Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
97. Yang Di Harapkan Oleh Kinan


__ADS_3

"Hmm.. apa kamu yakin ingin mendengarkan jawabannya?" Bian menatap Kinan dengan wajah senyumnya.


Kinan yang kini tengah berdiri menatap ke arahnya pun hanya bisa menatap gugup pada Bian di depanya, meski melakukannya hanya untuk memastikan jawabannya, namun entah mengapa membuatnya sedikit gugup ketika hendak mendengarkan langsung jawabanya.


"I-iya."


Dengan sedikit kegugupannya, akhirnya ia mencoba memberanikan diri untuk melakukanya.


"Jawabanku adalah..." Bian menjeda kalimatnya, dan mencoba memandang Kinan sejenak.


"Apa ini karena kamu ingin mendengar kepastian dariku?" Tiba-tiba Bian menanyakan alasan Kinan bertanya padanya.


"Anda bisa menganggapnya seperti itu."


Bian merenungkan sejenak jawaban yang hendak ia ucapkan pada Kinan.


"Apa yang membuatmu ragu padaku? Apa perasaanku belum cukup meyakinkan buat kamu?"


"Saya hanya merasa ini akan sia-sia jika terus berlanjut, karena itu saya merasa hubungan yang anda harapkan itu tidak akan pernah bisa berhasil." Kinan sedikit menghawatirkan kondisi hubungan dirinya dan Bian yangtak akan bisa melangkah lebih jauh lagi, mengingat adanya perbedaan yang cukup besar dalam diri mereka.


Mendengar jawaban dari Kinan, Bian kembali memainkan jari-jarinya untuk mencoba mencari jawaban yang pas untuknya.


"Kenapa kamu sangat yakin kalau kita tidak bisa melangkah lebih jauh?" Ucapnya kemudian.


"Karena saya tidak yakin bisa mewujudkan harapan saya dengan anda." Jawab Kinan.


"Harapan? Memangnya apa harapan kamu sehingga aku tidak bisa mewujudkannya?"


Bian sedikit mengernyitkan dahinya ketika Kinan mengutarakan harapannya.


"Saya menginginkan hubungan yang lebih serius, karena itu, saya merasa tidak bisa jika bersama anda." Ucap Kinan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu serius. Sedangkan Bian kembali terdiam karenanya.


"Serius? Seperti apa hubungan yang serius yang kamu maksud itu? Apa aku kurang serius dimatamu saat ini?" Entah mengapa raut ekspresi Bian menjadi marah ketika menatap ke arah Kinan.

__ADS_1


Kinan melihat raut wajah Bian yang tiba-tiba menjadi sedikit kesal karena ucapanya. Wajahnya yang kini menatapnya penuh tajam dan penuh marah itu sedikit membuatnya takut dan merasa bersalah disaat bersamaan.


"Maafkan saya, hanya itu yang ingin saya sampaikan pada anda. Kalau begitu saya permisi untuk pergi dari hadapan anda." Pamit Kinan yang hendak pergi.


"Apa ini karena kamu ingin hubungan yang sampai pada pernikahan?" Bian menghentikan langkah Kinan yang hendak keluar dari kamarnya.


Langkah kaki yang sejatinya hendak pergi itu akhirnya berhenti.


"Iya." Jawabnya yang kemudian menoleh ke arah Bian.


"Apa kamu serius mengatakan itu?"


"Iya, karena itu memang impian saya dari dulu. Menikah dengan orang yang saya cintai dan bisa hidup bersamanya adalah mimpi yang saya inginkan dari dulu."


Bian yang kini sudah berada dalam jarak yang dekat dengan Kinan, hanya menatapnya dalam diam.


"Apa ini karena kamu besar di panti asuhan?"


"Iya. Karena itu, saya.."


Kinan yang sempat tertegun mendengar pengakuan Bian, mendadak memalingkan wajahnya. Matanya mendadak berkaca-kaca, dengan perasaanya yang serba meyulitkanya. Hatinya merasakan perasaan terbebani akan itu.


"Maaf, saya harus pergi sekarang, karena hari semakin gelap." Kinan akhirnya kembali menatap ke arah Bian untuk pamit pergi, dengan mencoba mengontrol raut wajahnya yang terlihat menahan perasaan tak nyamannya.


Bian yang ada di depanya masih diam tak memberikan suaranya.


