Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
36. Goresan Kecil Di Hati


__ADS_3

"Kak, bagaimana rasanya punya orang tua? Ucap gadis kecil itu dengan wajah penuh rasa penasaran. "Aku sangat ingin punya orang tua seperti kakak." Sambungnya dengan penuh harap.


"Rasanya ya.. biasa saja." Kata Bian agak bingung untuk menjawabnya.


Namun, karena kalimat itu membuat seorang Bian lebih bisa menghargai kedua orang tuanya yang sebelumnya sangat sulit baginya untuk dekat, mengingat sifat kaku kedua orang tuanya. Kinan, membuat seorang Bian menghargai keberadaan orang tuanya.


Perlahan Bian mulai mengingat kepingan-kepingan interaksinya bersama Kinan, yang tak lain adalah teman gadis kecilnya dulu. Setelah berkutat pada perasaan galau dan dilemanya, kini Bian berfikir bahwa hanya akan fokus pada apa yang tengah dilakukanya sekarang. Semalaman dia memikirkan hal itu di apartemen miliknya.


Dia memutuskan kembali ke jogja setelah memastikan perasaanya dan berfikir semalaman. Kali ini dia kembali seorang diri tanpa ditemani oleh Dimas. Dia memilih berangkat malam dini hari dengan seorang diri. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran dengan datang lebih awal.


Datang lebih awal dari jadwal, Bian tiba di hotel setelah lebih dari 1 jam perjalanan udara. Begitu sampai, dia langsung masuk begitu saja ke dalam hotel yang masih terlihat sepi karena masih dini hari. Namun, di dalam hotel masih ada beberapa staff hotel yang tengah bertugas.


Melihat orang yang mereka kenal, membuat beberapa staff hotel yang tengah bertugas terlihat kaget. Mereka menyapa dan hendak mengantar Bian kembali ke kamarnya. Namun, dengan segara Bian meminta mereka untuk kembali bekerja dan menghiraukanya, karena dia sudah memiliki kunci kamarnya sendiri.


"Tidak perlu diantar, aku bisa pergi sendiri. Kalian kembali bekerja saja." Ucapnya pada salah satu petugas hotel, lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka.


Semua manut dan tak membantah perkataan pemimpinya itu. Begitu langkah Bian menjauh dari hadapan mereka, semua saling berbisik perihal kedatangan Bian yang tiba-tiba itu.


"Bukanya beliau baru pergi kemarin, ya?" Ucap salah seorang staff hotel bagian resepsionis, pada rekan disampingnya.


"Benar, kok beliau sudah kembali, ya? mana tengah malam begini?" Jawab rekanya yang juga merasa heran.


"Eh, tapi dia datang sendiri kan, tadi?


"Lho iya juga ya. Aku tidak melihat pak Dimas bersamanya."


Keduanya saling pandang karena merasa bingung, mengingat Dimas selalu ada disamping Bian kemanapun dia berada.


...


Bian masuk dengan mudah ke dalam kamarnya miliknya. Kamar yang sengaja di kosongkan untuknya dan disiapkan khusus untuknya.


Hal pertama yang dia lakukan setelah masuk ke dalam kamarnya adalah dengan menghubungi Dimas.

__ADS_1


"Dim, aku sudah sampai di jogja. Kamu besok saja nyusulnya kesini. Tidak usah buru-buru." Kata Bian dari seberang telfon pada Dimas, yang tengah mengangkat telfonnya dengan ekspresi terkejut.


Hanya kalimat singkat itu yang keluar dari mulut Bian pada Dimas, yang hingga kini masih membuat Dimas terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Bian di tengah-tengah tidurnya. Di dalam kamarnya, dia mencoba mengecek jam di ponselnya, yang ternyata masih menunjukkan pukul 4 pagi.


"Beliau bilang sudah sampai di jogja?" Ucap Dimas masih rada bingung.


Dengan mata yang masih setengah terbuka, dia mencoba kembali mencerna apa yang dikatakan oleh Bian tadi padanya.


"Apa yang membuat beliau merubah jam terbangnya?." Ucapnya lagi.


Dimas mulai bangkit dari tidurnya, dan tak lagi bisa tertidur karena kabar tersebut. Dengan perlahan ia bangkit dari ranjangnya, lalu duduk ditepi ranjangnya sejenak untuk mengumpulkan kembali jiwa yang masih setengah tersadar.


...


Di sebuah tempat yang berbeda dan juga lokasi yang berbeda memperlihatkan Bian yang sudah tak lagi merasa asing dengan tempatnya. Dia sudah mulai bisa berdaptasi dan terbiasa dengan tempatnya.


