
"Kamu tidak lagi menghindariku, kan?" Dengan muka cemberut, Adel merajuk pada Adnan yang ia temui lagi setelah 2 hari susah untuk dihubungi. Keduanya memilih kafe sebagai tempat pertemuan mereka, karena suasananya yang santai.
"Masa aku jauhin kamu, sih, ya nggak lha." Sangkal Adnan dengan senyuman tipis pada sudut bibirnya.
"Aku sedih tau, semakin lama kita jadi sering berjauhan. Anehnya nih, kenapa lebih nyaman saat di amerika dibanding disini, ya?." Cemberut Adel.
Adnan terdiam, dan sedikit setuju dengan perkataan Adel. "Kita kan sibuk dengan karir masing-masing, jadi wajar kalau susah untuk ketemu, tapi meski sibuk kita masih bisa bertemu kan?, yah.. meski tidak seintens dulu sih." Sambungnya kemudian.
"Kita terpisah dengan Bian lebih dari 2 tahun lho!." Tekan Adel pada kalimatnya. "Meski ada komunikasi disana, tapi kita sama sekali sulit untuk bertemu denganya, dan saat itu aku benar-benar marah sama Bian, kenapa dia lebih mementingkan Bisnisnya coba?" Ungkap Adel dengan nada penuh kekesalan.
"Itu kan karena Bian tidak bisa melawan keluarganya, dia sebagai penerus pasti memegang beban yang berat untuk itu." Kata Adnan mencoba memberi pengertian pada Adel dengan kesibukan Bian.
"Nah itu, memangnya dia anak kecil apa harus selalu nurut? Dia kan bisa luangkan waktunya sejenak buat ketemu sama kita, sekarang lihat? Dia malah pergi ke jogja?" Kesal Adel. "Padahal aku udah seneng banget lihat dia pulang." Sambungnya dengan agak murung.
"Kamu marah karena Bian tidak ada disini?, atau karena Bian yang harus pergi lagi?"
"Dua-duanya," Jujur Adel. "Bagaimana bisa dia pergi meninggalkan aku setelah menyatakan perasaanya coba? Kamu pikir itu hal yang wajar?" Kesal Adel dengan sedikit menahan kesedihan. "Dan sekarang dia melakukanya lagi, aku kan jadi bingung." Lanjutnya merasa frustrasi.
Aku harus menghiburnya apa? Aku sendiri juga butuh dihibur sekarang. - Adnan hanya diam menatap kekesalan Adel.
"Apa sebenarnya kamu menyukai Bian?" Tanyanya pada Adel.
"Aku.." Adel terdiam mencari jawabanya.
Suka? Sebenarnya rasa suka itu seperti apa? - Adel hanya bisa memendamnya sendiri dalam hati, tak bisa menjabarkannya secara detail pada Adnan maupun pada dirinya sendiri.
...
Adel merenung sendirian di dalam kamar, pertemuanya tadi dengan Adnan benar-benar membuatnya ternenung, ditambah dengan perkataan dari mamanya. Obrolanya dengan Adnan kembali teringat. Ada kecanggungan disana, tak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu tampak santai dan bersahabat.
"Nan, kamu tau kalau sebenarnya aku begini karena sayang sama kalian, kan?" Ucapnya.
"Aku tau." Angguk Adnan.
"Karena itu, aku benar-benar bingung sekarang." Kata Adel dengan ekspresi bingung. "Bisa tidak, hubungan kita terus seperti ini? Aku benar-benar tidak mau kehilangan kalian berdua?." Ucap Adel berharap.
__ADS_1
Adnan diam, mencerna kembali perkataan yang keluar dari mulut Adel sekarang, "Apa itu jawaban dari kamu buatku?" Ucapnya kemudian pada Adel.
"Ha!" Adel bingung dengan maksud Adnan.
Adel tersadar kemudian pada maksudnya itu, "Ah, itu.., yang aku maksud itu, aku tidak mau jauh dari kalian berdua hanya karena hal seperti ini. Aku benar-benar berharap hubungan kita tetap baik seperti dulu." Jawabnya yang mulai tersadar arah pembicaraan yang dimaksud oleh Adnan.
Seperti dulu? Apa itu bisa?
Adnan sedikit meragukan hal itu. "Aku tidak merasa hubungan kita jauh, masih sama seperti dulu, kok. Soal jarang bertemu, rasanya wajar karena kita sama-sama sibuk." Ungkapnya dengan tenang.
"Kamu dan Bian beberapa hari ini sulit dihubungi, apa kamu pikir aku tidak cemas dengan itu? Aku sempat khawatir lho kalian berdua menjauhiku, karena... " Adel terdiam sejenak, "Karena ungkapan perasaan dari kalian berdua padaku waktu itu." Lanjutnya dengan nada pelan.
