
Adel terpaku menatap kado yang diberikan oleh Bian, ia yang sudah bisa menebak kalau kado dari Bian adalah sebuah kalung, namun begitu melihat langsung ia jadi terdiam dan hanya terpaku memandanginya, mengingat bentuk kalung yang ia lihat sedikit berbeda dengan kalung yang pernah ia lihat dulu.
"Kalungnya agak berbeda sama yang waktu aku lihat." Ucapnya mengambil kalung hadiah pemberian dari Bian.
Meski bisa menebak hadiah dari Bian adalah sebuah kalung, namun entah mengapa tak langsung membuatnya merasa senang, mengingat bentuk kalungnya sedikit berbeda dari yang apa yang ia lihat saat berkunjung ke hotelnya yang ada di jogja. Hingga menimbulkan berbagai pertanyaan darinya yang merasa aneh saat mengingat tentang kalung waktu itu.
"Kalung yang kulihat waktu itu jadinya milik siapa dong?" Ucapnya penasaran.
Adel sekali lagi mengamati kalung pemberian Bian. Ia terus menatap kalung itu dengan berbagai pertanyaan dan mencoba mengingat-ingat kembali bentuk kalung yang pernah ia lihat dulu untuk membandingkanya dengan kalungnya saat ini.
"Aku emang nggak salah ingat, kalau kalung ini memang bukan kalung yang pernah kulihat saat itu." Ujarnya yang mulai yakin setelah memastikan kalungya lagi.
Adel yang mulai yakin dengan ingatanya saat itu, begitu yakin bahwa kalung pemberian dari Bian bukanlah kalung yang pernah ia lihat saat itu.
"Kenapa aku jadi kecewa begini, ya?" Gumamnya yang sedikit kecewa.
Tampaknya Adel sudah terlanjur menaruh harapan tinggi saat melihat kalung itu untuk pertama kalinya, hingga tak bisa membayangkan kalau model kalungnya akan berubah dan berbeda dengan yang pernah ia lihat saat itu.
"Tunggu, saat itu kan ada dua kotak yang ada di laci, mungkinkah kalung ini yang ada dikotak satunya itu, ya?"
Tiba-tiba saja ia mengingat sebuah kotak satunya lagi yang tersimpan di laci milik Bian yang ada dikamar hotelnya saat itu, dan beranggapan bahwa kalung pemberian dari Bian saat ini adalah kalung yang ada di dalam kotak satunya yang belum sempat ia buka.
"Tapi, kalau memang benar, kenapa kotaknya berubah?"
Kembali terhanyut dalam pikiran-pikiran yang membuatnya penasaran, Adel kembali mengingat lagi kotak satunya yang belum sempat ia buka karena keburu ada Bian. Namun, saat teringat kembali ia tersadar bahwa ada sedikit perbedaan dari kotaknya, karena yang ia ingat saat itu kotaknya terlihat sedikit agak usang dan sedikit lebih besar dari kotak kalung yang ia pegang saat ini.
"Apa kalung itu memang bukan untukku, ya? Karena itu Bian tidak memberikanya padaku? Tapi, kalau bukan untukku, lalu kepada siapa dia akan memberikan kalungnya?"
__ADS_1
Adel menatap curiga pada kalung yang diberikan oleh Bian untuknya, dan terbayang pada kalung yang pernah ia lihat saat itu juga.
"Kalaungnya terlalu muda kalau diberikan kepada mamanya, tapi kalau bukan pun, Bian akan memberikannya pada siapa?" Ucapnya penuh tanya, dan kembali menatap kalungnya dalam diam.
"Bukankah teman perempuanya hanya aku?" Ujarnya lagi masih cukup penasaran pada kalung milik Bian yang tak sengaja pernah ia lihat.
.....
Kalung yang ia maksud itu, nyatanya kini telah melilit dengan indah pada leher perempuan yang memiliki kisah penuh arti dalam hidup Bian. Kinan, yang semula tampak keberatan memakai kalung pemberian Bian, mencoba memakainya kembali.
