keluargaku?" Bian yang terus fokus menyetir, sesekali melirik ke arah Kinan yang duduk tepat disampingnya. Ia terus mengajak Kinan ngobrol selama dalam perjalanan.


"Enggak kok, Kinan cuma merasa sedikit tidak percaya saja dengan kehangatan mereka." Sanggah Kinan dengan cepat.


"Kenapa, apa kamu nggak menyangka mereka tidak banyak bertanya sama kamu?"


Merasa itu yang ia pikirkan sejak berada dirumah orang tua Bian, Kinan tampak tak menyangkalnya dan hanya diam seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Bian.

__ADS_1


"Aku kan sudah bilang kalau keluargaku tidak sekaku itu, kamu hanya terlalu khawatir soal mereka." Ujar Bian sembari tersenyum tipis ke arah Kinan.


Merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Bian, Kinan yang semula berfikir keluarga Bian seperti keluarga yang ada di film yang pernah ia tonton, terlihat menyesal karena sudah berfikir buruk tentang mereka.


.....


Hanya 2 jam ia berada dirumah keluarga Bian, dan selama disana, ia banyak mendapatkan hal yang berharga dan juga momen membahagiakan. Merasa disambut dengan baik oleh keluarga Bian, membuatnya jadi memimpikan bisa menjadi bagian dari mereka.


"Eh, memangnya aku boleh memimpikan hal seperti ini?"


Melirik dengan hati-hati pada Bian yang tengah fokus menyetir, menatapnya dengan lembut lalu berakhir dengan senyuman tipisnya yang mengembang disudut bibirnya.


"Aku sudah bahagia hanya dengan ini, karena itu aku tidak boleh terlalu serakah."


Menatap kesamping jendela mobil, Kinan yang tak ingin serakah pada hubungan seumur jagungnya bersama Bian, mencoba menikmati momen indah yang terjadi pada hubunganya saat ini.


"Tidak apa, masih ada banyak waktu. Umurku juga masih 26 tahun." Ujarnya dalam hati yang tak ingin terlalu terburu-buru memikirkan langkah kedepanya pada hubunganya bersama Bian.


Karena saat itu ia terlalu khawatir, Bayu mencoba menenangkanya dengan kata-katanya yang sederhana, dan kata-kata itu ternyata begitu ampuh untuknya dan mampu merubah persepsi dan pandanganya terhadap hubunganya bersama Bian. Keputusanya untuk menemui Bayu sepertinya benar-benar sudah tepat untuk ia lakukan, karena begitu berdampak pada pemikiranya saat ini.


"Sepertinya aku harus memberikan hadiah untuk mas Bayu."


......................


Setelah perjalanan yang lumayan dari rumah keluarga Bian, keduanya kini telah sampai di depan apartemen. Bian dan Kinan pun masuk bersama kedalam.


"Sepertinya aku harus memberikanmu kata sandi apartemen ini, biar kamu bisa masuk tanpa perlu bantuanku." Ujar Bian setelah masuk kedalam.


"Eh, itu.. sepertinya nggak usah, lagipula saya juga nggak tinggal disini." Kinan menolak dengan halus, karena merasa tak nyaman pada Bian yang hendak memberitahukan nomor sandi apartemennya.


"Aku sudah mengirimkan nomornya melalui chat, biar saat kamu lupa, kamu bisa tinggal.membacanya lagi." Ujar Bian yang tak terlalu perduli dengan penolakan Kinan dna langsung mengirimkan nomer sandi apartemenya


"Anda kan tidak boleh memberitahukan nomer anda sembarangan begini." Ucap Kinan yang jadi merasa tak nyaman dengan perlakuan Bian yang terlalu mempercayainya dengan memberikan nomor sandi apartemen padanya.

__ADS_1


"Aku nggak memberikan kesembarang orang, ini kuberikan pada pacarku sendiri." Jawab Bian santai, yang tak dapat Kinan sanggah.


"Tapi, tetap saja kan, anda tidak boleh memberitahukan begitu saja pada saya, terlebih saya hanyalah pacar anda?"


Bian menatap Kinan dalam diam, yang kemudian menyunggingkan senyuman manisnya.


"Kalau begitu, haruskah kita menikah?" Ujarnya yang mencoba mendekatkan wajahya pada Kinan.


"Eh!" Mata Kinan membulat kaget pada ucapan Bian, terlebih saat melihat ekspresi Bian dari dekat, ekspresi yang sedang tersenyum dengan manis ke arahnya.


"Deal, ya?." Ucap Bian sembari menyipitkan matanya sebelah pada Kinan yang tampak tertegun karena ucapanya.


Merasa puas menggoda Kinan, Bian tak berhenti untuk tersenyum. Terlebih ia begitu terhibur dengan ekspresi terkejut yang diperlihatkan oleh Kinan. Sedangkan Kinan itu sendiri, ia tampaknya masih mencoba untuk mencerna semuanya. Karena terlalu terkejut membuatnya diam membeku.


"Apa kamu mau menikah denganku?"


Belum benar ia mencerna hal yang terlalu mengejutkanya itu, ia sudah dikejutkan lagi dengan perkataan Bian yang lagi-lagi mengajaknya menikah, namun kali ini terlihat lebih serius dibanding sebelumnya.


"Kalau aku sih, sangat mau menikah denganmu. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu mau menikah denganku?" Ujar Bian kembali membuat Kinan tertegun karena ucapanya.


Kinan yang masih tak percaya harus mendengar berulang kali Bian melamarnya langsung, terpaku karenanya. Tubuhnya membeku merespon rasa keterkejutanya.


"Kamu nggak mau menikah denganku?" Tanya Bian pada Kinan yang sedari tadi hanya diam tak bersuara.


"Itu, tidak, ah.., maksud saya, saya.., iya mau." Tergagap karena lamaran yang tiba-tiba dari Bian, tentu membuatnya tak bisa menjawabnya dengan benar. Terlebih hal itu diluar perkiraanya.


Mendengar jawaban Kinan, Bian tersenyum dan langsung memeluknya.


"Syukurlah, aku takut kamu menolaknya." Ucapnya merasa senang.


Dalam pelukan Bian, Kinan mrnyembunyikan wajahnya yang tampak malu dan juga merasa bahagia karena terlalu berdebar mendapatkan lamaran dari Bian. Padahal ia tadi sempat berfikir untuk pelan-pelan memikirkan masa depan hubunganya bersama Bian, namun siapa sangka ia akan mendapatkan lamaran secepat ini dari Bian, padahal selama bertemu keluarganya tak ada pembahasan soal ini sebelumnya, hingga ia pun juga tak berharap banyak.


"Aku bahagia." Ujarnya dalam hati dengan perasaan yang tak lagi bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

__ADS_1


__ADS_2