Adnan mengerti maksud peekataan dari Adel, ia sedikit mengerti dengan ke khawatiranya.
"Kita berdua tidak akan pernah menjauhi kamu Del, masa kamu bisa berpikir seperti itu, sih? Kemarin soal aku yang sulit untuk dihubungi itu, karena aku memang lagi sibuk aja. Jadi, kamu tenang saja, hal seperti itu tidak akan terjadi." Jawab Adnan menenangkan.
"Ya habisnya, sikap kalian tiba-tiba berubah akhir-akhir ini, aku kan jadi sedih." Kata Adel menatap Adnan dengan sedikit ngambek.
"Nggak mungkin lha kita jauhin kamu, masa cuma gara-gara ini kita berjauhan? Kemarin itu, aku benar-benar lagi sibuk, dan mungkin Bian juga sama." Jelas Adnan.
"Beneran? Kamu gak bohong, kan?"
Maaf, aku terpaksa bohong sama kamu, karena kemarin aku sedang menenangkan diriku sejenak.
Adnan tak bisa menceritakan soal ia yang sempat menghindar dari Adel, karena tengah menenangkan diri. Obrolannya dengan Bian, membuatnya tersadar dan tak berlarut lagi, mencoba untuk mengikuti arus kenyataan yang ada.
...
Dalam kamarnya, Adel kembali melihat isi ponselnya yang berisi panggilan terakhirnya bersama Bian beberapa menit yang lalu. Ia menatapnya penuh lekat pada daftar panggilan terakhirnya bersama Bian.
"Kenapa saat dia dekat denganku, terasa semakin jauh, ya? Dan kenapa saat dia jauh, justru terlihat begitu dekat?" Gumamnya melihat kesulitannya untuk menghubungi Bian selama di jogja, tak seperti waktu di kanada dulu.
"Dia gak berusaha untuk menjauhiku, kan?" Ucapnya menatap penuh curiga dan rasa khawatir. "Ah, tidak mungkin Bian menjauhiku, ini pasti karena dia benar-benar sibuk saja." Ucapnya tak terlalu memikirkan dan percaya pada hubungan persahabatan mereka selama ini. "Aku sudah bicara sama Adnan, sekarang aku harus berbicara pada Bian jika bertemu nanti." Tutupnya, dan tak lagi memikirkannya.
Malam semakin larut, Adel pun memilih membaringkan tubuhnya, tak lagi memikirkan hal yang dicemaskannya sedari tadi.
__ADS_1
"Aku akan mempercayai ucapan Adnan." Tutupnya lalu mencoba membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya.
Meski sempat dilema dengan perkataan mamanya, Adel merasa terhibur setelah bertemu dengan Adnan, dan menghilangkan sedikit kecemasanya.
......................
"Pagi, Ma." Sapa Adel pada mama yang tengah menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Pagi sayang." Balas Risa pada putri semata wayangnya itu.
"Tumben kok sudah siap, memangnya hari ini ada janji?" Tanya Risa melihat Adel berpakaian rapi dan siap untuk berangkat kerja.
"Nggak kok," Elak Adel. "Biasanya juga begini, mama suka bercanda aja nih." Balas Adel mulai duduk.
"Habisnya, anak mama cantik banget hari ini." Goda Risa.
"Wah benar, anak papa cantik banget. Mau kencan nih? Tapi, ini bukan weekend?" Celetuk Rudy ikut menimpali.
"Dasar, mama sama papa nih, sukanya bercanda aja deh. Adel mau makan nih, soalnya harus segera berangkat ke kantor." Ucap Adel merajuk pada kedua orang tuanya yang tengah meledeknya.
Risa dan Rudy terlihat tersenyum melihat anaknya yang ngambek karena candaan mereka.
"Yasudah kita makan aja kalau begitu." Ucap Risa mulai memberikan makananya pada Adel di atas piring makanya.
"Terimakasih, Ma." Ucap Adel menerima piring dari mamanya.
"Oh iya, gimana yang kemarin? Apa kamu sudah menemukan jawabanya?" Tanya Risa kemudian.
"Kemarin? Jawabanya?" Rudy terlihat bingung dengan maksud dari istrinya. "Memangnya ada apa dengan kemarin, kok papa tidak diberi tahu sih?" Cemberut Rudy.
"Papa ini suka ikut campur aja, aku lagi tanya sama Adel tahu.." Timpal Risa dengan memberi peringatan kecil pada suaminya.
"Apanih, ayo kasih tahu papa." Kata Rudy sedikit mendesak Adel.
"Ih Papa sama Mama kepo. Aku berangkat ke kantor sajalah." Ucapnya selesai makan dengan cepat. "Aku pergi dulu Ma, Pa." Lanjutnya lagi dan pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Rudy melirik pada istrinya, tanda meminta penjelasan.
"Ih.. Papa kepo deh."