"Kalungnya masih terlalu berlebihan untukku." Ucapnya ketika mencoba kembali kalung pemberian Bian yang terlihat masih berlebihan untuknya.
Kalung liontin dengan desain yang simple, setidaknya membuat kalung itu bisa dipakai dalam keadaan apapun, hingga membuat Kinan memutuskan untuk mencoba memakainya. Tak ada alasan khusus ia memakai kalungnya, ini hanyalah keinginannya untuk menghargai Bian yang sudah memberikanya sebuah hadiah.
"Harusnya kupakai saat berkunjung ke rumah orang tua kak Bian waktu itu."
"Sudah lebih dari jam 12 malam, mungkin kak Bian sudah pulang kerumah." Ujarnya kemudian saat melihat arah jam yang telah menunjukkan lebih dari jam 12 malam.
Membuat ia pun memutuskan untuk tidur, setelah sebelumnya yang terus terjaga karena menunggu kabar dari Bian yang sedang pergi ke pesta, terlebih karena berada ditempat yang berbeda juga membuatnya kesulitan untuk memejamkan kedua matanya.
Dengan perlahan, Kinan pun mulai memejamkan kedua matanya. Berbarengan dengan ia yang mulai memajamkan kedua matanya, Bian yang baru kembali dari pesta masuk kedalam apartemen tanpa ia sadari. Dengan perlahan mencoba mencari keberadaan Kinan yang tak terlihat.
"Apa dia sudah tidur?" Ucapnya begitu masuk kedalam apartemen.
Menatap kembali jam ditanganya, dan ia pun menyadari bahwa sudah lewat tengah malam dan jam tidur.
"Harusnya aku tau kalau dia pasti sudah tidur jam segini, tapi aku masih saja tetap menuju kesini." Ucapnya menghela nafas ringan, pada sikapnya yang justru memilih datang ke apartemen meski menyadari bahwa Kinan pasti sudah tertidur.
__ADS_1
Bian hanya menatap kamarnya tanpa mencoba masuk di dalamnya, karena ia tau Kinan pasti sudah tidur dan tak ingin mengganggunya terlebih mengagetkannya.
"Kalau aku kesana dia pasti akan kaget, terlebih kedatanganku yang terlalu tiba-tiba begini." Ujarnya mengacu pada Kinan yang ada dikamar.
"Sebaiknya aku pejamkan mataku sebentar, lalu pulang." Ucapnya yang mulai membaringkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan kedua matanya sejenak.
Karena terlalu lelah, Bian yang habis pulang dari pesta yang telah menghabiskan tenaganya mencoba mengisi kembali energinya dengan sejenak membaringkan tubuhnya, walaupun tanpa ia sadari apa yang harusnya ia lakukan sebentar itu nyatanya keterusan hingga pagi menyambutnya yang tertidur pulas.
.....
Denganya yang sedang tertidur pulas diatas sofa tentu membuat Kinan terkejut begitu turun dari kamar. Sampai mencoba memastikan lagi apa yang ia lihat itu benar adanya.
"Jadi, ini benar kak Bian." Ucapnya pelan setelah mencoba menyentuh pipi Bian yang sedang tertidur.
Kinan terpaku melihat Bian yang sedang tertidur, dan tanpa sadar jadi mengamati wajahnya yang sedang tidur.
"Apa kamu sudah puas menatap wajahku?" Bian yang bangun sontak membuat Kinan terkejut.
"Ah, itu.. maaf, saya tidak bermaksud menatap wajah anda yang sedang tertidur, tadi itu saya..." Kinan yang panik karena ketahuan menatap wajah Bian yang sedang tertidur menjadi kelabakan sendiri dan mencoba membela diri.
Bian yang mulai bangun, tersenyum melihat Kinan yang mencoba mencari alasan.
"Tadi itu saya hanya mencoba memastikan kalau itu beneran kak Bian, soalnya..."
"Ok, aku mengerti kamu tidak perlu merasa bersalah." Bian menarik tubuh Kinan dalam pangkuanya, dan aksinya itu membuat Kinan akhirnya menghentikan kalimatnya karena terlalu terkejut.
Ada keheningan saat kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1