Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
14. Puzzle 2


__ADS_3

Di dalam sebuah restauran jepang, Bian dan sekretarisnya tengah bertemu seorang klien guna membahas masalah kerjasama antar keduanya.


Perbincangan keduanya cukup serius namun tetap dengan suasana yang hangat. Cukup lama mereka berdiskusi hingga mencapai kata sepakat dari keduanya.


"Terimakasih atas waktu yang telah anda berikan." Bian mengulurkan tanganya pada klien tersebut.


Klien itu menyambut uluran tanganya. Keduanya pun saling melempar senyum setelah berakhirnya kesepakatan antar keduanya yang telah mencapai titik temu setelah memakan waktu yang cukup lama.


Klien tersebut pun pamit pergi dari hadapan Bian dan sekretarisnya.


"Kita mampir ke suatu tempat dulu ya sebelum balik ke kantor." Pintanya pada Dimas sang sekretaris.


"Baik." Jawab Dimas.


Keduanya melangkah keluar dari restauran setelah melakukan meeting dengan klien.


...


Di tengah keramaian kendaraan yang berlalu lalang, keduanya menuju ke lokasi yang Bian maksud.


Membutuhkan waktu 10 menit bagi keduanya sampai pada tempat tujuan mereka. Tempat itu tampaknya bukan sekali Bian datangi, mengingat ia yang langsung masuk begitu sampai disana.


"Maaf, anda mencari siapa ya?" Tanya salah satu pegawai perusahaan melihat sosok yang baru pertama kali dilihatnya itu.


"Ah.. Adelia Putri .."


"Bi.."


Sapa Adel dari kejauhan begitu melihat Bian. Teriakan Adel memotong perkataan Bian pada pegawai tersebut.


"Dia tamuku." Jelas Adel pada pegawai tersebut.


"Ah.. maaf saya tidak tau, kalau begitu saya permisi." Katanya sembari menunduk meminta maaf dan pamit pergi dari hadapan Bian dan Adel.


"Hey, kok tiba-tiba datang ke kantor sih? aku kan kaget waktu kamu telfon tadi.." Kata Adel sembari memeluk lengan Bian.


"Ah.. itu.., aku habis meeting ketemu sama klien dan kebetulan lokasinya dekat sama kantor kamu, jadi.. aku mampir deh." Jelas Bian.


"Oh gitu, yaudah mampir ke kantorku yuk."


"Em.., tunggu.." Bian menghentikan langkahnya. Ia menengok ke arah Dimas.

__ADS_1


"Kamu tunggu dimobil saja." Ucap Bian pada Dimas sang sekretaris.


"Baik." Balas Dimas lalu pamit pergi dari hadapan keduanya.


...


"Kamu bawa apa tuh?" Tanya Adel pada bingkisan yang dibawa oleh Bian sedari tadi.


"Ah.. ini, aku tidak sengaja beli kue dijalan tadi." Ucapnya sembari menyerahkan bingkisan yang berisi kue tersebut pada Adel.


"Wah.. ini kan kue kesukaanku, thanks ya.." Kata Adel merasa senang.


Bian tersenyum melihat ekspresi senang dari Adel.


"Oh iya, kamu ada urusan lain datang kesini?"


"Oh, aku perlu alasan ya buat datang kesini?"


"Ah.. bukan gitu maksudku, ini kan masih jam kantor, dan lagi kamu kan super sibuk." Sanggah Adel merasa kikuk sendiri.


"Aku cuma mampir kok, kebetulan tadi pertemuan klienku dekat sama kantormu." Jawab Bian. "Kemarin kamu pulang dengan aman kan?" Lanjutnya sembari duduk.


"Soal Adnan.." Bian terhenti sejenak.


"Dia punya kalung yang sama seperti punya kamu, apa kamu tau soal itu?"


"Kalung?" Adel menatap Bian bingung.


"Iya, kalung yg bandulnya gembok? kamu tidak ingat?"


Adel mencoba mengingat kembali soal itu.


"Ah.. kalung itu. Kalung waktu kecilku dulu?" Ingatnya kemudian. "Kenapa gitu?" Tanya balik Adel.


"Gapapa cuma agak mirip saja sama milik kamu."


"Oh ya? aku malah baru tau."


Bian menatap ekspresi Adel yang terlihat tak tahu soal kalung Adnan, dan dari ekspresinya terlihat jujur.


"Oh gitu.."

__ADS_1


Entah mengapa itu masih mengganjal bagi Bian, sedari kemarin setelah ia pulang dari taman ia tak berhenti memikirkan hal tersebut.


"Aku boleh tidak, pinjam kalung milik kamu?" Ucapnya kemudian.


Adel diam menatap Bian yang tampak aneh, ia bingung dengan sikapnya saat ini.


"Boleh sih, tapi buat apa memangnya?"


"Buat apa? em.. aku hanya mau pinjam aja, sekalian mau ganti rantai kalungnya juga, sudah kuno juga kan?" Balas Bian asal, karena sebenarnya tak ada niatan untuk mengatakanya tadi.


"Oh yaudah, tapi kalung itu gak aku bawa sekarang. Kalungnya ada di rumahku, jadi.. kamu harus datang ke rumahku kalau mau pinjam." Senyum Adel tak lagi mempermasalahkan sikap aneh Bian.


"Ke rumah ka..mu?"


"Iya, gimana?"


"Ok deh, nanti malam aku ke rumah kamu." Balas Bian setelah berfikir sejenak.


Adel tampak senang mendengar jawaban dari Bian.


...----------------...


Flashback


Kemarin malam, di dalam kamar Bian.


Dengan berbaring dan menatap kalung kunci tersebut, Bian mencoba mengingat kembali seputar kalung tersebut yang ada inisial sebuah huruf.


"K? K.. K... K.."


"Duh sial, aku gak ingat lagi." Gumamnya mencoba mengingat inisial dari huruf tersebut.


"Kenapa kalung ini masih aku simpan ya? aku masih ingat dikit, kalau ini ada hubunganya dengan panti asuhan itu, tapi.. kenapa aku gak ingat namanya?" Ucapnya frustrasi.


"Tapi, apa semua orang punya kalung ini ya?" Ucapnya yang tiba-tiba teringat dengan kalung milik Adnan dan milik Adel.


Semalaman Bian terjebak dengan perasaan kacau, karena frustrasi karena tak mendapat jawaban, ia lalu mencoba menutup matanya.


"Kinan.."


Ia terbangun dan tersentak begitu mengingat nama itu.

__ADS_1


__ADS_2