Jelang matahari muncul, Bian hanya berdiam diri di dalam kamarnya semenjak kedatanganya. Dia berkutat pada pekerjaan seperti biasanya tanpa perduli hari masih pagi dan dia yang baru tiba dari sebuah perjalanan.


Entah kenapa, dia seperti sedang lari dari suatu masalah. Dia tak banyak bicara, ekspresinya datar tanpa rasa, hingga matanya yang terlihat menahan kesedihan.


Perpustakaan, menjadi tempatnya berlabuh. Dia berputar sedikit sebelum menjatuhkan pada sebuah buku dan mengambilnya kemudian, lalu membacanya buku tersebut di dekat jendela.


Sembari menghirup udara pagi yang masih terlihat petang itu, Bian fokus membaca sebuah buku dengan beberapa kali terdiam menatap lembaran buku tersebut. Meski badanya ada disana, entah mengapa jiwanya seperti tertinggal disuatu tempat.


"Apasih yang kulakukan disini?" Gumamnya bingung pada sikapnya sendiri.


......................


Ting tong ... Sebuah bel berbunyi dari salah satu apartemen. Terlihat seorang perempuan dengan penampilan cantiknya, tengah berusaha memanggil pemilik apartemen. Namun, setelah beberapa saat dia menekan bel apartemenya, tak ada sahutan maupun jawaban dari pemilik apartemen, hingga akhirnya dia memilih untuk menekan kata sandinya sendiri untuk segera masuk ke dalam apartemen milik temanya itu.


Ia masuk dengan santai dan mencoba mencari sosok temanya tersebut. Ia bahkan masuk ke dalam kamarnya, setelah menaruh makanan yang telah dia bawa di atas meja.


Namun, tak ada seorangpun di dalam kamar tersebut, meski sudah di caripun hasilnya tetap sama, kosong.

__ADS_1


"Bian kemana, ya?" Ucap tamu tersebut, yang tak lain adalah Adel, yang tengah mencari keberadaan Bian di apartemenya sekarang.


Adel merasa bingung melihat Bian tidak berada di dalam apartemenya, mengingat hari masih pagi, yakni pukul 6 pagi. Dia sengaja datang pagi karena ingin bertemu dengan Bian sebelum keberangkatanya kembali ke jogja.


"Apa dia lagi lari pagi, ya? makanya tidak ada di dalam kamarnya?" Ucapnya lagi, menebak keberadaan Bian sekarang. "Aku tunggu, saja kali, ya?" Lanjutnya, lalu mencoba duduk dan menunggu kedatangan Bian.


Belum lama ia duduk, suara pintu apartemen terbuka membuat Adel sontak berdiri dan mencoba menghampirinya. Dia setengah berlari, namun ekspresinya terkejut ketika melihat siapa yang datang. Bukan Bian seperti yang di harapkan, namun Dimas asisten dari Bian itu sendiri.


Keduanya sama-sama membuat ekspresi terkejut, hingga menciptakan suasana canggung.


"Kamu datang sendiri?" Tanya Adel pada Dimas yang tengah berdiri di depanya. "Dimana Bian?" Tanyanya lagi sembari mencari sosok Bian.


"Maaf, itu.. pak Bian sudah berangkat ke jogja." Jawab Dimas.


"Sudah berangkat kamu bilang?" Kaget Adel. "Kapan? tapi, kok kamu masih disini?"


"Dini hari tadi beliau berangkatnya. Saya masih berada disini, karena masih ada hal yang harus saya lakukan." Balas Dimas.


Adel terpaku begitu mendengarnya, dia tak percaya kalau Bian pergi meninggalkanya tanpa pamit padanya dulu.


"Maaf saya harus ke kamar pak Bian untuk mengambil sesuatu." Kata Dimas pada Adel.


"Kamu..., kapan rencananya kamu akan ke jogja?" Tanya Adel lagi.


"Karena masih ada hal yang saya urus disini, sepertinya masih agak siangan."


Tak banyak kata yang diucapkan oleh Adel setelah mendengar penjelasan dari Dimas. Dia pergi begitu saja dari hadapan Dimas tanpa pamit, hingga membuat Dimas merasa bingung sendiri.


Diluar apartemen, terlihat Adel keluar diliputi dengan berbagai pertanyaan dan rasa gelisah terhadap situasinya sekarang.


"Bian tidak pamit sama aku..." Ucapnya dengan penuh kesedihan.


Adel mencoba menelfon Bian, namun tak ada jawaban disana hingga membuat Adel gelisah.

__ADS_1


"Dia tidak pernah mengabaikan telfonku, sebelumnya." Ucapnya lagi menatap layar ponselnya dengan ekspresi gelisah melihat perubahan kecil dari Bian.


__ADS_2