"Kamu tidak mempercayaiku, karena aku atasanmu, kan? atau.. ini karena status kita yang berbeda?" Ucap Bian kemudian, yang seolah mengerti arti dari kekhawatiran dari Kinan.


Kinan hanya diam ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Bian. Dan diamnya telah memberikan jawabannya langsung pada Bian tentang kekhawatiran dirinya selama ini pada hubungan yang seharusnya tidak ada itu.


"Benar, karena itu.. saya memberikan jawabanya sekarang pada anda." Setelah diam sejenak, Kinan mencoba memberanikan diri untuk mengatakan pendapatnya.


Bian menghela nafas panjangnya, bersama ekspresi dirinya yang begitu membingungkan, mengingat yang dikatakan oleh Kinan tak salah.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa begitu yakin seperti ini, jika kita saja belum mencobanya?" Ucap Bian.


"Dari pada kita terluka setelahnya, mungkin lebih baik kita tidak usah memulainya."


Lagi-lagi Bian dibuat terpaku oleh jawaban dari Kinan. Ucapannya seolah menyadarkan dirinya akan kenyataan di depannya.


"Apa mencintai seseorang itu memang begitu sulit seperti ini?" Ucapnya dengan memasang wajah sedih dihadapan Kinan.


Mata Kinan bergetar begitu melihat ekspresi yang dibuat oleh Bian saat ini. Ia terlihat tak menyangka bisa melihat ekspresi seperti itu dari Bian. Seketika lidahnya terasa keluh seolah merasa bersalah.


......................


Harapan yang Kinan impikan sejatinya adalah hal yang begitu sederhana untuknya, karena ia tak memiliki keluarga sedari kecil, ia jadi begitu mendambakan arti sebuah keluarga bagi dirinya. Meski mendapatkan kehangatan ketika bersama keluarga Bayu, namun ada kalanya ia ingin memiliki keluarga sendiri. Ia sangat berharap bisa memiliki sebuah keluarga kecil dari pernikahanya nanti.


"Aku tidak salah, kan, jika sedikit mengharapkannya?"


Dan alasan terbesarnya begitu meragukan bisa melangkah lebih jauh pada hubunganya bersama Bian adalah karena adanya perbedaan status sosial pada keduanya yang begitu kerasa jelasnya bagi dirinya dengan Bian. Karena perbedaan itulah membuat Kinan merasa ragu untuk mempertimbangkan perasaannya.


"Jika aku menjawab iya, apa yang akan terjadi nanti? Apa semua akan baik-baik saja hanya dengan rasa suka?"


Kinan meyakini bahwa hubunganya bersama Bian tidak akan mudah, dengan status dirinya yang hanya bawahan dari Bian, ditambah hidupnya yang sebatang kara karena tak adanya keluarga membuatnya merasa yakin akan kekhawatiranya.


"Dan bukankah aku yang akan tetap merasa terluka nanti?" Ucapnya yang merasa akan sulit jika bersama Bian nanti.


...


Kinan yang seakan memberikan jarak pada Bian dengan perasaan sadar dirinya akan posisinya. Sedangkan Bian, yang baru saja merasakan perasaan mencintai seseorang dengan begitu tulus dan serius seperti ini, terlihat begitu frustrasi ketika mendapatkan penolakan dari orang yang ia sukai. Meski bukan kali pertama bagi dirinya mendapatkan penolakan dari orang yang ia suka, namun entah mengapa rasa sakitnya lebih menusuk kali ini.


"Aku hanya menyukainya, tapi mengapa begitu sulit untukku mendapatkan hatinya?"


Keluh Bian ketika membayangkan harus gagal lagi dalam percintaanya. Saat itu, ketika rasa ketertarikanya pada perempuan yang ia suka telah terasa dalam hatinya, yang ia harapkan hanya ingin lebih dekat dan bisa bersama denganya, namun ternyata mencintai seseorang tidak mudah bagi dirinya untuk mendapatkan hati dan perasaanya.


"Menikah?"

__ADS_1


Sejenak ia teringat akan perkataan yang dilontarkan oleh Kinan soal pernikahan. Ia terpaku, dan teremenung memikirkannya, mengingat hal itu belum pernah ada dalam bayanganya, maupun ia rencanakan sebelumnya.


"Kenapa aku tidak terfikirkan soal itu, ya?"


__ADS_2