Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
56. Berita Buruk


__ADS_3

Pagi hari, pukul 7 pagi, Kinan sudah kembali masuk kerja seperti biasanya. Ia juga sudah prepare tentang persiapan meetingnya nanti bersama dengan Bian dan Dimas. Moodnya terlihat baik hari ini, karena terlihat banyak tersenyum dalam ekpresi wajahnya.


"Wah ada apa ini? Kok mbak Kinan kelihatan seneng banget hari ini?" Tanya Aura begitu lewat di depan Kinan, dan tengah memperhatikan ekspresi dari wajah Kinan yang tampak cerah.


"Oh Aura, kamu sudah datang. Aku gak ada apa-apa tuh, hanya senang saja menyambut pagi hari yang indah ini." Jawab Kinan memasang ekspresi senang dan sedikit meledek Aura.


"Irinya, pasti ada hal baik kan yang terjadi sebelum berangkat kesini?" Tebak Aura dengan penuh rasa penasaran.


"Gak ada tuh, ini kan sudah hal yang biasa aku rasakan." Pede Kinan.


"Eeiyy, bercandanya lucu banget ya." Ucap Aura dengan memasang ekspresi menyelidik, dan tampang tak percayanya melihat kepercayaan diri dari Kinan hari ini.


"Dasar kepo, sudah sana kerja." Kata Kinan, dengan sedikit bercanda mencoba mengusir Aura.


"Baiklah ibu manajer, kalau begitu saya mau ketempatku dulu ya, tapi nanti jangan lupa bagi-bagi ya bahagianya." Celetuk Aura dengan sedikit menggoda Kinan.


Kinan tersenyum mendengar candaan itu, "Dasar, keponya itu lho gak pernah berubah. Tapi, apa emang kelihatan banget ya muka bahagiaku sekarang?" Ucapnya sembari menyentuh wajahnya dengan kedua tanganya. Tiba-tiba saja ia tersenyum karena mengingat hal yang sudah membuatnya tak bisa berhenti untuk tersenyum hari ini.


Dan sepertinya alasanya itu karena kemarin baru datang kerumah Bayu, karena terlihat jelas dalam ekspresinya.


"Kerja sajalah." Ucapnya tak lagi perduli dan mencoba fokus pada pekerjaanya kembali.


...


Saat tengah mempersiapkan materi dan hal-hal yang diperlukan untuk meeting nanti, Kinan dikejutkan oleh Dimas yang menyuruhnya untuk segera datang kedalam ruangan meeting bersamanya, karena ada pernintaan dari Bian sebelumnya. Tampaknya Bian ingin memajukan waktu meetingnya, yang semula dijadwal akan pukul 10 pagi, menjadi lebih cepat 2 jam, yaitu pukul 8 pagi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pak, hingga memajukan waktu meetingnya?" Tanya Kinan pada Dimas saat hendak masuk kedalam ruangan meeting mereka bersama Bian.

__ADS_1


"Pak Bian sedikit ada masalah dalam kesehatannya, karena itu sepertinya beliau memajukan karena ingin bisa beristirahat setelah ini." Jawab Dimas.


"Eh, pak Bian sakit? Kenapa tidak ditunda saja kalau begitu? Tidak harus memaksakan juga, kan?" Timpal Kinan tampak terkejut mendengar kabar soal keadaan Bian yang tampak tak sehat.


"Saya sudah bilang seperti itu pada beliau tadi, kalau meetingnya bisa ditunda, tapi beliau tidak mau meetingnya ditunda, katanya sih sakitnya tidak terlalu serius begitu, jadi masih bisa melakukan meeting hari ini. Lagipula ini bukanlah yang pertama bagi beliau menahan rasa sakit seperti ini, meski sedikit aneh dan sedikit memaksakan diri, namun begitulah beliau, yang seorang workaholic." Jelas Dimas, yang sangat mengenal sosok pimpinannya itu.


Kinan juga tampak setuju dengan penuturan Dimas seputar Bian yang seorang workaholic. Kinan faham betul bagaimana workaholicnya seorang Bian, meski baru beberapa hari dia mengenal seorang Bian, dia sedikitnya faham akan hal itu mengingat Bian yang selalu fokus pada pekerjaanya, bahkan tak jarang melewatkan jam makanya.


"Eh, ini sih menurutku tidak baik-baik saja." Batin Kinan yang tampak terkejut melihat muka pucat dari Bian, setelah ia masuk ke tempat meeting bersama Dimas.


"Ada apa? Kamu tidak duduk?" Kata Bian yang melihat Kinan terus berdiri semenjak kedatanganya.


"Ah, iya maaf." Kinan pun tersadar dari termenungnya setelah mendapat panggilan dari Bian, lalu dengan segera dia mencari tempat duduknya. Dan meeting pun dimulai setelah ia duduk.


