
Kinan kembali ke dalam hotel setelah keluar sebentar untuk berbicara dengan Bayu. Terlihat matanya masih memerah setelah menangis tadi, bahkan pipinya masih lembab karena air matanya.
"Aku tidak tahu bakal menangis tadi." Ucapnya mencoba mengusap-usap pipinya yang tadi basah karena air mata. "Apa karena saking kangenya ya aku sama orang tua mas Bayu." Ucapnya lagi mengacu pada kedua orang tua Bayu yang telah lama tidak ia temui.
Tak berlarut dalam kesedihanya, Kinan kembali ke tempat kerjanya, dan melakukan pekerjaanya yang sempat ia tinggal tadi.
"Hey, jangan mentang-mentang kamu manajer disini, jadi bisa seenaknya keluar begitu ya, apalagi di jam kerja begini." Celetuk Shiva menghampiri Kinan dengan ekspresi tak suka.
"Aku tahu, aku minta maaf soal itu, tadi aku terlalu khawatir sama orang tua kenalanku,yang sudah seperti keluarga bagiku, karena itu aku jadi terburu-buru keluar tanpa bilang sama kamu tadi." Jelas Kinan menyadari kesalahanya. "Lagian tadi juga tugasku sudah selesai kulakukan, dan aku keluar setelah memastikan semua sudah beres aku kerjakan, meski ada sedikit yang belum selesai, tapi masih bisa aku handle." Jelasnya lagi.
Shiva yang mendengarnya jadi kehilangan kata-kata, ia mendecak kesal menatap Kinan.
"Artinya kan belum kamu kerjakan semua? Lain kali hati-hati dong, gak bisa jadi contoh yang baik banget sih buat yang lain." Sarkas Sviva menatap Kinan dengan penuh kebencian.
"Baiklah, terimakasih karena sudah mengingatkan, akan aku ingat perkataanmu tadi." Balas Kinan tak lagi memperpanjangnya, mengingat ia juga sadar sempat meninggalkan pekerjaannya.
Karena setelah melihat Kinan yang langsung meminta maaf padanya, membuatnya jadi kehilangan kesempatan untuk mengumpat pada Kinan. Tak banyak kata lagi, Shiva langsung pergi dari hadapan Kinan begitu saja.
"Sumpah ya, aku benar-benar gak suka sama dia." Gumamnya dengan kesal meninggalkan Kinan.
...
"Mbak, aku lihat seseorang lagi ngobrol sama mbak lho tadi, apa dia pacar mbak Kinan?" Tanya Aura yang merupakan salah satu rekanya, dalam perjalanan pulang bersama Kinan.
"Ngobrol? Kapan?" Kata Kinan mencoba mengingatnya. "Oh yang tadi siang itu," Ingatnya kemudian. "Dia bukan pacarku, tapi mantan kakak senior di kampusku dulu." Jawabnya kemudian.
__ADS_1
"Kakak senior apa pacar nih? Aku lihat kalian cukup dekat lho tadi, mana mesra lagi.." Goda Aura.
Kinan hanya bisa tersenyum mendengar godaan Aura padanya, "Dia udah punya pacar ya." Balas Kinan, yang langsung membuat Aura jadi lemes.
"Yah sayang banget, padahal ganteng lho." Ujarnya menyayangkan.
"Memangnya kamu lihat dia dari dekat? Kok bisa tahu aku ngobrol sama mas Bayu tadi? Dan tau dari mana kalau dia ganteng coba?" Tanya Kinan sedikit mengintrogasi.
"Aku kan tau tipe orang ganteng, yah meski dari jauh pun pasti kelihatan lha kalau dia itu ganteng." Jawab Aura dengan penuh percaya diri. " Eh, tadi namanya Bayu ya? Bagus juga ya namanya, seperti orangnya." Kagum Aura sembari senyum-senyum sendiri.
"Dasar kamu ini, sudah sana pulang, udah di tungguin tuh sama pacarmu." Ucap Kinan pada Aura yang tak berhenti untuk menggodanya.