...


Kinan merasa salah fokus pada wajah Bian yang terlihat pucat, hingga terkadang memalingkan sedikit perhatianya pada meetingnya saat itu, meski ia harus terus fokus pada meetingnya. Seperti ada rasa khawatir disitu setiap kali melihat wajah Bian yang pucat, namun ia tak berani untuk sekedar bertanya pada Bian, hingga yang bisa ia lakukan hanya bisa meperhatikanya saja dari jauh.


"Apa beliau tidak apa-apa ya? Wajahnya pucat banget, dan sepertinya ini bukan biasa aja deh." Kinan hanya bisa membatin pada kondisi Bian yang dilihatnya hari ini.


Meeting pun akhirnya selesai setelah hampir satu jam lebih mereka berkutat pada hal yang perlu dibahas dalam meeting hari ini, terutama soal perkembangan hotel kedepannya.


"Kalau begitu kami permisi dulu pak." Ucap Dimas kemudian setelah memastikan semuanya selesai dan membersihkan barang-barang miliknya yang ia bawa dalam rapat hari ini. Ia dan Kinan pamit pada Bian untuk keluar.


"Iya, terimakasih untuk hari ini." Balas Bian pada keduanya.


Saat keluar dari ruangan meeting bersama Dimas, tampaknya Kinan tak berhenti memalingkan wajahnya pada Bian. Ia sesekali melirik ke arahnya, seakan khawatir dengan kondisi Bian.

__ADS_1


"Pak, sepertinya kondisi pak Bian tidak baik-baik saja lho, dia pucat banget tadi. Apa anda tidak memperhatikanya?" Tanya Kinan tiba-tiba, yang mencoba menghentikan langkah Dimas.


Dimas menoleh kaget pada Kinan yang tiba-tiba saja menyentuh lenganya, ia terdiam sejenak untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kinan, "Apa anda khawatir sama beliau?" Tanya Dimas kemudian.


"Iya. Saya sedikit khawatir setelah melihat wajahnya yang pucat. Apa anda tidak menghawatirkan kondisi beliau?" Jawab Kinan dengan tegas tanpa keraguan.


Dimas terdiam, dia seolah terpaku melihat kejujuran dari Kinan, dan tampak terkejut dengan hal yang baru dia dengar selama melayani Bian.


"Itu.. Maaf." Kinan dengan segera melepaskan tanganya yang tengah memegang lengan Dimas ketika melihat ekspresi Diam dari Dimas. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan saya tadi?" Tanya Kinan lagi, karena melihat Dimas yang hanya diam dan terus saja menatapnya.


"Tidak ada, hanya saja ini hal yang baru bagi saya, karena selain saya, baru pertama kali ini saya mendengar orang yang begitu menghawatirkan kondisi pak Bian ." Jawab Dimas kemudian dengan sedikit senyuman pada sudut bibirnya.


"Eh, masa sih?" Tak percaya Kinan, "Ini kan bukan suatu hal yang baru, kan wajar jika bawahan menghawatirkan bosnya." Jawab Kinan lagi.


"Menurutku sih itu tidak biasa, karena sebagian besar bahawan tak terlalu perduli dengan kondisi pemimpinnya, karena sebagian besar menganggap itu bukan urusan mereka. Terimakasih sudah menghawatirkan beliau, anda tidak usah khawatir soal itu, karena saya sudah menyiapkan kebutuhan beliau tadi." Jelas Dimas merasa takjub dengan Kinan, dan menenangkan Kinan agar tak khawatir akan kondisi Bian, karena dia yang sudah dengan sigap menyiapkan obat dan vitamin untuk Bian.


"Ah begitu, maaf saya lupa kalau anda asisten beliau, anda pasti lebih tau dan perduli soal kondisi pak Bian. Terimakasih penjelasanya, saya hanya merasa khawatir tadi setelah melihat wajah beliau." Ucap Kinan merasa lega mendengarnya setelah mendengar penjelasan dari Dimas.


"Iya tidak apa, kalau begitu saya pergi duluan ya, soalnya ada hal yang harus segera sya urus." Pamit Dimas pada Kinan.


Kinan mengangguk sopan pada Dimas, dan ia pun kembali melanjutkan langkahnya.


"Aku lupa kalau beliau asisten pribadinya, bisa-bisanya aku tanya apa beliau tidak khawatir tadi, dasar Kinan." Rutuknya pada dirinya sendiri.


Dering telfon dari arah ponselnya membuatnya kembali menghentikan langkah kakinya. Di lihatnya nama Ayu dalam layar ponselnya.


"Ayu, ada apa ya dia telfon di jam segini?"

__ADS_1


__ADS_2