Begitu mendegar kata dari Kinan, Aura pun melihat ke arah pacarnya yang tengah menunggu dirinya, "Ok deh, sampai besok lagi mbak Kinan." Seru Aura sembari berlari menuju ke arah pacarnya. "Wah aku lupa bilang, kalau aku tadi mengambil foto mereka, karena kukira mereka couple, taunya bukan. Sayang banget, padahal niatnya mau ngecengin mereka." Ucapnya lagi yang agak sayang, dan sudah agak menjauh dari hadapan Kinan.
...
"Mas Bayu, maaf kalau lama." Ucap Kinan setengah berlari menghampiri Bayu.
"Jangan lari, santai saja. Tapi, aku gak terlambat buat jemput kamu, kan?" Tanya Bayu.
"Ah, enggak kok. Aku juga kebetulan baru pulang kerja, tapi mas sebenarnya tadi gak usah dijemput juga gapapa, lagian aku juga bukan pertama kali datang kesana." Ujar Kinan merasa tak enak.
"Gapapa sekalian kita ngobrol berdua, kan sudah lama juga kita gak ketemu, nanti kamu dirumah pasti kamu banyak ngobrol sama orang tuaku." Ungkap Bayu.
Kinan tersenyum, seolah membenarkan hal tersebut, "Iya juga sih. Tapi, apa mas Bayu sudah bilang sama Intan?" Tanya Kinan penasaran.
__ADS_1
Bayu terdiam sejenak, "Sudah kok, kamu tenang saja. Mending kita langsung berangkat saja gimana.?" Kata Bayu yang meminta Kinan untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Meski ada sedikit kecanggungan buat Kinan, karena sudah lama tak bertemu, namun dibanding dengan pertemuan terakhir mereka, hari ini jauh lebih nyaman.
"Hari ini mas Bayu tidak ada praktek?" Tanya Kinan pada Bayu yang kebetulan seorang dokter itu.
"Ada pasti, tapi karena hari ini aku ingin pulang cepat, jadi sekarang aku menyelesaikan tugasku dengan cepat." Jawab Bayu yang juga tetap fokus pada menyetirnya.
"Ibu sama bapak mas Bayu apa sudah baikan sekarang?"
"Sudah agak mendingan, mereka kemarin ngedrop karena kecapean saja dan gula darah mereka sedikit naik. Tapi sejauh ini tidak ada masalah apa-apa." Jelas Bayu dengan tetap fokus pada menyetirnya.
"Nanti kamu lihat sendiri deh. Tapi, kamu tau gak, saat aku bilang kalau kamu mau datang kerumah, respon dari mereka tuh senang banget bahkan sampe nangis, yah sama lah seperti kamu tadi siang yang menangis waktu aku bilang kalau ibu bapak kangen sama kamu." Ujar Bayu melirik sekilas ke arah Kinan, karena ia yang juga harus fokus pada menyetirnya.
Kinan terdiam mendengarnya, entah mengapa dia merasa terharu, namun juga merasa malu pada mereka, karena telah lama tak mampir kerumah.
"Aku senang banget, padahal aku sempat khawatir kalau bapak sama ibu mas Bayu bakal marah atau kecewa sama Kinan." Ucap Kinan mengacu pada dirinya yang telah lama tak mampir.
"Enggak lah, mana mungkin mereka kecewa sama kamu, yang ada mereka malah mereka senang ketemu sama kamu." Ucap Bian menenangkan.
Saat sampai dirumah Bayu, ada rasa kehangatan yang sangat ia rindukan dari keluarga besarnya. Sambutan hangat dan pelukan hangat dari mereka begitu menggetarkan hati Kinan yang tak memiliki seorang keluarga, karena itu dia selalu merasa senang jika berada di tengah-tengah keluarga Bayu yang selalu menyambutnya dengan baik. Kinan seolah pulang kerumahnya sendiri.
"Maaf pak, buk, Kinan udah lama gak mampir kesini, kabar bapak sama ibuk baik, kan?"
"Dasar anak ini, kenapa baru datang sekarang?" Pukul dengan pelan dari ibu Sarmi, yang merupakan ibu dari Bayu, yang nampak begitu menyayangi Kinan.
__ADS_1
"Ayo masuk saja, dingin diluar." Timpal pak Wage, ayah Bayu.